Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Fadel dan Sherly Terpilih Jadi Koko Cici Sulteng

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

SELAMAT: Fadel (ketiga dari kiri) berdampingan dengan Sherly. Mereka berdua jadi pemenang tahun ini. (Foto: Istimewa)

PALU – Pihak penyelengara pemilihan Koko Cici Sulteng melakukan konferensi pers mengenalkan pemenang Koko Cici Sulteng gelombang ketiga dan persiapan mengikuti pemilihan Koko Cici Nasional tahun 2017, bertempat di Millenium Water Park Jalan Emmy Saelan Palu, Rabu (15/3).

Manager Millenium Water Park, Leopold Mandagie mengatakan, pres conference hari itu dilaksanakan agar Koko Cici terbiasa dengan media. Sehingga tidak kaku dan gugup saat ada media melakukan wawancara. “Hal ini sengaja kami lakukan dan jika ada kegiatan media, maka Koko Cici siap mendampingi,”kata dia.

Pemenang Koko Cici ketiga tahun 2017, juga akan diikutkan dalam pemilihan Koko Cici Nasional bulan November mendatang, dengan harapan untuk menang sangat tinggi. Karena sebelumnya, wakil Sulteng memperoleh gelar Koko tingkat Nasional. “Saat ini, yang terpenting bagi para pemenang adalah mempersiapkan diri, menunjukkan yang terbaik saat pemilihan Koci (Koko Cici) Nasional,” ucapnya.

Leo menegaskan, perjuangan panjang dari Koko Cici Sulteng tidak sia-sia, karena saat grand final Koko Cici pemerintah daerah sangat mendukung adanya Koko Cici. “Pemerintah Provinsi Sulteng mendukung penuh. Pemerintah Kota Palu juga akan mengikutkan Koko Cici dalam semua iven,” ujarnya lagi.

Proses seleksi yang dilaksanakan di Millenium Water Park berjalan lancar. Mulai dari pemilihan awal pada 19 Februari dengan 50 orang finalis dari seluruh Sulteng. Hingga tersisa 30 orang dan mengikuti karantina selama dua minggu. “Akhirnya tanggal 12 Maret grand Final. Predikat Koko diraih Fadel sebagai Koko Sulteng. Kemudian Sherly Marlinto menjadi Cici Sulteng,” terangnya.

Fonder Koko Cici Fatir Muhamad menambahkan, saat karantina para finalis melakukan kunjungan di beberapa tempat wisata yang ada di Kota Palu. Seperti Wihara Karuniadipa, Tugu Perdamaian dan Anjungan Nusantara. “Selain itu, mereka juga mendapatkan beberapa materi dari BNN, sof skill Untad dan Ikatan Koci Indonesia Iwan dan Valen,” ungkapnya.

Fatir Muhamad berharap, Sulteng mendapatkan gelar Cici Nasional tahun ini. Sebab sebelumnya Koko Nasional telah diraih oleh Sulteng. “Jika tidak bisa menjadi yang terbaik, yang jelas bisa menjadi tiga besar,” harapnya.

Persiapan untuk Koci Nasional yang utama kata Fatir, yaitu mengajarkan Bahasa Mandarin. Setelah itu fisik dan belajar dari Koko sebelumnya. “Mereka akan mendapatkan materi khusus dari Koko Dumas. Kiat-kiat apa dilakukan agar bisa lolos menjadi Koci Nasional,” ujarnya.

Fatir juga berharap, ke depan saat diadakan pemilihan Koko Cici Sulteng, 13 kabupaten yang ada dapat mengirim perwakilannya. Sehingga diketahui oleh masyarakat luas bahwa Sulteng memiliki banyak keberagaman. “Tujuan utamanya KOKO CICI sebenarnya sebagai duta wisata, duta budaya. Bukan hanya budaya Tionghoa saja, tetapi seluruh budaya yang ada di Sulteng,” jelasnya.

Koko Sulteng Fadel yang merupakan perwakilan dari Kabupaten Donggala mengatakan, sangat bangga dapat terpilih menjadi Koko Sulteng, dengan tekad akan melakukan yang terbaik dalam ajang Koci Nasional. “Saya baru pertama kali mengikuti pemilihan ini. Dan alhamdulilah menang. Saya memang berdarah Tionghoa dari keturunan ibu,” ungkapnya.

Sedangkan Sherly Marlinton sebagai Cici Sulteng tahun ini, sangat tidak menyangka menjadi pemenang. Semua di luar prediksinya, karena darah Tionghoa tidak mengalir dalam dirinya. “Saya asli Jawa, semua teman-teman juga tidak menyangka,” katanya bangga.

Marselo yang berasal dari Kabupaten Poso menjadi runner up 2. Motivasi dia mengikuti pemilihan Koko Cici yaitu ingin mengetahui keberanekaragaman yang ada di Sulteng. Seperti belajar tentgang Tionghoa, mengetahui suku-suku yang ada di Sulteng, dan dapat kenal dengan banyak orang. “Dengan bertemu banyak orang, kita memiliki keluarga baru, dan bisa mempererat kekeluargaan semua suku yang ada di Sulteng, “ jelasnya. (umr)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.