Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Facebook Siap Saring Postingan Negatif

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Ilustrasi (@http://seeromega.com)

JAKARTA – Facebook berkomitmen untuk kooperatif pada arahan pemerintah Indonesia. Termasuk melakukan screening pada konten (posting) negatif dan berbahaya. Komitmen itu disampaikan perwakilan Facebook saat bertemu dengan Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Rudiantara, Selasa (14/2).

Rombongan dari Facebook dipimpin oleh Global Head of Content Policy Facebook Monica Bickert. Pertemuan yang berjalan sekitar satu jam itu berlangsung tertutup.

’’Secara garis besar ada dua komitmen yang disepakati antara pemerintah dengan Facebook,’’ kata Dirjen Aplikasi Informatika (Aptika) Kemenkominfo Semuel Abrijani Pangerapan. ”Komitmen Facebook meningkatkan service level agreement dan komitmen program-program sosial untuk masyarakat Indonesia,” lanjutnya.

Peningkatan service level agreement itu terkait sejumlah layanan. Diantaranya adalah kontrol terhadap posting atau konten yang diunggah di wall Facebook. Semuel mengungkapkan, Facebook berjanji meningkatkan respon terhadap konten berbahaya atau negatif.

’’Misalnya ada postingan yang isinya, saya akan bunuh kamu atau yang sejenisnya, itu bisa segera ditindaklanjuti,’’ jelasnya.

Kemenkoinfo berharap setiap ada laporan konten yang berbahaya, pihak Facebook bisa langsung melakukan pencopotan atau takedown. Tidak perlu langsung ditutup akun Facebook-nya, cukup mencopot postingan negatif.

Nantinya ada kerjasama antara tim di Kemenkominfo dengan tim di Facebook. Sehingga komunikasi bisa berjalan lebih cepat. Tanpa melalui saluran pelaporan seperti pada umumnya.

Sepanjang 2017 ini, Facebook menduduki peringkat pertama laporan konten negatif di Kemenkominfo. Yakni 105 laporan pada Januari dan 92 laporan sampai 13 Februari. Tetapi secara akumulatif laporan konten negatif paling besar ada di Twitter.

Semuel mengatakan konten negatif itu beragam sekali. Untuk di Twitter kebanyakan adalah konten pornografi. Sementara di Facebook banyak juga konten-konten yang berisi penipuan. ’’Seperti pengaduan dari BPOM terkait penjualan obat dan kosmetik tidak berizin,’’ jelasnya.

Selama ini respon dari Facebook kurang maksimal. Dari seluruh pengaduan konten negatif, Semuel menjelaskan baru sekitar 60 persen yang ditindaklanjuti.

Semuel juga menyebut harapan pemerintah supaya Facebook membuka kantor perwakilan di Indonesia. Dia menjelaskan secara tidak langsung, peningkatan service level agreement bisa optimal jika Facebook membuka kantor di Indonesia. Sehingga koordinasi dengan pemerintah bisa berjalan lebih efektif.

Sementara itu terkait dengan komitmen program sosial untuk masyarakat, Semuel menjelaskan Facebook sudah menyiapkan sejumlah program. Diantaranya adalah pelatihan literasi media sosial untuk masyarakat, yang melibatkan sejumlah perguruan tinggi. Selain itu Facebook juga menyiapkan platform jurnalisme warga.

Pengamat medsos Nukman Luthfie menuturkan komitmen Facebook meningkatkan service level agreement patut diapresiasi. ’’Ini perkembangan bagus,’’ jelasnya. Sebab selama ini perang terhadap konten negatif, bohong (hoax), dan sejenisnya dilakukan oleh sama-sama akun. Bukan dilakukan oleh medianya sendiri, dalam hal ini Facebook.

Nukman mengatakan pemerintah tentu punya hak untuk diperhatikan, termasuk oleh Facebook. Dia berharap kinerja tim Kemenkominfo dengan tim dari Facebook bisa berjalan efektif. Setiap ada laporan konten negatif atau berbahaya, bisa langsung dicopot atau takedown.

Lebih dari itu sejatinya pemerintah Indonesia bisa mencontoh Jerman. Negara itu membuat regulasi menghukum Facebook denda sampai Rp 7 miliar setiap ada satu postingan hoax yang muncul di-wall. Kemenkominfo mengatakan pemerintah Indonesia belum bisa segalak Jerman. (wan/ang)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.