Fenomena Free Sex di Palu, Ada Siswa Setingkat SMP Kelas I

- Periklanan -

Masuddin Radjamaulu

PALU – Fenomena gadis “ayam” atau Om bala-bala atau yang dulunya dikenal dengan nama Cewe Kenk-Kenk, atau di kota-kota besar dikenal dengan nama Cewe Cabe-Cabean, di Kota Palu seakan-akan sudah menjadi rahasia umum. Artinya, praktiknya masih terselubung, namun dianggap sudah lumrah adanya.

Peneliti sekaligus motivator masalah-masalah remaja, Masuddin Radjamaulu, SKM MKes, mengatakan fenomena gadis “ayam” di kampus-kampus merupakan sesuatu yang harus diakui ada. Termasuk di kampus-kampus yang berbasis pendidikan keagamaan.

“Saya tidak mengada-ada, tetapi saya berani beberkan fakta karena saya pernah meneliti. Bukan hanya di kampus berbasis pendidikan agama, di kampus lain juga banyak praktik-praktik prostitusi yang dilakukan gadis yang juga berstatus mahasiswa,”kata Masudin kepada media ini, Rabu (11/1).

Bahkan, informasi terbaru yang didapatkan Masudin, bahwa ada anak yang masih duduk di bangku sekolah berbasis keagamaan setingkat SMP, yang ternyata sudah terjerumus ke dunia hitam. Secara langsung, Masudin mengaku sudah bertatap muka dengan anak tersebut, serta mau mengungkapkan kenapa dia sampai terjerumus.

“Semua dari pergaulan dan lingkungan. Anak ini, kami ketahui bagaimana kehidupannya, dari pengakuannya. Dia tertangkap bersama satu anak gadis lainnya, serta beberapa lelaki ketika melakukan pesta Narkoba, sekaligus saat itu melakukan pesta seks atau orgy,”kata Masudin, yang menutup rapat-rapat identitas serta asal sekolah anak tersebut. “Aduh maaf, ini sudah menyangkut etika, saya tidak bisa beberkan (identitasnya),”tambahnya.

Umumnya kata Masudin, remaja yang terjerumus, khususnya mahasiswa, awalnya tidak memiliki niat untuk melakukan praktik prostitusi atau menjadi gadis simpanan. Namun situasi serta rayuan, ditambah pengaruh teman, sehingga terjerumuslah para remaja ke dunia hitam.

Situasi yang dimaksud, umumnya para pelaku sex bebas tersebut, adalah gadis yang sudah terlalu jauh pergaulannya dengan sang pacar. Dengan kata lain, banyak yang sudah terenggut kehormatannya oleh sang pacar.

“Dengan kondisi seperti itu, lalu datang tawaran dari mereka yang berduit, maka mereka berpikir, sudah terlanjur basah, yah mandi aja sekalian. Lagipula apa bedanya berhubungan intim dengan pacar, dengan lelaki lain, walaupun usianya sudah tua. Belum lagi rayuan imbalan yang bakal mereka dapatkan,”beber Masudin.

Kasus anak setingkat SMP yang dia dapatkan baru-baru ini, Masudin berharap bahwa informasi itu hanya kasuistis, bukan fenomena gunung es. Artinya bahwa, hanya beberapa persen saja pelajar yang sudah terlanjur terjerumus. Bukan malah sebaliknya, kasus yang mencuat ke permukaan, hanya sebagian kecilnya saja dari sekian banyak kasus yang belum terungkap.

Kata Masudin yang juga Pembantu Direktur III Poltekkes Kemenkes Palu, faktor lingkungan, serta kurangnya pengawasan orangtua, menjadi penyebab banyaknya remaja yang bergaul secara tidak sehat. Apalagi dengan hadirnya berbagai teknologi informasi saat ini, makin memudahkan remaja mengakses konten-konten negatif.

- Periklanan -

Beberapa tahun lalu, Masudin sempat melakukan penelitian tentang fenomena free sex di kalangan remaja. Baik siswa maupun mahasiswa. Hasilnya, mencengangkan bahwa banyak fakta yang terungkap dalam laporan penelitiannya, yang menyebutkan siswa telah mengenal arti hubungan intim, bahkan mengaku sudah mempraktikannya sejak usia di awal-awal masa pendidikan setingkat SMP.

Abdul Hanif, jurnalis yang pernah melakukan investigasi terkait praktik prostitusi di kalangan remaja, khususnya pelajar hampir satu dasawarsa yang silam, mengaku bahwa fenomena om bala-bala, merupakan fenomena yang sudah lama terjadi.

“Apa yang terungkap saat ini, seperti itu pula hasil investigasi yang pernah saya lakukan hampir 10 tahun silam. Saya bahkan mendapatkan, ada dua gadis yang berasal dari sekolah berbasis agama, yang sudah menganggap biasa dengan pergaulan yang liar,”kata Hanif.

Menurut Hanif, dengan waktu investigas kurang dari sebulan, banyak informasi miris yang dia peroleh, terkait fenomena pelajar yang juga pelacur tersebut. Penyebab pelajar mau menjual dirinya, karena berbagai macam alasan. Persoalan ekonomi, tidak lagi menjadi alasan utama. Bahkan ada yang rela menjual dirinya, karena tuntutan gaya hidup.

“Mau hidup mewah, lalu latarbelakang ekonomi keluarganya tidak memungkinkan, maka jalan pintasnya adalah menjadi gadis simpanan om-om tajir,”kata dia.

Saat melakukan investigasi lalu, Hanif mengaku langsung mendatangi beberapa sekolah favorit. Baik swasta maupun negeri. Tidak butuh waktu lama, langsung mendapatkan informasi mengenai keberadaan cewek-cewek yang saat itu, masih dikenal dengan istlah Kenk-Kenk.

“Ketika itu, hasil investigasi saya, sempat menjadi polemik. Hasil temuan lapangan saya itu, banyak yang meragukan. Bahkan dalam suatu dialog di salah satu radio, ada yang menantang saya untuk membuka identitas pelajar yang menjadi informan. Saya bahkan dituding, sengaja mendiskreditkan pelajar. Saya hanya bilang, bahwa profesi saya jadi taruhannya. Ternyata apa yang menjadi hasil investigasi saya 10 tahun lalu, kembali dibuktikan oleh teman-teman saat ini,”kata Hanif, yang dalam tesisnya, meneliti tentang HIV-AIDS di Kota Palu.

Hampir sama dengan hasil penelitian yang dilakukan Masudin, menurutnya, banyak gadis yang melakukan praktik hitam tersebut, karena merasa telanjur “rusak”, akibat kehormatannya telah direnggut. Dengan kondisi yang sudah tidak perawan lagi, lalu kemudian ada godaan dari pria berduit, ditambah kondisi lingkungan yang mendukung, maka terjerumuslah anak gadis tersebut menjadi pelacur.

“Sudah tidak menjadi jaminan, bahwa remaja yang sekolah atau kuliah di kampus berbasis agama, bakal tidak terjerumus. Apalagi model pendidikan saat ini, yang cenderung mengejar prestasi akademik, lalu kemudian terkesan meninggalkan penanaman nilai-nilai agama, sebagai benteng moral. Sementara di sisi lain, ketika ada sekolah yang cenderung agak ekstrim dalam penanaman nilai agama, langsung dituding teroris,”katanya.

Solusi terhadap masalah ini, bukan sepenuhnya berada di tangan pemerintah. Tetapi lebih menjadi tanggung jawab keluarga. Orangtua yang terlalu sibuk, lalu kemudian menyerahkan tanggung jawab pembentukan karakter anak ke sekolah, tidak jarang menjadi penyebab remaja terjerumus ke pergaulan liar. Apalagi dalam lingkungan keluarga, tidak ada keteladanan.

“Apalagi ketika ada anak mulai gabung dengan organisasi dakwah, banyak orang tua justru ketakutan anaknya bakal jadi teroris. Padahal dari beberapa survey yang sempat saya lakukan, ketika remaja bergabung dalam organisasi dakwah dan aktif, insya Allah, akhlaqnya terjaga. Karena dia tergabung dalam lingkungan yang sehat. Asal jangan salah memilih organisasi, sebab ada juga yang identitasnya kelihatan sebagai organisasi dakwah, tapi ternyata sesat karena justru menganjurkan aktivisnya untuk nikah kontrak,”demikian Hanif.(fdl)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.