Gedung SMP Negeri yang Ambruk itu, Kini Sudah Megah

Mengunjungi Gedung SMPN 1 Sindue, Donggala, Sulteng, Hasil Donasi Pembaca Radar Malang

- Periklanan -

DULU HANCUR: Kondisi gedung SMPN 1 Sindue, Kabupaten Donggala, Sulteng, porak poranda setelah digoncang gempa dan kebakaran pada 20 September 2018 lalu.

- Periklanan -

Donasi pembaca Jawa Pos Radar Malang untuk korban bencana gempa Palu, Sulawesi Tengah, telah diwujudkan dalam bentuk bangunan gedung sekolah dan masjid. Sejak kemarin (27/11), wartawan Abdul Muntholib mengunjungi dua bangunan itu. Berikut ulasannya?

Mata Agus Tadolemba, S.Pd. M.Pd, Kepala SMPN 1 Sindue tampak berkaca-kaca. Bicaranya juga terbata-bata. Sepertinya ada beban yang ingin dia ungkapkan. Sesekali dia menerawang ke langit-langit saat berbicara dengan Jawa Pos Radar Malang yang menemuinya di halaman sekolah siang kemarin (27/11). ”Saya rasanya seperti mimpi lihat gedung yang sudah bagus ini. Saya tidak bisa ucapkan kata-kata lagi kecuali terima kasih yang sangat banyak kepada Radar Malang dan warga Malang Raya yang telah membantu membangun gedung sekolah kami hingga seperti ini,” ungkap Agus sembari menunjuk ruang kelas.
Ya, Agus merasa masih sulit melupakan tragedi gempa dan tsunami yang menimpa Palu, Sigi dan Donggala, 28 September 2018 lalu. Kepala sekolah yang baru dua tahun menjabat di SMPN 1 Sindue ini ingat betul bagaimana kondisi sekolahnya saat itu. Hampir semua ruangan hancur. Yang lebih parah lagi, sesaat setelah kena goyangan gempa, salah satu ruangan terbakar akibat korsleting listrik. Hampir semua peralatan sekolah, khususnya yang ada di laboratorium, hangus. ”Waktu itu saya sudah tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Saya hanya lemas melihatnya,” kenang dia.
Ketika pas kejadian, dirinya mengaku memang tidak berada di sekolah. Sebagian siswanya juga sudah pulang. Karena waktu masih sekitar pukul 16.30 WITA. Namun masih ada guru dan siswa yang berada di kelas. Dirinya dikabari ada tragedi itu dan langsung menuju sekolah. Ternyata warga sudah berkumpul di halaman sekolah untuk menyelamatkan diri. Mobil pemadam kebakaran juga sudah di sekolah. ”Masih beruntung rumah penduduk samping sekolah tidak sampai ikut terbakar,” tandas dia.
Sejak kejadian itu, 520 siswanya dia liburkan selama dua pekan. Saat itu dia belum tahu sampai kapan proses belajar mengajar dilanjutkan. Beruntung, sekolahnya ada bantuan tenda dari Basarnas dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat. ”Akhirnya selama empat bulan siswa kami belajar dalam tenda di halaman sekolah,” terang pria asli Sindue itu.
Belajar di dalam tenda berlangsung selama empat bulan. Karena sebagian besar tenda ambruk setelah terkena hujan dan angin. Sehingga siswa harus mengungsi ke kelas-kelas darurat. Yakni ruang kelas yang temboknya jebol tapi masih bisa dipakai. ”Beruntung sekali, dalam kondisi yang darurat itu, datang tawaran bantuan dana untuk membangun empat kelas dan dua ruang guru dari pembaca Radar Malang. Bahkan bantuan dari Malang ini yang pertama saya terima. Sekali lagi, Alhamdulillah, berkat bantuan warga Malang Raya melalui Radar Malang ini, siswa kami sudah tidak belajar di tenda atau kelas darurat lagi,” puji Agus.
Agus mengaku puas dengan kondisi gedung sekolah hasil kerjasama Radar Malang, DPD Apersi Jatim, PGRI Kota Malang dan PPPPTK BOE (dulu VEDC) itu. Karena tidak hanya bagus secara bentuk, tapi juga megah. Betapa tidak, bangunan berwarna dasar kuning dan kombinasi biru Arema itu didesain seperti kantor perusahan bonafide. Ada lorong lobi, dua kamar mandi minimalis plus wastafel. ”Jadi ini nanti saya khawatir kelas yang tidak ikut dibangun bagus seperti ini nanti protes ingin pindah ke kelas ini,” kelakar pria yang sudah menjaga sebagai kepala di tiga SMPN ini.
Karena proses pembangunan sudah 100 persen, dia berharap segera diresmikan. Dia juga berusaha agar Bupati Donggala Drs. Kasman Lassa SH, MH dan Wakil Bupati Donggala M. Yasin hadir dalam peresmian nanti. Keduanya diyakininya akan pangling dengan kondisi sekolah ini. Sebab bupati dan wakil bupati, keduanya merupakan alumni SMPN 1 Sindue juga. ”Kalau beliau berdua sekolah di sini saya lupa tahunnya. Yang jelas keduanya alumnus,” kata Agus bangga.
Sementara terkait proses penggarapan gedung ini, menurut Ir. Hari Tarno, selaku pengawas dari kampus PPPPTK BOE Malang sudah finishing. Secara teknis penggarapan bangunan seluas 530 meter persegi itu dia nilai selesai. Hanya tinggal pembersihan saja sebelum diresmikan. ”Pembangunan ini tergolong sangat cepat. Mulai kerja 23 Juli, dan 18 November sudah tuntas,” ungkap Hari.
Bahkan, imbuh Hari, dari hasil analisa detail, pengarapan pembangunan ini melebihi target. Ada sejumlah pekerjaan yang tidak masuk dalam rencana awal akhirnya dikerjakan juga karena kondisi tertentu. ”Praktis ada kelebihan pekerjaan sebanyak 15 persen. Tapi itu tidak ada masalah karena ini adalah proyek bantuan sosial,” tandas dosen PPPPTK BOE asal Ponorogo ini. (*)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.