Gelombang Tinggi: Kerusakan Rumah Warga Lembasada Bertambah

- Periklanan -

HANCUR: Tampak puing-puing rumah warga yang hancur akibat hantaman ombak besar, Kamsi (16/2).

DONGGALA – Sungguh malang nasib warga dusun I dan Dusun II Desa Lembasada Kecamatan Banawa Selatan. Sudah berhari-hari pemukiman mereka menjadi sasaran amukan ombak besar. Akibatnya kerusakan pada rumah tak bisa terhindarkan.

Pantauan Radar Sulteng, Kamis (16/2) kemarin, sejumlah warga terlihat sedang mengais puing-puing bangunan mereka yang lululantah akibat diterjang ombak. Lainnya terlihat sedang membangun pondasi dengan memanfaatkan kayu bekas yang kemudian di susun menggunakan batu.

Dari belasn rumah yang terkena dampak ombak tersebut sebagian besarnya sudah mengalami kerusakan parah. Bahkan bangunan PAUD nyaris menjadi sasaran. Hanya bangunan toiletnya yang sudah tidak bisa terpakai karena sudah nyaris roboh.

- Periklanan -

Salah seorang korban, Ismail menuturkan, puncak terjadinya ombak besar tersebut terjadi dua malam beruturut-turut pada Selasa hingga Rabu (16/2) kemarin. Ombak besar mulai menghantam pemukiman pada malam hari. “Setelah magrib, ombak sudah semakin besar,” ujarnya.

Bagian dapur rumah Ismail sendiri memang telah hancur. Namun pria yang bekerja sebagai nelayan tetap tinggal di rumah meski ombak terus menghantam rumahnya. Untungnya perabotan rumahnya tak sampai terbawa ombak laut. “Memang tidak ada perabotan rumah yang terbawa, tapi dapur saya sudah roboh tanpa sisa,” ujarnya.

Ismail sendiri berharap, Pemerintah Daerah bisa memberikan perhatian kepada warga Desa Lembasada yang terkena bencana tersebut. disamping itu kata Ismail sudah dua bulan para nelayan juga tak bisa turun melaut akibat gelombang tinggi. “Sudah tidak bisa melaut, rumah kita juga hancur. Muda-mudahan ada perhatian dari pemerintah, karena kerusakan terus bertambah,” kata Ismail.

Sementara itu korban lainnya, Suardi, mengungkapkan, ombak besar yang terjadi tak bisa dihindarkan. Meski terdapat penahan ombak semetara berupa karung berisikan pasir. Menurut Suardi, untuk meminimalisir ombak menghantam rumah warga memang harus dibangun pemecah ombak di sepanjang pesisir panai tersebut. “Kalau Cuma karung berisikan pasir ini, biar ribuan tetap akan hancur juga,” ujarnya.

Suardi mengaku, memang ada pemecah ombak yang terpasang di Desa Lembasada, tetapi tak terlalu panjang, sehingga rumah warga lainnya tetap terkena ombak. Menurut Suardi, kurang lebih sekitar 300 meter memang rawan terhadap gelombang tinggi. “Mungkin jalan satu-satunya harus dibangun pemecah ombak. Panjangnya pun seperti tidak bisa hanya 300 meter. Supaya sepanjang pesisir pantai dusun I dan II ini aman,” ungkap Suardi. (ujs)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.