Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Empat Tim Nusantara Sehat Mengabdi di Morowali Utara

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Penandatangan MoU tentang penempatan Tim Nusantara Sehat di empat Puskesmas wilayah Morut. (Foto: Ilham Nusi)

MORUT – Tim Nusantara Sehat, batch 7 Kementerian Kesehatan RI tiba di Kolonodale, Morowali Utara (Morut). Para tenaga medis dari lima profesi itu siap bertugas di empat Puskesmas daerah terpencil dalam wilayah tersebut.

Tim sebanyak 20 orang terdiri dokter, bidan, perawat, gizi, analis dan farmasi, serta dua orang pendamping dari Dirjen Mutu dan Akreditasi Kemenkes itu secara resmi diterima Bupati Morut Aptripel Tumimomor, di ruang Pola kantor Bupati, Rabu (30/8).

Bupati dikesempatan itu mengatakan, Pemkab Morut menyambut baik kehadiran Tim Nusantara Sehat ini. Untuk itu Aptripel berharap kehadiran para tenaga medis itu benar-benar dapat meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi masyarakat.

“Saya harap, melalui penempatan tenaga kesehatan Tim Nusantara Sehat ini mampu menghasilkan mutu layanan yang dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Morut,” tegas Bupati.

Agar diketahui pemerintah pusat, Aptripel mengemukakan bahwa Pemkab Morut telah memberi perhatian khusus untuk jaminan kesehatan nasional dalam rangka melaksanakan upaya pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan dan menyehatkan masyarakat dalam bentuk subsidi biaya kesehatan.

Dana alokasi tersebut untuk membiayai warga miskin yang tidak tercover BPJS (eks Jamkesmas-PBI) yang iurannya dibayarkan oleh pemerintah daerah melalui program Morut Sehat dintegrasikan dengan BPJS kesehatan.

“Saya mengajak kita semua untuk menjadikan program nusantara sehat sebagai salah satu masukan bagi perencanaan pembangunan kesehatan di Morut,” tandas Bupati.

Bupati tak lupa menyampaikan terima kasih kepada Menteri Kesehatan beserta jajarannya yang sudah menyahuti permintaan Dinas Kesehatan Daerah Morut melalui program tersebut.

“Andai SDM kesehatan Morut masih kurang dalam kurun dua tahun mendatang, kami berharap Kemenkes masih memfasilitasi kebutuhan tenaga ini. Terima kasih,” sebut Aptripel

Irfan Arifin, selaku pendamping berharap dukungan penuh Pemkab Morut untuk Tim Nusantara yang bertugas di Puskesmas Tambayoli dan Panca Makmur Kecamatan Soyo Jaya, Puskesmas Baturube Kecamatan Bungku Utara dan Puskesmas Pandauke Kecamatan Mamosalato.

“Kami minta dukungan dari Pemkab Morut agar Tim Nusantara ini dapat bertugas dengan baik,” kata Irfan.

Penempatan Tim Nusantara di wilayah Morut ini ditandai dengan penandatangan nota kesepahaman antara Pemkab dengan Kemenkes.

Ditemui usai kegiatan di atas, Irfan menyebut hanya Morut, Toli-Toli dan Banggai Laut yang mengajukan penempatan Tim Nusantara 2017. Dari ketiga kabupaten itu, Morut mendapat kuota terbanyak.

“Di Morut empat tim, sementara Tolitoli dan Balut masing-masing satu tim,” jelas Irfan kepada Radar Sulteng.

Menurut dia, Tim Nusantara merupakan hasil rekrutmen dari 27 provinsi yang kemudian mengikuti pendidikan khusus di Jakarta selama 45 hari. Di sana, fisik, mental, ilmu dan keahlian mereka ditempa. Tenaga medis ini juga menerima materi tentang ketahanan nasional di Pusdik TNI.

Setelah itu tenaga medis dari 9 profesi bidang kesehatan itu selanjutnya disebar dengan sistem acak untuk mengisi kekosongan SDM sesuai permintaan masing-masing daerah.

Selama 24 bulan bertugas para tenaga medis ini wajib memberikan pelayanan kesehatan sesuai profesi masing-masing, misalnya kebidanan, kesehatan lingkungan dan dokter.

“Masing-masing provinsi ada keterwakilannya. Rata-rata mereka sudah bekerja,” tandas Irfan.

Di tempat sama, Kanisius Maturbongs yang juga selalu pendamping Tim Nusantara menambahkan pengisian SDM tersebut berdasarkan permintaan daerah pengusul. Jika memenuhi syarat setelah disurvei, permintaan itu akan dipenuhi dengan pengiriman tenaga medis.

“Kemenkes hanya menyiapkan tenaga sementara pemerintah daerah wajib menyiapkan fasilitas termasuk menjamin keamanan tenaga medis ini,” ujar Kanisius.

Sejalan dengan nawa cita presiden Joko Widodo ingin membangun Indonesia dari pinggiran di batas-batas wilayah terpencil darat dan kepulauan, lanjut Kanisius, program ini diciptakan supaya distribusi tenaga SDM bisa merata ke seluruh daerah.

Selain menjadi pendamping tim, tambah dia, mereka juga wajib mendorong puskesmas supaya segera terakreditasi demi pemenuhan tata kelola dan peningkatan mutu pelayanan fasilitas kesehatan tersebut.

“Saya dan rekan saya juga bertugas mendorong Puskesmas di Morut menuju akreditasi. Anggota Tim Nusantara juga wajib melakukan hal yang sama demi membantu peningkatan mutu layanan di tempat mereka bertugas,” pungkas Kanisius.

Nur Ellah Wulandari, salah satu peserta Tim Nusantara mengungkap alasannya ikut program Kemenkes ini disebabkan masih banyaknya wilayah-wilayah Indonesia yang belum terjangkau kesehatannya terutama daerah terpencil, kepulauan dan daerah-daerah dengan kejadian luar biasa untuk penyakit-penyakit tertentu.

“Terlebih saat ini belum meratanya sebaran tenaga kesehatan di negeri kita,” imbuh wanita 24 tahun asal Bandung itu.

Senada rekannya, Riska Nur Handayani mengatakan pendorong dirinya masuk Tim Nusantara Sehat karena pembangunan kesehatan di Indonesia hanya terpusat di pusat-pusat kota terbesar saja. Selain itu melalui program ini dia bisa mengeksplore sejauh mana pembangunan kesehatan di pelosok-pelosok daerah.

“Kami dikirim ke daerah terpencil untuk membantu pemerintah dalam subtansinya preventif, kuratif dan rehabilitatif membangun Indonesia dari pinggiran,” sebut salah satu pegawai Puskesmas di Polewali, Sulbar itu. (ham)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.