Ekspor Sulteng Januari-Februari 2017 Tumbuh Signifikan

- Periklanan -

Ilustrasi kegiatan ekspor. (@bmzIMAGES)

PALU – Setiap tahun ekspor Sulteng mengalami perkembangan positif. Bahkan, periode Januari-Februari 2017 dibanding periode yang sama tahun lalu pertumbuhannya hampir 150 persen. Selama Januari-Februari 2017, total nilai ekspor Sulteng tercatat US$ 276,26 juta.

“Bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu, nilai ekspor Sulteng Januari-Februari 2017 ini meningkat US$ 165,70 juta atau 149,87 persen,” jelas Wahyu Yulianto, Kabid Statistik Distribusi BPS Sulteng, Senin (3/4). Januari-Februari 2016 total nilai ekspor Sulteng tercatat hanya sebesar US$ 110,56 juta.

Dari total ekspor Sulteng Januari-Februari 2017, ekspor melalui pelabuhan-pelabuhan di Sulteng senilai US$ 272,32 juta. Dan sisanya diekspor melalui provinsi lain senilai US$ 3,94 juta. Dari total ekspor Sulteng tersebut, kelompok bahan bakar mineral masih mendominasi

- Periklanan -

Pangsa ekspor Sulteng untuk kelompok bahan bakar mineral tersebut mencapai senilai US$ 147,20 juta atau 53,28 persen dari total ekspor. Menyusul besi dan baja senilai US$ 121,19 juta atau 32,58 persen. Serta lemak dan minyak hewan/nabati senilai US$ 3,64 juta atau 1,32 persen. Sementara itu, nilai ekspor kelompok komoditas lainnya masing-masing di bawah US$ 2,00 juta.

“Sampai saat ini Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan menjadi negara tujuan ekspor paling utama Sulteng,” sebutnya.

Selama Februari 2017 total ekspor Sulteng ke Jepang mencapai US$ 46,84 juta atau 35,95 persen dari total nilai ekspor. Di ikuti Tiongkok senilai US$ 42,64 juta atau 32,72 persen, Korea Selatan senilai US$ 22,03 juta atau 16,91 persen.

Sementara itu, selama Januari-Februari 2017, ekspor terbesar Sulteng ditujukan ke Tiongkok senilai US$ 121,52 juta. Di ikuti ke Jepang senilai US$ 91,83 juta, Korea Selatan senilai US$ 42,46 juta, Singapura senilai US$ 13,89 juta, dan Malaysia senilai US$ 3,64 juta.

Berdasarkan kontribusinya, ekspor ke lima negara tujuan tersebut meliputi Tiongkok 43,99 persen, Jepang 33,24 persen, Korea Selatan 1 5,37 persen, Singapura 5,03 persen, dan Malaysia 1,32 persen. Sementara itu, negara lainnya berperan senilai US$ 2,92 juta atau sebesar 1,06 persen. (ars)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.