alexametrics Filipina Negara Tetangga Sulawesi, Diskursus Hubungan Bilateral dan Impilkasinya – RADAR SULTENG
Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Filipina Negara Tetangga Sulawesi, Diskursus Hubungan Bilateral dan Impilkasinya

Oleh: Mochtar Marhum *)

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

FILIPINA adalah negara ASEAN yang paling dekat dari wilayah pulau Sulawesi. Wilayah Filipina Selatan pulau terluar dan lautannya berbatasan langsung dengan wilayah lautan dan pulau terluar pulau Sulawesi termasuk wilayah Kabupaten Tolitoli dan Kabupaten Buol di Provinsi Sulawesi Tengah serta Kabupaten Sangihe Talaud di Provinsi Sulawesi Utara.

Sejak dulu orang tua dan tokoh-tokoh masyarakat di Tolitoli sering menceritakan kepada generasi muda, anak-anak mereka tentang hubungan kekerabatan dan persahabatan dengan masyarakat Filipina Selatan yang kebetulan punya populasi terbesar Muslim.

Namun, ada juga cerita negatif tentang kejahatan perompak atau bajak laut suku Mangindanau dari Filipina Selatan yang sering memasuki wilayah Tolitoli Utara seperti di Desa Binontoan dan Lakuan. Bajak Laut Filipina dulu juga sering datang dengan perahu mereka menggunakan senjata api merampok masyarakat yang tinggal di pesisir pantai Binontoan dan Lakuan.

Di Binontoan Tolitoli Utara dulu ada kampung Bugis di dekat pantai tapi kini telah tenggelam dan kampung Bugis itu telah hilang akibat naiknya permukaan laut, dampak dari pemanasan global (Global Warming).

Di kampung Bugis ini ibu saya dan saudara-saudaranya dibesarkan oleh kakek Haji saya yang berasal dari tanah Bugis merantau ke Tolitoli, tepatnya dari Segeri Mandale Pangkep Sulawesi Selatan.

Ibu saya dan paman dari pihak ibu saya sering menceritakan kejadian mendaratnya perahu motor pelaut-pelaut Filipina Selatan. Dan akhirnya masyarakat Kampung Bugis banyak yang mengungsi jauh dari tepi pantai Binontoan karena takut sewaktu-waktu diserang dan dirampok bajak laut asal Filipina yang menggunakan senjata api.

Sejak dulu masyarakat Indonesia telah menjalin kerjasama kemaritiman, hubungan dagang, pertukaran budaya dan syiar agama. Hubungan kekerabatan antara Indonesia ketika masih berstatus Nusantara dengan Filipina cukup romantis.

Kedekatan secara Geopolitik antara Indonesia dan Filipina menimbulkan sejumlah wacana kerjasama bilateral dan Multilateral.

Sekitar pertengah tahun 1980-an, almarhum bapak Haji Rusdi Toana, akademisi Univeritas Tadulako (Untad), politisi, tokoh agama dan tokoh Sulawesi Tengah pernah menggagas hubungan kerjasama maritim dan perdagangan antara Filipina, Malaysia dan Tolitoli disingkat Tolitoli, Sandakan dan Mindanao disingkat dengan akronim Tosamin yatu Tolitoli (Indonesian Timur, Sulawesi Tengah), Sandakan (Malaysia Timur) dan Mindanao (Filipina Selatan). Gagasan cerdas dan visioner ini pernah diseminarkan dan dibuatkan rekomendasi, lalu diteruskan ke Pemerintah Pusat tapi sayangnya belum ditindak lanjuti sampai sekarang.

Kemudian, sekitar akhir tahun 1990-an, Dr. Drs. H. Ma’ruf Bantilan, MM, mantan Bupati Tolitoli juga pernah menindaklanjuti gagasan dan wacana kerjasama Tosamin tapi sayangnya baru sebatas promosi dan publikasi dalam tulisan di media maisntream. Gagasan cerdas nan bijak ini, lagi-lagi belum punya follow up dan implementasi nyata hingga jelang diberlakukannya Kebijakan Masarakat Ekonomi ASEAN dan Pasar Bebas Asinq

Mungkin masyarakat Indonesia belum banyak yang kenal dengan Filipina, negara multi kultur dan multi etnis,  penutur bahasa Tagalog sebagai bahasa Nasional dan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua tapi sangat kental dialek, logal dan aksen bahasa Spanyol karena pernah jadi koloni kerajaan Spanyol sebelum menjadi koloni Amerika.

Negara ASEAN ini juga merupakan salah satu negara yang memiliki populasi umat Katolik terbesar di dunia. Namun, di beberapa wilayah bagian Selatan seperti pulau Mindanao yang merupakan pulau terbesar kedua di Filipina memiliki populasi Muslim terbesar.

Di Indonesia sebagian masyarakat pencinta unggas dan penghobi ayam adu juga mengenal Filipina karena salah satu jenis ayam sabung atau ayam adu berasal dari Filipina, dikenal sebagai ayam Filipina.

Di Indonesia dua penyanyi legendaris asal Filipina yaitu Merribet yang terkenal dengan tembang lawasnya Denpasar Moon yang video clipnya dishooting di Denpasar dan sempat hits di tahun 1995 pas saya lagi mengikuti kegiatan workshop sebulan di Bali.

Victor Wood penyanyi kondang asal Filipina yang juga seorang mantan politisi sempat populer di Indonesia, karena pernah berkolaborasi dengan penyanyi senior asal Indonesia seperti Arie Koesmiran. Dan di Era milinial penyanyi Filipina yang sempat beken dan juga pernah berkolaborasi penyanyi Indonesia. Christian Bautista sukses berduet dengan Delon.

Masyarakat Indonesia juga sempat dihebohkan dengan tragedi pembantaian Maguindanao atau dikenal dengan pembantaian Ampatuan terjadi tanggal 23 November 2009 di kota Ampatuan, Provinsi Maguindanao di Pulau Mindanao, Filipina. Sebanyak 58 orang dihadang dan dibantai saat hendak mendaftarkan dokumen pencalonan Esmael Mangudadatu, Wakil Wali Kota Buluan.

Mangudadatu adalah pesaing Wali Kota Datu Unsay Andal Ampatuan, Jr, putra petahana Gubernur Maguindanao Andal Ampatuan, Sr, sekaligus anggota salah satu klan politik Muslim terbesar di Mindanao, dalam pemilu Gubernur Maguindanao 2010.

Mereka yang jadi korban pembantain yang sangat tragis itu termasuk istri Mangundadatu, dua adiknya, sejumlah wartawan yang akan meliput, pengacara, ajudan, dan penumpang mobil menyaksikan penculikan. Para pelaku pembantaian politik klan dan politik identitas teganya membunuh semua orang yang mengikuti konvoi kendaraan. Mobil mereka dihadang di tempat yang sunyi dan jauh dari pemukiman.
Konflik dan tragedi lainnya yang sempat menjadi sorotan warga Indonesia dan masyarakat dunia adalah gerakan separatis atau lebih dikenal dengan gerakan pembebasan bangsa Moro Filipina Selatan yang dipimpin oleh Nur Misuari seorang mantan akademisi, revolusioner, politikus, pendiri dan mantan pemimpin Front Pembebasan Nasional Moro.

Dan yang paling anyer adalah berita serangan gereja Katolik di Pulau Jolo hari Jumat 1 Februari 2019 setelah militer memastikan bahwa pengebom bunuh diri yang merupakan “pasangan” menyerang gereja dan menyebabkan 22 orang meninggal, dan 100 lainnya luka-luka. Hasil investigasi dan hasil cross check, juga verifikasi, menyebutkan bahwa pelaku bom bunuh diri berstatus suami istri asal Indonesia.

Pemberitaan dan jejak digitalnya juga masih bisa ditemukan disejumlah portal dan link berita online di berbagai media mainstream.

Hal lain yang menjadi topik berita adalah kasus serangan militer terbesar dalam sejarah yaitu penumpasan ISIS di Kota Marawi Filipina.

Kota yang tadinya merupakan salah satu kota terbesar dan sangat indah, dengan gedung yang besar dan pemukiman yang luas dan apik di Filipina Selatan sebelum masuknya komplotan ISIS dan memdeklarasikan Kota Marawi menjadi pusat ISIS di Asia Tenggara.

Pasca dideklarasikan ISIS Asia Tenggara di Kota Marawi, kota itu diperangi selama kurang lebih 5 bulan dan akhirnya tentara Filipina memguasai kembali Kota Marawi. ISIS di Kota Marawi dipimpin oleh Isnilon Hapilon dan Umar Maute yang pernah tinggal di Indonesia dan menikah dengan wanita Indonesia.

Kasus lain yang menjadi trend di Indonesia adalah kasus penculikan nelayan dan ABK asal Indonesia yang bekerja di perusahaan asing oleh kelompok pemberontak Abu Sayaaf yang belum lama ini melakukan penculikan kembali terhadap Warga Negara Indonesia (WNI). Usai pemerintah berhasil menyelamatkan tiga nelayan, kini delapan WNI yang dikabarkan hilang Kamis diberitakan pada hari Kamis tanggal 16 Januari 2020 di perairan Tambisan, Sabah, lima awak kapal diantaranya terkonfirmasi diculik.

Pemungutan suara untuk memilih Presiden baru di Filipina dilaksanakan pada hari Senin tanggal 9 Mei 2022.  Menurut sejumlah analis politik momen tersebut menjadi pemilihan paling penting dalam sejarah demokrasi di Asia Tenggara.

Pemilihan Presiden (Pilpres) berjalan hanya satu putaran, sehingga nama calon Presiden dan Wakil Presiden terpilih bisa diketahui beberapa jam kemudian. Pelantikan akan dilakukan pada bulan Juni 2022.

Tercatat yang bersaing di Kontestasi Piplres Filipina tahun 2022 ada 10 orang kandidat. Mereka semua bertekad maju dalam Pilpres tetapi sayang hanya dua pasangan yang masuk nominasi dan berpeluang ikut menuju tahapan akhir kontestasi pemungutan suara di Pilpres.

Calon presiden Ferdinand Marcos Jr (Junior), yang dikenal sebagai “Bongbong Marcos”, putra kedua mantan Presiden Ferdinan Marcos Senior yang kini berusia 64 tahun. Marcos Junior (Jr.) juga adalah mantan Gubernur Provinsi Ilocos Norte tahun 1998-2007 dan mantan Senator tahun 2010-2016.

Dalam Pilpres lalu Bombong berpasangan dengan Putri Presiden Filipina Rodrigo Duterte, Sara Duterte-Carpio berusia 43 tahun, mencalonkan diri sebagai kandidat Wakil Presiden dalam pemilu 2022, Sara Duterte-Carpio saat itu adalah Wali Kota Davao City di Filipina Selatan.

Pasangan Pilpres yang jadi rival Bombong dan Sara adalah Leni Robredo, Wakil Presiden saat ini dan ketua oposisi. Capres ini adalah seorang mantan pengacara HAM dan ekonom berusia 57 tahun. Dia merupakan satu-satunya kandidat perempuan dari 10 calon Presiden Filipina.

Dia selalu mengklaim bahwa dirinya berjanji akan menciptakan pemerintahan yang lebih akuntabel dan transparan, dan dia juga bertekad menghidupkan demokrasi.

Sebenarnya karir politik Leni Robredo dianggap baru seumur jagung pada tahun 2016 silam ketika dia sempat mengalahkan Ferdinand Marcos Junior. Dan tahun ini kebetulan jadi saingannya di Pilpres. Kini Robredo berharap mengulang kesuksesan yang sama dalam Pilpres 9 Mei tapi harapan itu pupus sudah.

Pasangan Capresnya Robredo adalah Francis Pangilinan seorang Senator berusia 58 tahun, pengacara dan politisi Partai Liberal Filipina. Dia juga seorang pengusaha di bidang pertanian. Francis sudah pernah menjabat sebagai Senator sejak tahun 2001-2013 dan kemudian 2016 sampai saat ini mendaftar sebagai Capres Filipina.

Hasil Pilpres menunjukkan pasangan Marcos Junior (Bombong) meraih 31 juta suara, sedangkan saingannya pasangan Leni Robredo memperoleh 14 juta suara.

Marcos Jr meraih dua kali lipat dari suara yang diraih Leni Robredo, Wakil Presiden petahana negara itu, dengan catatan 93,8 persen dari surat suara yang memenuhi syarat dihitung, menurut penghitungan belum resmi ketika itu oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Flipina yang disingkat Comelec.

Kemenangan Marcos Junior di Pilpres Filipina yang akan dilantik bulan depan mengejutkan banyak pihak.

Hasil perolehan suara yang sangat signifikan diragukan akan mengembalikan trah Marcos ke istana Malacanang setelah berhasil memulihkan kembali nama mendiang ayahnya Presiden Marcos Senior, yang dijatuhkan oleh rakyat Filipina melalui gerakan people power tahun 1986.

Marcos Junior dikhawatirkan akan membangun kembali dinasti politik yang sebagian masyarakat Filipina pernah merasa trauma dan juga pernah kecewa dengan gaya kepemimpinan mendiang ayahnya.

Sejumlah kalangan juga mengkhawatirkan bahwa kemungkinan Bombong akan seperti mendiang ayahnya yang pernah berkuasa dengan tangan besi dan pernah menyalahgunakan kekuasaan (Power Abuse).

Kemenangan trah Marcos dalam Pilpres pada 9 Mei lalu, menjadi topik hangat dan laris manis dibahas di berbagai flatform media sosial dan diangkat sebagai headline berita di sejumlah media mainstream luar negeri dan di tanah air.

Sejumlah analis politik dan aktivis HAM menyoroti kemenangan pasangan Bombong dan Sara. Duet maut anak Presiden dan anak mantan presiden Filipina yang kedua oran tuanya dianggap penguasa tangan besi yang sangat refresif dan dcap sebagai penguasa pelanggar HAM menjadi pemenang.

Banyak menduga kemenangan pasangan Bombong dan Sara tidak lepas dari pengaruh kekuasaan kedua orang tua mereka. Marcos dikenal punya pengaruh kuat di wilayah Provinsi Ilacos Norte di bagian Utara Filipina dan Presiden Duterte punya pengaruh kuat di provinsi wilayah Selatan Filipina Pulau Mindanau.

Peranan media sosial seperti TikTok, WA, Instagram, Twitter, Fb dan Channel Youtube ikut mendukung dan sangat signifikan. Pemilih juga banyak dari kalangan generasi milineal yang dikenal penggemar media sosial dan sering dijuluki generasi TikTok.

Tim sukses dan pendukung Marcos Junior dan Sara Duterte berhasil membuat propaganda politik dan mampu memengaruhi generasi milineal dengan konten-konten flatform media sosial yang sudah diframing untuk menutup kekurangan trah Marcos dan trah Duterte dan selanjutnya mereka juga berhasil mengangkat serta mempromosikan hal-hal yang baik dari trah penguasa Filipina ini.

Disinformasi berita termasuk menyebarkan berita bohong liwat media sosial juga terus dilakukan. Mereka belajar dari strategi yang pernah digunakan oleh mentri Propaganda Rezim Hitler yaitu kebohongan yang terus diulang ulang lama kelamaan bisa dianggap menjadi suatu kebenaran.

Mereka juga melakukan framing content berita dan video dan berhasila memutarbalikkan fakta sehingga membuat general Z atau dikenal generasi milinial berhasil terbius dan menjatuhkan dukungan dan pilihannya pada pasangan Bombong Marcos dan Sara Duterte.

Generasi milinial jumlahnya sangat signifikan. Pada umumnya mereka belum lahir ketika Marcos berkuasa sehingga tentu mereka tidak menyaksikan dan merasakan langsung zaman kediktatoran Presiden Marcos.

Sejumlah diplomat dan akademisi yang punya hubungan diplomatik dan hubungan akademik dengan Filipina juga menilai bahwa salah satu faktor kemenangan pasangan putra putri penguasa Filipina tersebut karena masih ada banyak rakyat yang merasa kecewa dengan kepemimpinan Qorazon Aquino yang diangkat jadi Presiden menggantikan Presiden Marcos pasca people power.

*) Staf pengajar di FKIP Universitas Tadulako, alumni Universitas Tadulako dan Flinders University Australia, juga pegiat media social aktif.

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.