Gaji Tak Dibayar, Buruh Proyek Asrama Haji Mogok

- Periklanan -

Tulisan buruh yang mempertanyakan kapan gaji mereka dibayarkan, Kamis (7/12). (Foto: Safrudin)

PALU-Belum tuntas masalah pasti tidaknya realisasi embarkasi antara tahun 2018, buruh yang mengerjakan pembangunan asrama haji, sudah mogok kerja duluan disebabkan upah yang belum terbayar.

Belum dibayarnya upah pekerja ini bervariasi, ada yang belum terbayar selama satu bulan, ada yang dua bulan, bahkan ada yang mengaku sudah tiga bulan bekerja namun belum dibayar. Pantauan Radar Sulteng, di lokasi pekerjaan proyek itu, tampak sudah tidak ada aktivitas buruh yang bekerja. Para buruh tampak hanya duduk di luar asrama haji.

Para buruh juga terlihat menulis dinding di bagian luar tembok asrama haji yang bertuliskan ‘KAPAN GAJIAN BOS’. Tidak hanya itu, di dalam lokasi proyek juga terlihat tulisan senada yakni ‘KAPAN GAJIAN BELUM TENTU’. Hal ini merupakan bentuk protes buruh yang sudah bekerja siang dan malam namun tidak dibayarkan upahnya.

“Upahnya kita, Rp 120 ribu kerja siang, dan Rp 120 ribu juga malam karena lembur,” kata Tawar, salah satu buruh, yang ditemui media ini, Kamis (7/12).

Tawar yang merupakan buruh asal Jawa ini mengaku pesimis upahnya akan terbayar. Pasalnya tidak ada lagi mandor yang menetap di lokasi proyek sejak beberapa hari terakhir.

Makanya dia berharap, pihak yang berwenang bisa membantu para buruh yang sudah bekerja tersebut namun belum dibayarkan.

“Kita ini gak tau mau mengadu kemana. Semogalah ada yang membantu agar upah kami dibayar. Kan kasian anak istri taunya di sini kerja, tapi Rp 100 ribu pun tidak ada yang dikirim ke kampung halaman,” katanya lagi.

Selain pekerja asal Jawa, ada pula pekerja asal Bulukumba, Sulawesi Selatan yang mengerjakan pembangunan asrama haji tersebut.

Aldi salah satunya. Pria ini mengatakan, sejak beberapa hari lalu, para buruh selalu hanya dijanji oleh mandor. Namun setiap tiba waktu yang dijanjikan, mandor tersebut selalu berdalih dengan berbagai alasan.

“Sudah berapa kali dijanji-janji terus,” ucapnya.

Pun demikian dengan Asri, buruh asal Bulukumba ini juga kecewa dengan mandor yang belum membayarkan upah mereka. Apalagi lanjutnya, mandor pertama yang bernama Eliyas, sudah kembali ke kampung halamannya. Sedangkan mandor yang ke dua, Tola, tidak pernah lagi muncul ke lokasi proyek sejak para buruh mendesak untuk segera dibayarkan upahnya.

“Tidak ada lagi mandornya. Yang ada sekarang sisa kepala tukang di dalam, Pak Jafar,” katanya.

- Periklanan -

Sementara itu, Jafar ditemui media ini membenarkan upah para buruh yang belum dibayarkan. Dia juga mengaku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Karena kata dia, mandor yang sekarang yakni Tola sudah tidak datang lagi ke lokasi proyek dan hanya mau dihubungi via telefon atau whatsapp.

“Sudah ada lain yang pulang, itu yang sudah pulang 50 orang, ada juga yang belum dibayarkan, total sisanya yang belum dibayar sekitar Rp 60 juta. Sedangkan yang sekarang, total gaji hampir Rp 180 juta. Yang diterima baru Rp 45 juta, ada juga lalu diberi panjar, totalnya Rp 61 juta. Jadi sisanya Rp 120 an juta lagi,” ucapnya.

Rp 45 juta itu kata dia, masih berada di tangannya. Dia belum bisa membayarkan kepada para buruh yang berjumlah lebih dari 30 orang. Karena lanjutnya, masing-masing meminta dibayarkan upahnya sekitar Rp 3 jutaan. Sedangkan uang tersebut kata dia, jika dibagi seperti itu, maka tidak mencukupi.

“Tadi malam, orang sudah berkelahi karena mau bagi uang ini. Semua mau dibayarkan, tapi uangnya tidak cukup. Jadi sampai sekarang uang itu, ada sama saya dan belum saya bayarkan,” sebut Jafar.

Dikonfirmasi via telefon, Tola, mengaku tidak bertanggung jawab atas belum dibayarkannya upah para buruh. Dia menegaskan bahwa uang gaji para buruh itu tidak berada padanya. Bahkan dia menyebutkan bahwa uang tersebut berada pada mandor sebelumnya yakni Eliyas.

“Yang nomor satu disitu kan Eliyas. Dia yang pegang uang karena dia yang bertanggung jawab. Kalau saya tidak ada pegang itu uang,” ucapnya.

Tidak munculnya dia di lokasi proyek, lanjut Tola, bukan karena dia lari dari tuntutan buruh yang meminta gaji. Hanya saja lanjutnya uang tersebut memang tidak berada padanya, sedangkan para buruh lanjutnya, memaksakan untuk meminta uang gaji darinya.

“Yang bertanggung jawab itu kan Eliyas. Bukan saya yang bertanggung jawab disitu,” sebutnya.

Sedangkan Eliyas, menurut informasi, sudah kembali ke kampung halamannya sejak beberapa hari terakhir dan membawa seluruh buruh yang dibawanya untuk mengerjakan asrama haji.

Terpisah, Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah, H Gasim Yamani ditemui di ruang kerjanya, kemarin (7/12) menegaskan bahwa dia tidak berkompeten untuk menjelaskan hal tersebut.

“Ini bukan kompetensi saya. Apalagi sudah mengenai gaji. Hanya kebetulan yang dikerjakan itu, asrama haji, jadi melekat di bidang haji. Tapi sudah ada PPK (pejabat pembuat komitmen) nya. Yang lebih tahu itu, PPK nya,” sebut Gasim.

Namun kata Gasim, PPK yakni Nur Anggraeni sedang berada di Jakarta untuk melakukan pertemuan membahas mengenai pembangunan asrama haji tersebut.

“Besok (hari ini, RED) kemungkinan sudah datang Ibu Nur PPK nya itu. Tanyakan sama dia, kalau sama dia, tahu semua itu,” pungkasnya. (saf)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.