alexametrics Fatayat NU Berdayakan Kelompok Perempuan – RADAR SULTENG
Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Fatayat NU Berdayakan Kelompok Perempuan

Sebagai Program Menolong Anggota Keluarga Lainnya

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Menolong Anggota Keluarga Lainnya///SUB
PALU-Pasca bencana alam gempa bumi, tsunami dan likuifaksi yang terjadi pada 28 September 2018, Fatayat NU menjadi salah satu mitra YAPPIKA Action Aid pada program ERR fase II. Dengan mengintervensi perempuan dewasa di Kelurahan Layana Indah Kecamatan Mantikulore dan Kelurahan Buluri Kecamatan Ulujadi Kota Palu, Desa Lende Tovea Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala dan Desa Beka Kecamatan Marawola Kabupaten Sigi.

Kepada Radar Sulteng, Ketua PW Fatayat NU, Zulfiah, mengatakan perempuan dewasa diharapkan bisa menolong anggota keluarga yang lain. Pada program ERR fokus Fatayat NU pada dua sektor, yakni sektor protection dan sektor livelihood.

“ Pada sektor protection menyediakan ruang ramah bagi perempuan yang diberi nama Pondok An-Nisa “Yasmin”, yang mana di empat wilayah kerja Fatayat NU semua telah memiliki legalitas formal berupa SK dari Pemerintah Kelurahan dan Pemerintah Desa, sebagai bentuk alih kuasa dan pelokalan, “ kata Zulfiah.

Fatayat NU juga telah membentuk 15 orang focal point, kelompok penyelenggara jenazah dan pengurus Ranting Fatayat NU dimasing-masing wilayah kerja Fatayat NU yang juga sudah dibuatkan SK dari Pemerintah Kelurahan dan Pemerintah Desa. Kecuali pengurus Ranting Fatayat NU, SKnya diterbitkan oleh PW.

Fatayat NU, pada sektor livelihood telah membentuk enam kelompok ekonomi yang dipimpin perempuan sudah mendapatkan SK dari Pemerintah Kelurahan dan Pemerintah Desa.

“ Ke enam kelompok ekonomi tersebut memiliki produksi yang hingga saat ini, di tahun 2021 masih aktif. Yaitu, Kelurahan Layana Indah menjual makanan, sayur dan ikan masak. Kelurahan Buluri dua kelompok yaitu kelompok menjahit kain perca (masker, keset dan celemek), dan kelompok aneka keripik (keripik kelor dan rempeyek).

Selanjutnya, Desa Beka produksi minyak kelapa, dan Desa Lende Tovea dengan usaha panambe dan minyak kelapa. Pada sektor livelihood di Desa Lende Tovea dan Desa Beka YAPPIKA-ActionAid melalui Fatayat NU mensuport kelompok ekonomi perempuan dengan pengadaan rumah produksi yang hingga saat ini masih berfungsi dengan baik.

Dikatakan Zulfiah, tahun 2021 Fatayat NU kembali menjadi salah satu mitra YAPPIKA-ActionAid melalui program program manager di program Humanitarian and Resilience (HAR) artinya kemanusiaan dan ketangguhan, dengan wilayah kerja Desa Lende Tovea dan Desa Beka, dimana Fatayat NU fokus pada remaja perempuan yang berumur 15 sampai 19 tahun sebagai penerima manfaat langsung.

“ Untuk Desa Lende Tovea, baik penerima manfaat langsung maupun penerima manfaat tidak langsung remaja perempuan yang berusia 15–19 tahun selama ini tidak masuk dalam komunitas kelompok kepemudaan yang ada di Desa Lende Tovea karena sebagian besar dari Remaja Perempuan tersebut masih berstatus pelajar, di Desa Lende Tovea ada kelompok Remaja Masjid yang bisa menjadi jejaring kerja/relasi kerja yang memiliki kegiatan khusus di bidang sosial keagamaan, dengan rata-rata usia 22–35 tahun, “ jelas Zulfia.

Sementara di Desa Beka, remaja perempuan yang menjadi penerima manfaat langsung pada program HAR berjumlah 45 orang berasal dari kelompok Posyandu remaja dan penerima manfaat tidak langsung berjumlah 65 orang pada program HAR dari Remaja Masjid dari tiga Dusun di Desa Beka, dan ada kelompok Pemuda Ansor yang berjumlah 40 orang pada program HAR bisa menjadi jejaring kerja/relasi di Desa Beka.

“ Yang mana pada Program ERR Fatayat NU sama sekali tidak memasukan kelompok tersebut sebagai penerima manfaat program, sementara remaja perempuan di Desa Lende Tovea dan di Desa Beka sesungguhnya memilik potensi yang bisa dikembangkan dan juga diharapkan bisa bersinergi dengan kelompok perempuan yang sudah ada, baik pada sektor protection maupun pada sektor livelihood dengan menggunakan fasilitas yang sudah ada, “ jelasnya.

Remaja perempuan di Desa Lende Tovea berjumlah 155 orang, dan Desa Beka 110 orang. Hasil wawancara Fatayat NU dengan Kepala Desa Lende Tovea dan dengan istri Kepala Desa (Kades) Beka, bahwa di dua desa yang akan menjadi wilayah kerja Fatayat NU pada program HAR, pasca bencana hingga sekarang tidak ada kasus kekerasan berbasis gender dan remaja perempun termasuk kelompok yang cepat pulih dari trauma, hanya saja remaja perempuan di dua desa tersebut perlu pendampingan dalam hal pengembangan potensi mereka misalnya dalam peningkatan kapasitas kepemimpinan, perlu latihan untuk berbicara mengeluarkan pendapat sehingga bisa terlibat dalam kegiatan yang dilaksanakan Pemerintah Desa, perlu bimbingan dalam mengelola kegiatan, remaja perempuan juga dipandang perlu diberikan bimbingan dalam masalah figh perempuan, diberikan pembelajaran tentang HIV/AIDS, narkoba, bahaya pernikahan anak yang selama ini tidak diperoleh di bangku sekolah serta penting untuk diberi pelatihan keterampilan yang berbasis ekonomi agar remaja perempuan bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa harus bergantung pada orang tua.

Pasca Bencana di Desa Lende Tovea belum ada Lembaga yang masuk melakukan pembinaan terhadap remaja perempuan, di Desa Lende Tovea sudah ada Peraturan Desa (Perdes) Perlindungan Perempuan dan Anak, hanya saja belum tersosialisasikan dengan merata. Maka Fatayat NU merasa sangat tepat menetapkan Desa Lende Tovea sebagai sasaran program HAR.

Untuk Desa Beka, pasca bencana sudah pernah masuk PKBI bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sigi memberikan pelatihan sehari tentang kesehatan remaja kepada remaja perempuan dan lakilaki. Peserta pelatihan diminta untuk menjadi Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak yang kemudian pasca pelatihan dibuatkan SK Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak oleh Kepala Desa Beka.

“ Hingga saat ini Satgas tersebut masih aktif, namun dari awal terbentuknya sampai sekarang belum ada pengaduan dari warga terkait kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Di Desa Beka hingga saat ini aktif dikunjungi remaja perempuan dan lakilaki adalah Posyandu remaja, namun di Desa Beka belum ada Perdes Perlindungan Perempuan dan Anak, maka Fatayat NU merasa perlu untuk menetapkan Desa Beka untuk menjadi sasaran program HAR, karena kami berpikir di dua desa ada kasus kekerasan terhadap perempuan namun masyarakat masih menganggap itu adalah privasi sehingga dianggap tidak pantas untuk dilaporkan, “ bebernya.

Fatayat NU berharap bisa memberikan proses penyadaran sekaligus pembelajaran kepada para remaja perempuan tentang hak-haknya serta tentang pentingnya membangun jejaring agar perempuan tidak dirugikan ketika mengalami kekerasan fisik maupun psikis.

Pada program ERR sektor protection, jadwal belajar di Pondok An-Nisa Yasmin belum berjalan secara maksimal dan Pos pengaduan belum menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi warga khususnya perempuan mengadukan persoalan mereka, maka melalui program HAR diharapkan remaja perempuan bisa menindaklanjuti dengan memaksimalkan fungsi dan jadwal Pondok An-Nisa Yasmin serta juga memaksimalkan berfungsinya Pos Pengaduan.

Pada sektor livelihood melalui program HAR ini diharapkan bisa membantu kelompok ekonomi agar bisa berkolaborasi dalam pengembangan pasar bagi produk kelompok ekonomi yang sudah ada dengan memberikan pelatihan pembuatan link Pasar online bagi remaja perempuan yang kemudian bisa memasarkan hasil produksi dari kelompok ekonomi.

Remaja perempuan juga bisa diberikan pelatihan layout/desain/ pembuatan label produk dengan harapan Program HAR akan semakin menguatkan hasil dari Program ERR.

“Dalam Program HAR Fatayat NU akan melibatkan staf sembilan orang Fatayat NU sebagai organisasi di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) merupakan wadah berhimpunnya Perempuan Muda NU, sangatlah tepat jika menjadikan Perempuan muda sebagai penerima manfaat Program HAR sebab bisa merealisasikan fungsi sebagai Konselor Sebaya, “ ujarnya.

Program HAR, menurut Zulfiah, sudah dimulai di pertengahan Juni dengan melakukan assesment dalam bentuk focus group discussion (FGD) dengan warga juga bersama perangkat desa di Desa Lende Tovea Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala dan Desa Beka Kecamatan Marawola Kabupaten Sigi.

“ Hasil FGD itu nantinya akan dirumuskan dalam bentuk program yang dlaksanakan berupa kegiatan melalui sektor protection dan sektor livelihood, “ pungkas Zulfiah.(mch)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.