Ekspor Sulteng Tumbuh Hampir Lipat Dua

- Periklanan -

PALU- Kinerja ekspor Sulteng terus menunjukkan perkembangan positif. Dan bahan tambang besi dan baja tercatat memegang peranan penting dalam mendongkrak kinerja ekspor Sulteng dalam beberapa tahun terakhir ini.

(Source: Badan Psuat Statistik)

Badan Pusat Statistik (BPS) Sulteng merilis, selama Bulan November 2017 nilai ekspor Sulteng tercatat senilai US$ 372,91 juta atau naik US$ 87,34 juta (30,58 persen) dibandingkan bulan sebelumnya. “Nilai sebesar ini merupakan ekspor langsung melalui beberapa pelabuhan di Sulteng senilai US$ 369,37 juta dan melalui pelabuhan-pelabuhan di provinsi lain senilai US$ 3,54 juta,” jelas Wahyu Yulianto, Kabid Statistik Distribusi BPS Sulteng di kantornya Selasa (2/1).

Sementara itu, selama Januari-November 2017 nilai ekspor Sulteng tumbuh hampir lipat dua dibanding periode yang sama tahun 2016.  Total nilai ekspor Sulteng pada periode Januari-November 2017 mencapai US$ 2.556,01 juta, meningkat US$ 1.190,93 juta atau 87,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (Januari-November 2016) yang hanya sebesar US$ 1.365,08 juta.

Dalam beberapa tahun terakhir ini dua kelompok komoditas utama, yaitu kelompok komoditas besi dan baja masih mendominasi ekspor Sulteng. Selama November 2017, ekspor Sulteng kelompok komoditas besi dan baja mencapai US$ 281,08 juta atau 75,37 persen dari total ekspor. Dan ekspor bahan bakar mineral senilai US$ 84,57 juta atau 22,68 persen dari total ekspor Sulteng.

- Periklanan -

“Sementara, kontribusi ekspor kelompok komoditas lainnya relatif kecil, masing-masing di bawah angka US$ 3,50 juta,” sebut Wahyu.

Sementara itu, selama Januari-November 2017, ekspor kelompok besi dan baja mencapai senilai US$ 1.499,23 juta atau 58,66 persen dari total ekspor. Dan bahan bakar mineral senilai US$ 1.000,76 juta atau 39,15 persen dari total nilai ekspor Sulteng pada periode tersebut. Dan kontribusi ekspor kelompok komoditas lainnya terhadap total ekspor masing-masing di bawah 1,00 persen.

Sebagaian besar komoditi ekspor Sulteng tersebut dikirim melalui pelabuhan Kolonodale di Morowali. Selama Januari-November 2017, Pelabuhan Kolonodale mendominasi layanan ekspor senilai US$ 1.501,05 juta atau 58,73 persen dari total nilai ekspor. Disusul Pelabuhan Banggai senilai US$ 1.000,76 juta atau 39,15 persen.

Pada periode Januari-November 2017, komoditi ekspor yang dikirim melalui Pelabuhan Pantoloan di Palu hanya senilai US$ 26,30 juta atau 1,03 persen, kemudian Luwuk senilai US$ 0,19 juta atau hanya 0,01 persen. Dan ekspor melalui pelabuhan dan bandara di provinsi lainnya totalnya hanya US$ 27,71 juta atau sebesar 1,08 persen. Pelabuhan dan bandara di provinsi lain tersebut seperti Pelabuhan Tanjung Perak, Pelabuhan Tanjung Priok, Bandara Udara Ngurah Rai, Pelabuhan Ujung Pandang, Pelabuhan Tanjung Emas dan Bandar Udara Soekarno Hatta.

“Bila dilihat dari negara tujuan ekspor, sebagian besar ekspor Sulteng dikirim ke negara Tiongkok,” jelas Wahyu lagi.

Selama Januari-November 2017, ekspor ke Tiongkok mencapai US$ 1.446,79 juta atau 56,60 persen. Menyusul Jepang senilai US$ 575,01 juta atau 22,50 persen,  Korea Selatan senilai US$ 307,50 juta atau 12,03 persen, Singapura senilai US$ 51,98 juta 2,03 persen, dan Amerika Serikat senilai US$ 36,84 juta atau 1,44 persen. Sementara itu, negara lainnya berperan senilai US$ 137,89 juta atau sebesar 5,40 persen. (ars)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.