Eksekusi Lahan Tanjung Sari Ricuh

- Periklanan -

Pelaksanaan eksekusi lahan di Tanjung Sari, Kelurahan Karaton, Kecamatan Luwuk, Senin (19/3), ricuh. Tampak warga dan polisi bentrok adu fisik saat akan dikeluarkan dari tengah jalan. (Foto: Steven Laguni)

BANGGAI – Eksekusi lahan di Tanjung Sari, Kelurahan Karaton, Kecamatan Luwuk, Kabupaten Banggai, Senin (19/3) kemarin, berakhir ricuh.

Polisi membubarkan paksa warga setempat yang berusaha menggagalkan pelaksanaan eksekusi. Kurang lebih 1.000 personel gabungan TNI-Polri yang disiapkan untuk mengamankan Panitera Sekretaris Pengadilan Negeri Luwuk saat pembacaan keputusan eksekusi tersebut.

Sekira jam 09.00 wita, Kapolres Banggai, AKBP Heru Pramukarno bersama Dandim 1308 Luwuk Banggai, Letkol Nurman Syahreda dan Dansat Brimob Polda Sulteng, Kombes Pol Guruh bersama pasukan meninggalkan mako Polres Banggai menuju lokasi eksekusi, yang berjarak kurang lebih 3 kilometer.

Sesampainya di sana, aparat keamanan dihadang oleh ratusan warga setempat. Tidak hanya itu, akses jalan masuk ke lokasi eksekusi di lahan yang awalnya hanya 6 hektare dan kemudian di putusan pengadilan menjadi 18 hektare sudah beberapa hari sebelumnya ditutup dengan mengunakan bebatuan dan pepohonan bahkan kawat berduri serta ratusan ban kendaraan bermotor.

Ratusan warga Tanjung Sari juga melaksanakan zikir bersama dan salat berjamaah di tengah jalan, sehingga Kapolres Banggai, AKBP Heru Pramukarno serta Dandim 1308 Luwuk Banggai, Letkol Inf Nurman Syahreda, menunda pelaksanaan eksekusi.

Usai salat, sekira jam 13.20 Wita, pasukan pengamanan kembali mengajak kepada warga untuk tidak menghalang-halangi pelaksanaan eksekusi. Namun, lagi-lagi warga menolak hingga akhirnya terjadi aksi dorong dorongan hingga dilakukan penembakan gas air mata dari aparat kepolisian. Sementara warga yang saat itu emosi, melempari batu ke arah polisi sehingga mengenai salah seorang polisi dan salah seorang warga Tanjung, teman seperjuangan mereka.

Sekira jam 15.00 Wita, aparat berhasil melumpuhkan blokade yang dipasang dan mengamankan belasan warga yang diduga sebagai pelaku pelemparan dan penghasutan, termasuk salah seorang pengacara dari pihak warga Tanjung yakni Julianer Aditia Warman.

- Periklanan -

Setengah jam kemudian, tim eksekutor PN Luwuk masuk ke lokasi eksekusi dan membacakan hasil keputusan Mahkamah Agung dan surat perintah Ketua Pengadilan Negeri Luwuk, Ahmad Yani.  Setelah dibacakan dan ditanda tangani berita acara eksekusi oleh pansek PN Luwuk beserta saksi-saksi termasuk, Camat Luwuk, Aslan Lapalanti dan Lurah Karaton Sudarso, satu unit alat berat ekscavator turun dan membongkar abis rumah warga. Namun ada beberapa warga menyatakan menyerah dan meminta waktu agar diberikan kesempatan untuk melakukan pembongkaran dan mengangkat barang-barang milik mereka.

“Kami memberikan kesempatan kepada warga yang ingin membongkar dan mengangkat barang-barang mereka,” ucap Kabag Ops Polres Banggai, Kompol Djamaluddin Darise. Hal itu juga diamini oleh Kuasa Hukum Alih Waris Berkah Albakar, Abdul Salam.

“Silahkan jika ingin membongkar dan mengangkat sendiri barang mereka,” ucap Abdul Salam.

Sayangnya, dari pantauan koran ini, selain pemalangan jalan, warga juga merusak dua bangunan fasilitas umum yakni kantor Kelurahan Karaton dan kantor Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Banggai, yang keduanya berada di lokasi sengketa.

Pintu dan jendela kantor kelurahan Karaton dibakar. Sementara jendelanya, dipecahkan. Demikian hal terjadi di kantor Nakertrans Kabupaten Banggai. Kantor yang dipimpin Yogi Pramanan itu, dirusak dengan cara melempari jendela dengan batu hingga pecah dan berhamburan di lantai.

Asisten Pemerintahan Sekretariat Daerah Kabupaten Banggai, Yudi Amisudin, di lokasi kejadian kepada koran ini menyayangkan tindakan pengrusakan fasilitas umum oleh warga Tanjung. Ketika ditanyakan apakah hal ini akan diusut dan ditindak lanjuti sebagai tindak pidana, mantan Kepala Bagian Pemerintahan Setdakab Banggai tidak memberikan kepastian. Dia hanya mengatakan, sudah melaporkan hal tersebut kepada Bupati Banggai, Herwin Yatim.

“Saya sangat menyayangkan hal ini bisa terjadi. Yang pasti saya sudah melaporkan kejadian ini kepada pak bupati,” kuncinya.

Dalam peristiwa itu, polisi juga menyita puluhan bambu runcing, puluhan bom Molotov, dua buah tabung gas, dan katapel dari lokasi kejadian.(stv)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.