Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Fatayat NU Sulteng Gelar Program HAR 2021

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

SIGI-Pemberdayaan masyarakat local menjadi hal penting dalam program Humanitarian And Resilience (HAR) Fatayat NU bersama YAPPIKA-Action Aid, sebab masyarakat local menjadi ruh dari sebuah program kemanusiaan. Fatayat NU sebagai organisasi social kemasyarakatan berkomitmen menempatkan masyarakat local khususnya perempuan sebagai elemen bangsa yang harus dilibatkan bahkan harus menjadi bagian penting dalam membangun sistem Pemerintahan Desa yang berkeadilan gender dan mewujudkan perlindungan Perempuan dan Anak yang dimulai dari tingkat Desa.

Maka peningkatan kapasitas sumber daya perempuan harus menjadi prioritas sebagaimana salah satu outcome yang diharapkan dapat diwujudkan melalui program HAR, yakni “Terbangunnya sistem perlindungan bagi Remaja Perempuan berbasis komunitas yang dipimpin oleh Perempuan”.

Program HAR Fatayat NU bersama YAPPIKA-Action Aid diharapkan membawa perubahan yang signifikan bagi komunitas yang menjadi sasaran program, yakni remaja perempuan di Desa Lende Tovea dan Desa Beka, melalui proses yang terkadang akan dipertemukan dengan berbagai tantangan baik faktor internal maupun faktor eksternal.

Salah satu faktor eksternal yang hingga bulan keempat masih ada yakni pemberlakuan PPKM Mikro Level 3 di Sulawesi Tengah (Sulteng) akibat pandemi Covid-19 yang mana mulai 21 September sampai dengan 4 Oktober, yang sebelumnya telah diberlakukan PPKM Mikro Level 4, secara langsung berdampak pada jadwal kegiatan yang sudah ditetapkan demi menjaga keselamatan semua pihak, baik internal tim Fatayat NU maupun komunitas sebagai penerima manfaat program.

Seiring dengan terjadi penurunan status PPKM Mikro ke Level 3 di Sulteng, maka jadwal kegiatan Fatayat NU kembali dijalankan melalui tatap muka di dua Desa yang menjadi sasaran program Fatayat NU dengan tetap menjalankan protokol kesehatan (Prokes) secara ketat, demi menjaga keselamatan semua pihak.

Komitmen Fatayat NU untuk tetap menjalankan program kemanusiaan menumbuhkan energi positif berupa keyakinan bahwa dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan, motivasi tersebutlah yang akhirnya walaupun masih di tengah pemberlakuan PPKM Level 3. Tim Fatayat NU tetap melaksanakan kegiatan di Desa Beka sebagai salah satu desa sasaran program yang awalnya masuk pada kategori zona merah yang kemudian menurun menjadi Zona Orange.

Pada Jumat 10 September 2021 melaksanakan Training Of Trainer (TOT) kepemimpinan perempuan dengan materi Keprotokoleran, Management Organisasi dan Kepemimpinan Perempuan, dilanjutkan dengan pembentukan kelompok “ Posiromu Randa Yasmin”.

Randa adalah sebutan bagi remaja perempuan, istilah dalam bahasa Kaili ledo yang digunakan mayoritas masyarakat Beka. Kegiatan TOT dan pembentukan kelompok Posiromu Randa dilaksanakan di Pondok An-Nisa Yasmin Desa Beka, dipandu dua orang fasilitator Zulfiah PM Fatayat NU, dan Dwi PO. Protection. Alhamdulillah kegiatan TOT dihadiri oleh 30 orang peserta dan pembentukan kelompok Posiromu Randa dihadiri oleh 24 orang peserta dari Dusun 1, Dusun 2, dan dari Dusun 3 yang ada di Desa Beka Kecamatan Marawola Kabupaten Sigi.

Selanjutnya kegiatan sektor Livelihood yang melaksanakan kegiatan pembentukan kelompok ekonomi hydroponic yang diikuti oleh 12 orang peserta dan pembentukan kelompok kerajinan tangan yang diikuti oleh 12 orang peserta. Semua anggota kelompok sepakat member nama Kelompok Hydroponic dengan Randa Kadiki (remaja perempuan yang lincah, dari bahasa Kaili Ledo di Desa Beka) dan kelompok kerajinan tangan peserta beri nama dengan Sampesuvu ta Pura (Keluarga kita semua, dari bahasa Kaili Ledo di Desa Beka).

Setelah melewati proses pemilihan maka peserta menentukan pilihan kepada ketua kelompok kerajinan tangan Siti Rahmawati, Sekretaris Musdalifah dan bendahara Dita. Selanjutnya penetapan Bidang dan Anggota. Begitu pula halnya dengan kelompok hydroponic yang juga melakukan proses pemilihan yang sama dan hasilnya menetapkan ketua kelompok hydroponic Olivia, Sekretaris Tania, dan Bendahara Miyal.

Masih dihari Jumat 10 September 2021, setelah pembentukan kelompok ekonomi dilanjutkan dengan pelatihan keterampilan kewirausahaan hydroponic (sayuran, cabe dan tomat) dan kerajinan tangan membuat konektor masker dan bros.

Pelatihan kewirausahaan dipandu fasilitator sesuai bidangnya. Hydroponic dipandu Hj. Alfiah, seorang ibu rumah tangga yang sudah kurang lebih dua tahun mengelola dan bercocok tanam dengan sistem hydroponic dan sudah berhasil beberapa kali panen.

“ Pengalaman beliau tersebutlah yang kemudian beliau ajarkan kepada peserta kelompok ekonomi remaja perempuan, “ ungkap Ketua Fatayat NU Sulteng, Zulfia kepada media ini.

Sementara, bidang kerajinan tangan dipandu Hj. Riya. Juga ibu rumah tangga yang memiliki usaha mandiri Toko Assesoris.

“Disamping itu beliau juga sebagai fasilitator kerajinan tangan yang sudah memiliki pengalaman mengajar dibeberapa tempat, maka Fatayat NU memandang penting mengundang Ibu Hj. Riya mengajarkan pembuatan konektor masker dan bros kepada kelompok ekonomi remaja perempuan, “ papar Zulfia.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Pondok An-Nisa Yasmin, yang dibagi di dua tempat antara hydroponic dan kerajinan tangan. Kelas Hydroponic dan kelas kerajinan tangan sebenarnya diikuti oleh masing-masing 20 orang. Namun karena 16 orang sementara mengikuti kegiatan sekolah secara daring akhirnya hanya bisa dikuti oleh masing-masing 12 orang remaja perempuan.

“Pelatihan keterampilan juga diikuti partisipan dari focal point ERR. Prosesi pelatihan di dua kelompok berlangsung sangat dinamis, peserta aktif dan bersemangat mengikuti semua materi yang diberikan hingga kegiatan berakhir. Tanpa terasa kegiatan pelatihan berakhir pukul 17.30 Wita, “ ucap Zulfia.

Selanjutnya Fatayat NU memulai kelas belajar di Desa Lende Tovea, dilaksanakan pada 12 September 2021, pukul 09.00 sampai dengan 12.30 Wita, bertempat di Kantor Desa Lende Tovea Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala. Dipandu oleh CO Lende Tovea, Rahmi.

Kelas belajar dibagi dua sesi materi, yakni Hak-hak Perempuan dalam Islam dan Thaharah. Yang bertugas sebagai Fasilitator adalah PO Protection, Dwi. Kelas belajar ini diikuti 28 orang peserta. Setelah selesai kelas belajar dilanjutkan dengan pertemuan Rando’o dan Mangubine dilaksanakan juga pada 12 September 2021, pukul 13.30 sampai dengan 15.30 Wita, bertempat di Kantor Desa Lende Tovea.

Pertemuan Rando’o dan Mangubine dipandu langsung oleh PM. Fatayat NU Zulfia. Pertemuan diikuti oleh 27 orang peserta. Rekomendasi yang disepakati bersama antara Rando’o dan Mangubine adalah sepakat melaksanakan kelas belajar sekali seminggu, dalam kelas belajar selain materi yang sudah disepakati pada saat assessment bisa diselingi dengan ceramah Agama.

Antara Rando’o dan Mangubine sepakat bahwa akan hadir dan terlibat secara langsung pada kegiatan kelas belajar bersama, materi kelas belajar ditambahkan dengan materi membaca Alquran.

“ Semua yang dilakukan secara bersama pada kelas belajar, bertujuan untuk bisa melakukan aksi bersama untuk perlindungan perempuan dan anak di Desa Lende Tovea agar perempuan dan anak mendapatkan rasa aman dan mendapatkan hak-hak untuk bisa mengembangkan potensi sebagai warga Desa, mendapatkan hak yang sama dengan lakilaki di Desa serta dapat mengakses ruang publik yang ada di Desa.

Untuk menjaga komitmen kemanusiaan yang berbasis peningkatan kapasitas masyarakat lokal, maka Fatayat NU terus melakukan upaya pemberdayaan melalui serangkaian program yang telah disusun bersama warga, serangkaian kegiatan dilaksanakan walau masih tetap dengan penerapan protokol kesehatan (Prokes) yang ketat.

Sama dengan di Desa Lende Tovea, di Desa Beka juga dilaksanakan kelas belajar yang dilaksanakan 15 September 2021, di Pondok An-Nisa Yasmin Desa Beka Kecamatan Marawola Kabupaten Sigi, dipandu oleh CO Beka, Mila. Kelas belajar dibagi dua sesi materi, yakni Hak-hak Perempuan dalam Islam dan Thaharah.

Bertugas sebagai fasilitator dua orang, yakni PM. Fatayat NU Zulfia, yang memfasilitasi materi Hak-hak Perempuan dalam Islam, PO Data dan Informasi. Sedangkan fasilitator Wati, memfasilitasi materi Thaharah.

Kelas belajar diikuti oleh 13 orang peserta. Setelah selesai kelas belajar kemudian dilanjutkan dengan pertemuan Randa dan Mombine yang dilaksanakan juga pada 15 September 2021, di Pondok An-Nisa Yasmin Desa Beka Kecamatan Marawola Kabupaten Sigi.

Pertemuan Randa dan Mombine dipandu langsung oleh PM. Fatayat NU Zulfia. Pertemuan diikuti oleh 21 orang peserta. Rekomendasi yang disepakati bersama antara Randa dan Mombine adalah sepakat melaksanakan kelas belajar sekali seminggu.

Dalam kelas belajar ini, selain materi yang sudah disepakati pada saat assesment bisa diselingi dengan materi Aqidah Akhlak dalam ceramah Agama. Antara Randa dan Mombine sepakat bahwa akan hadir dan terlibat secara langsung pada kegiatan kelas belajar bersama.

Materi kelas belajar ditambahkan dengan pendalaman materi cara berorganisasi. Semua yang dilakukan secara bersama pada kelas belajar bertujuan untuk bisa melakukan aksi bersama untuk perlindungan perempuan dan anak di Desa Beka, agar perempuan dan anak mendapatkan rasa aman dan mendapatkan hak-haknya untuk bisa mengembangkan potensi sebagai warga Desa, mendapatkan hak yang sama dengan lakilaki di Desa, serta dapat mengakses ruang publik yang ada di Desa.

Kemudian Fatayat NU melanjutkan kegiatan kelas belajar yang dilaksanakan pada Sabtu 18 September 2021, pukul 14.00 sampai dengan 17.00 Wita, di Kantor Desa Lende Tovea Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala. Kelas Belajar dipandu oleh peserta remaja perempuan, Ria, yang bertugas sebagai MC. Kegiatan kelas belajar diawali dengan sambutan dari PM. Fatayat NU Zulfia dan Ustad H. Ardian Madiua, S.Pd.I., M.Pd.I, yang juga Camat Sindue Tobata sebagai penceramah. Pertemuan kelas belajar diikuti oleh 42 orang peserta.

“Fatayat NU Sulteng terus mengajak warga untuk belajar bersama. Belajar merupakan bagian dari komitmen Fatayat NU, sehingga terus melaksanakan kelas belajar yang dilaksanakan Jumat (24/10), pukul 16.00 sampai dengan 17.30 Wita, di Pondok An-Nisa Yasmin Desa Beka Kecamatan Marawola Kabupaten Sigi, “ jelas Zulfia kepada Radar Sulteng.

Kelas belajar dipandu oleh CO Beka, Mila, yang bertugas sebagai MC. Kegiatan kelas belajar diawali dengan sambutan yang disampaikan oleh PO. Protection, Dwi, dan ceramah agama disampaikan oleh ustad Moh. Reza, Lc., MH seorang guru di Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC Palu. Pertemuan kelas belajar diikuti oleh 15 orang peserta.

Penerapaan PPKM Level 3 di Sulteng termasuk semua Kabupaten/Kota, membawa makna tersendiri bagi pelaksanaan setiap kegiatan, kepedulian diantara sesame peserta yang mengikuti kegiatan terlihat makin kuat, dimana jika ada yang tidak memakai masker, sesama peserta saling mengingatkan dan meminta untuk mengambil masker, peserta juga mencuci tangan dan bersedia diperiksa suhu tubuh dengan tertib tidak ada yang protes atau keberatan, hal tersebut menunjukkan bahwa kesadaran peserta akan pentingnya menjaga kesehatan diri sendiri dan orang sekitar sudah semakin tinggi.(mch)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.