Ganjar dan Siswa SD Donggala Sembunyi di Kolong Meja

Latihan Tanggap Bencana Usai Peresmian

- Periklanan -

DONGGALA – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengajak puluhan siswa SDN 20 Tondo Sirenja Donggala berlatih tanggap bencana. Ganjar nampak memberi beberapa penjelasan dan aba-aba sebelum mengajak mereka untuk bersembunyi di kolong meja.

Ganjar meresmikan SDN 20 Tondo Sirenja Donggala, Rabu (18/9) yang merupakan bantuan warga Jawa Tengah yang bekerjasama dengan Keluarga Alumni UGM dan Fakultas Teknik Sipil UGM. Ada enam kelas yang dibangun dan dilengkapi ruang kantor, laboratorium, musholla dan toilet.

Ganjar mengatakan seluruh struktur bangunan SD tersebut sekaligus perabotan kelasnya dirancang untuk tahan gempa sekaligus. Usai meresmikan, Ganjar langsung mengajak puluhan siswa untuk latihan tanggap bencana dengan mempraktekkan langsung pemanfaatan perabotan kelas.

“Kalau sudah terasa goyang-goyang buminya, mejanya ini bisa digeser membentuk lingkaran. Kamu yang tengah bisa geser dan langsung masuk ke kolong dan yang ujung juga demikian, geser langsung bersembunyi,” kata Ganjar.

- Periklanan -

Setiap meja memang didesain berbentuk segi tiga dengan kaki-kaki baja. Dengan sebuah formasi, ketika digeser gabungan tatanan meja tersebut akan membentuk lingkaran. Begitu mendengar instruksi Ganjar itu, beberapa anak masih nampak kebingungan untuk menyusun sampai membentuk lingkaran sempurna. “Ini kalau sudah membentuk lingkaran sempurna akan mampu menahan beban 200 kilogram lebih. Jadi bisa buat langkah pertama penyelamatan saat gempa,” katanya.

Namun setelah melihat siswa-siswi yang belum paham betul cara menggunakan meja tahan gempa tersebut Ganjar mengatakan mesti ada pelatihan. Paling tidak, kata Ganjar, pelatihan kebencanaan diadakan satu tahun dua kali. “Tadi saya sudah bilang ke kepala sekolah bikin pelatihan, jangan banyak-banyak minimal satu tahun dua kali saja biar anak-anak paham apa yang mesti dilakukan saat bencana,” katanya.

Selain itu juga mesti ada jalur evakuasi yang harus disiapkan. Untuk warga atau wali murid yang hadir dalam peresmian sekolah tersebut, Ganjar mengatakan setiap instruksi kebencanaan dari pemerintah mesti dipatuhi. “Pengurangan risiko bencana harus dilakukan bersama-sama. Untuk warga, kalau misalnya ada peringatan dari pemerintah “jangan tinggal di sini ya” saya berharap jawaban iya,” katanya.

Sementara, lanjut Ganjar, BNPB atau BPBD bisa memberi pelatihan, yang dari fakultas teknis atau ilmuwan menyiapkan desain bangunan tahan bencana, recovery mental atau trauma healing. “Seperti kemarin, orang tidak ada yang tahu likuifaksi, begitu ada kejadian semua tahu dan saya rasa kita akan lebih sadar untuk gerakan ini,” katanya. (agg)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.