Event Marathon di Sulteng Terancam Tidak Dipercaya Lagi

Sulitnya Meyakinkan Komunitas Lari di Indonesia

- Periklanan -

PALU- Kekacauan penyelenggaraan Donggala Marthon Sabtu (28/9) menuai sorotan pegiat olahraga marathon di Sulawesi Tengah. Tidak profesionalnya pihak penyelenggaran dinilai akan berdampak pada kepercayaan atlet luar terhadap penyelenggaraan event-event berikutnya.

Hal itu diungkapkan Salah satu pegiat Marathon Sulteng, Syaifullah Djafar, kepada Radar Sulteng, kemarin. Ia menyesalkan insiden di Donggala yang menuai kekecewaan para atlet.

‘’Dengan insiden di Donggala ini Sulteng jadi susah menyelenggarakan event lari Skala Nasional dan Internasional. Karena sulit sekali mendapatkan kepercaayaan dari komunitas lari nasional dan internasional untuk ikut berpartisipasi pada event-event yang kita buat di Sulteng,’’ terang pecinta olahrga lari ini.

Disebutkannya, pengalaman saat Sulteng membuat event lari Central Celebes Marathon, berbagai upaya dilakukan untuk menarik kepercayaan komunitas lari untuk ikut berpartisipasi. Karena saat itu komunitas-komunitas lari di Indonesia tidak percaya lagi dengan event di Sulteng, disebabkan kekacauan event Palu Nomoni Marathon-1.

‘’Kita harus membuat event road to Central Celebes Marathon di Jakarta dan dibeberapa kota di Indonesia. Untuk meyakinkan komunitas lari indonesia agar ikut berpartisipasi,’’ tegas Syaifullah.

Kini kata Syaifullah pengalaman buruk itu kembali terulang di Donggala. Sama halnya Marathon Palu Nomoni 1, kedua-duanya melibatkan EO dari jakarta, yang dinilai sangat tidak profesional, dan tidak bertanggungjawab.
Belajar dari pengalaman dua event itu, penyuka olahraga lari yang sering mengikuti event marathon berskala internasional ini menyarankan, penyelenggaraan event lari di Suteng sebaiknya tidak menggunakan EO dari luar kota Palu, yang tidak jelas keberadaan dan pengalamannya. Di Kota Palu kata dia telah banyak EO yang bisa menyelenggarakan acara lari berstandar nasional.

‘’Untuk pemkab atau pemkot atau organisasi apapun yang akan membuat event lari, sebaiknya menggunakan EO di Kota Palu. Di Palu sudah banyak EO yang bisa menyelenggarakan acara lari berstandar nasional. Bahkan tiap-tiap komunitas lari di Palu, sudah bisa menyelenggarakan event-event secara mandiri,’’ demikian imbau Syaifullah.

EO Quantum Dinilai Tidak Profesional Selenggarakan Half Maraton

Dibalik meriahnya Donggala Half Maraton, ternyata terdapat banyak keluh kesah dari para peserta saat mengikuti kegiatan yang dipusatkan di Anjungan Goneanggati, Sabtu (28/9). Mencuatnya sejumlah persoalan diawali dengan keluh kesah peserta yang menilai kegiatan tak sesuai standar lomba marathon.

Pagi itu waktu sudah menunjukan pukul 08.35. Semua peserta Half Marathon sudah memasuki garis finis. Panitia telah mencatat nama-nama pemenang dari masing-masing kategori. Suasana di garis finis dan star itu masih ramai oleh peserta. Tiba-tiba terdengar suara seorang pria berteriak menggunakan microphone mempertanyakan medali yang menjadi hak mereka.

“Mana medali kami,” teriak pria yang diketahui bernama Arman tersebut.

- Periklanan -

Radar Sulteng kemudian menanyakan langsung kepada Arman terkait keluh kesahnya. Menurut Arman, di saat memasuki garis finis, seharusnya peserta langsung diberikan medali oleh panitia. Namun kata Arman, di dalam even donggala half marathon hal itu tidak dilakukan. “Mereka bilang medali sedang mereka siapkan. Harusnya dalam even marathon itu, di saat peserta memasuki garis finis, maka langsung diberikan medali. Kita lagi cari Even Organizernya (EO). Kita berikan mereka waktu 10 menit,” ungkapnya.

Setelah 10 menit tak kunjung mendapat medali. Para peserta yang didominasi berasal dari Kota Palu itu kembali menyerukan sikapnya kepada panitia. Bahkan beberapa peserta berteriak meminta uang mereka dikembalikan. “Mana medali kami. Kembalikan saja uang kami,” teriak sejumlah peserta.

Berselang beberapa menit, medali yang ditunggu-tunggu peserta akhirnya tiba di lokasi. Sayangnya proses pembagian medali ini juga sangat tidak teratur. Para peserta saling berdesak-desakan mengambil medali. Kejadian ini ternyata beredar melalui jejaring media sosial. Bahkan kabarnya, hadiah para pemenang belum dicairkan hingga Minggu (29/9) kemarin.

Terkait hadiah para juara yang belum dicairkan, pihak EO Quantum, Sonya Margareta, membenarkannya. Alasannya menurut Sonya, karena bertepatan masih hari libur. “Hadiahnya itu besok mas. Karena ini weekend. Soal uang yang di bank itu harus bendahara saya yang ambil. Baru kemudian ditransfer satu persatu ke pemenang,” katanya via telepon.

Sonya juga menjelaskan terkait keterlambatan medali untuk peserta. Sonya mengaku pihaknya lalai dalam hal pemberian medali. Namun menurut Sonya, kelalaian itu terbilang manusiawi. “Kalau soal medali kami minta maaf. Itu kelalain, manusiawi. Apapun itu bisa saja terjadi, termasuk keterlambatan,” katanya.

Sonya menambahkan, pihaknya akan melakukan konfrensi pers untuk memberikan klarifikasi terkait kejadian-kejadian tersebut. Menurut Sonya termasuk soal rundown kegiatan terkait jam untuk star marathon tersebut. “Kami akan bicara banyak tentang itu. Termasuk soal rundown kegiatan yang harusnya di mulai pada pukul 05.00 tapi menjadi 07.30,” tambahnya.

Sementara itu ketua panitia, Akris Fattah, menegaskan, pihak Quantum menjadi penanggungjawab utama penyelenggaraan Half Marathon tersebut. Menurut Akris, Pemkab Donggala hanya memfasilitasi dan mendampingi, mulai dari tempat, alat hingga pengamanan oleh Satpol PP dan petugas Dinas Perhubungan. “Jadi yang perlu diketahui oleh masyarakat bahwa, pelaksana atau penyelenggara marathon ini adalah pihak Quantum,” sebutnya.

Terkait adanya protes dari peserta soal medali dan hadiah, menurut Akris hal itu menjadi tanggungjawab penuh Quantum sebagai pelaksana. Akris menegaskan, persoalan medali lambat maupun hadiah itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Pemkab Donggala. “Dalam even marathon ini dari awal sudah di desain, urusan medali hingga hadian itu tanggungjawab Quantum. Kami ini cuma mendampingi dan menfasilitasi tempat,” jelasnya.

Akris mengungkapkan, awal mula ributnya persoalan marathon itu diakibatkan oleh keterlambatan medali untuk peserta. Akris membenarkan, konsep lari marathon adalah ketika peserta sudah memasuki garis finish maka harus langsung dikalungi medali. Sementara yang terjadi pada even marathon tersebut kata Akris hal itu tidak dilakukan. Justeru peserta harus menunggu sampai 2 jam untuk mendapatkan medali. “Sudah betul memang dibilang peserta. Kalau sudah sampai di garis finish itu memang harus dikalungi medali. Wajar saja peserta marah. Mereka menunggu sampai 2 jam,” katanya.

Lebih jauh Akris mengatakan, setelah persoalan medali menuai protes, muncul persoalan baru yaitu hadiah untuk para pemenang. Dari dua poin kejadian itu, Akris menilai, Quantum sudah tidak professional dalam melaksanakan half marathon. “Akhirnya Pemda terbawa-bawa. Padahal pelaksana marathon ini adalah Quantum. Pemkab Donggala itu hanya memfasilitasi,” katanya.

Meski terjadi seperti itu, menurut Akris, Pemkab juga tidak tinggal diam. Pihaknya kata Akris, membantu mendampingi para atlet pemenang lomba marathon tersebut dalam hal pencairan hadiah. Menurut Akris, EO Quantum, Sonya, mengatakan bahwa dana untuk pemenang sudah ada di bank BNI. Setelah di cek kata Akris, dana itu ada di dalam rekening atas nama pribadi bukan nama Quantum. “Setelah sampai di bank, uang itu tidak bisa di cairkan karena atas nama pribadi yang menurut Sonya itu milik bendahara Quantum. Jadi Cuma bikin capek saja ini Sonya. Dia tidak kasih tahu memang kalau itu atas nama pribadi dan tidak bisa di cairkan,” keluh Akris.

Akhirnya lanjut Akris, para atlet pemenang diarahkan ke wisma Donggala sembari menunggu pencairan hari yang menurut pihak Quantum akan diselesaikan pada Senin (hari ini, 30/9). Namun Minggu pagi, menurut Akris, atlet pemenang yang berasal dari luar daerah telah kembali ke daerahnya masing-masing setelah berdiskusi dengan pihak Quantum. “Saya berkali-kali tanya itu atlet, sudah aman atau belum. Mereka bilang sudah aman. Mungkin sudah ada kesepakatan dengan Quantum terkait hadiah pemenang itu, makanya mereka pulang sudah,” terangnya. (awl/ujs)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.