Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Elpiji di Kios, Pertamina-Pemkot Saling Lempar Tanggung Jawab

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Ilustrasi elpiji 3 Kg. (Foto: Mugni Supardi)

PALU – Pemerintah Kota Palu dan Pertamina, sepertinya saling lempar tanggung jawab soal kewenangan menyita tabung elpiji 3 Kg di tingkat pengecer. Pemkot menegaskan bukan kewenangan mereka menegasi pemilik kios-kios di Kota Palu yang menjual tabung elpiji.

“Pemkot maunya cepat dilakukan penyitaan. Kita tinggal tunggu Pertamina, kapan mereka mau turun,” ujar Kabag Admnistrasi Perekonomian Pemkot Palu, Tamin Tombolotutu, Senin (4/9) lalu.

Pertamina, lanjut Tamin, adalah pihak yang berhak melakukan penyitaan elpiji 3 Kg di tingkat pengecer yang bukan pangkalan. Pasalnya, elpiji 3 Kg merupakan produk Pertamina. Sehingga jika ada penyitaan, maka yang berhak adalah Pertamina.

Menanggapi statmen Kabag Admnistrasi Perekonomian Tamin Tombolotutu yang menyatakan tinggal menunggu ketegasan Pertamina untuk melakukan penyitaan elpiji di tempat-tempat yang tidak resmi menjual elpiji bersubsidi 3 Kg,

Sales Eksekutif (SE) Elpiji V Pertamina Sulawesi Tengah Bastian Wibowo angkat bicara.

Bastian menegaskan, wewenang Pertamina sebatas di pangkalan. Sehingga kalau yang berkaitan dengan pengecer, Pertamina tidak memiliki hak apapun. Baik itu memberi sanksi, apalagi sampai melakukan penyitaan tabung.

“Kita harus paham dulu wewenang Pertamina. Hanya sebatas di pangkalan. Jika yang melakukan pelanggaran pangkalan, maka Pertamina akan melakukan PHU (Pemutusan Hubungan Usaha, red) terhadap pangkalan yang melakukan pelanggaran tersebut melalui agennya,” ujar Bastian di Kantor Hiswana Migas kompleks Palu Plaza, Palu Barat, kemarin (5/9).

Dia menjelaskan, Pertamina sama sekali tidak memiliki wewenang melakukan penyitaan tabung elpiji di kios-kios yang menjual tabung 3 Kg. Belakangan  si melon ini agak sulit ditemukan di pangkalan. Sekali pun ditemukan di tingkatan pengecer, harganya melonjak hingga dua kali lipat lebih. Pengecer menjadi salah satu pihak yang memicu mahalnya gas 3 Kg.

Namun kata Bastian, distribusi ke pangkalan-pangkalan juga dilakukan setiap hari. Pria berkacamata ini menjelaskan, di Kota Palu ada 7 agen. Dalam sehari, setiap agen, minimal mendistribusikan elpiji 3 kg sebanyak 1 truk atau 560 tabung. Hanya saja, lanjutnya, selain karena banyaknya pengecer, penyebab elpiji 3 kg seperti sekarang ini dikarenakan penggunanya tidak tepat sasaran.

“Dalam aturan, yang berhak menggunakan elpiji 3 kg yang berpenghasilan Rp1,5 juta ke bawah. Yang sekarang bilang susah cari elpiji kan yang menggunakan mobil. Padahal, elpiji 3 Kg peruntukkannya bagi warga kurang mampu,” terangnya.

Warga yang ekonominya berkecukupan, seharusnya malu jika masih menggunakan elpiji 3 Kg. Untuk warga berkecukupan, sudah menggunakan bright gas 5,5 Kg atau 12 Kg.

“Jika yang menggunakan sesuai peruntukkan, pasti tidak akan seperti ini elpiji 3 kg susah ditemukan. Karena distribusinya dilakukan setiap hari,” ujarnya.

Terkait penyitaan tabung di kios-kios, sekali pun tidak memiliki wewenang untuk sampai memonitor hingga ke tingkat pengecer, namun Pertamina menyatakan siap untuk ikut bersama Pemkot jika ingin melakukan monitoring hingga ke tingkat pengecer. Namun pihak Pertamina, lanjutnya, tidak memberikan sanksi apa pun ke pengecer. Hanya sebatas ikut dan untuk mengetahui sumber tabung elpiji 3 Kg yang didapatkan pengecer dari mana.

“Jika pemkot melakukan monitoring, kami siap ikut sebagai bentuk tanggung jawab moral kami. Namun hanya sebatas mengetahui sumber elpiji 3 Kg yang diperoleh pengecer. Jika ketahuan ada kerja sama dengan pangkalan, kami akan lakukan PHU terhadap pangkalan. Ini sebagai bukti ketegasan Pertamina. Sejak 2016 hingga 2017, sudah 555 pangkalan yang kami lakukan PHU,” demikian Bastian. (saf)

 

 

 

PERTAMINA////

Sudah 555 Pangkalan yang di PHU

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.