Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Ekonomi Sulteng Tumbuh Hampir Dua Digit

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Ilustrasi kegiatan ekspor. (@bmzIMAGES)

PALU-Tahun 2015 lalu perekonomian Sulteng sangat siginifikan, mencapai lebih dari 15 persen. Tahun 2016, berbagai kalangan memprediksi pertumbuhan ekonomi Sulteng masih di atas dua digit. Bila produksi Nikel dan LNG Sulteng tidak mengalami kontraksi (perlambatan) sepanjang tahun 2016 dipastikan angka pertumbuhan ekonomi Sulteng 2016 masih barada di angka dua digit.

“Pertumbuhan ekonomi kita di tahun 2016 sebesar 9,98 persen. Walau tidak mencapai angka dua digit, pertumbuhan ekonomi kita masih di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi secara nasional,” jelas Kepala BPS Sulteng Faizal Anwar di kantornya kemarin (6/2).

Ia mengungkapkan, pergerakan ekonomi Sulteng tahun 2015 di tahun 2015 lebih didorong dengan adanya kegiatan pertambangan nikel dan LNG di Kabupaten Morowali dan Morowali Utara. Bila pertumbuhan ekonomi Sulteng tahun 2016 9,98 persen, pertumbuhan ekonomi secara nasional yang hanya 5,02 persen.

“Secara kuantitas produksi Nikel dan LNG Sulteng mengalami kontraksi, padahal harga dunia mengalami kenaikan. Kalau produksi Nikel dan LNG kita tidak mengalami kontraksi, pertumbuhan ekonomi Sulteng bisa kembali dua digit,” jelas Sukadana, kabid Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Sulteng, kemarin.

Ia menjelaskan, pertumbuhan terjadi pada seluruh lapangan usaha, kecuali lapangan usaha konstruksi yang mengalami perlambatan. Industri Pengolahan merupakan lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 35,12 persen. Diikuti Pertambangan dan Penggalian sebesar 35,08 persen dan Jasa Keuangan dan Asuransi sebesar 17,66 persen.

Struktur perekonomian Sulteng menurut lapangan usaha tahun 201 6 didominasi oleh tiga lapangan usaha. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 29,56 persen, Konstruksi  sebesar 12,87 persen dan Industri Pengolahan sebesar 11,87 persen.

Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Sulteng tahun 2016, Pertambangan dan

Penggalian memiliki sumber pertumbuhan tertinggi, sebesar 3,91 persen. Menyusul Industri Pengolahan dan Pertanian, Kehutanan dan Perikanan masing-masing sebesar 3,44 dan 0,76 persen.

“Kalau diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku, perekonomian Sulteng mencapai Rp 120,33 triliun. Dan PDRB perkapita sebesar US$ 3.092,71  atau kalau di rupiah-kan mencapai Rp 41,15 juta,” sebut Sukadana.

PDRB per kapita penduduk di Sulteng mengalami trend pertumbuhan, setidaknya dalam tiga tahun terakhir ini. Tahun 2014 lalu PDRB per kapita penduduk Sulteng tercatat sebesar US$ 2.685,38 atau Rp.31,87 juta. Naik menjadi US$ 2.792,70 atau sebesar Rp.37,40 juta tahun 2015, dan naik lagi menjadi Rp41,15 juta tahun 2016.

Sementara itu, dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi tahun 2016 terhadap tahun 2015 terjadi pada seluruh komponen. Pertumbuhan tertinggi dicapai Komponen Ekspor sebesar 110,66 persen; diikuti Komponen Impor sebesar 106,43 persen; dan Komponen Perubahan Inventori sebesar 32,05

persen.

Struktur PDRB Sulteng menurut pengeluaran atas dasar harga berlaku tahun 2016 tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Aktivitas permintaan akhir masih didominasi oleh Komponen

Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga yang mencakup hampir separuh PDRB Sulteng. Komponen lainnya yang memiliki peranan besar terhadap PDRB secara berturut-turut adalah Pembentukan Modal Tetap Bruto; Ekspor Barang dan Jasa; Pengeluaran Konsumsi Pemerintah; dan Impor Barang dan Jasa. Sedangkan Perubahan Inventori dan Pengeluaran Konsumsi LNPRT relatif kecil.

Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan/kontribusi, ekonomi Sulteng Tahun 2016, maka Komponen Ekspor Barang dan Jasa merupakan komponen dengan sumber pertumbuhan tertinggi, yakni sebesar 10,84 persen, diikuti komponen Konsumsi Rumah Tangga sebesar 3,10 persen, dan PMTB sebesar 2,70 persen.

Secara spasial, pertumbuhan ekonomi di Wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua tahun 2016 terjadi di

seluruh wilayah. Pertumbuhan tertinggi triwulan IV-2016 (Q to Q) terjadi pada Provinsi sebesar 8,23 persen, diikuti oleh Provinsi Sulawesi Utara sebesar 7,30 persen dan Provinsi Sulawesi Barat sebesar 5,48 persen. Sedangkan pertumbuhan tertinggi triwulan IV-2016 (Y on Y) terjadi pada Provinsi Papua sebesar 21,41 persen, diikuti oleh Provinsi Sulawesi Tenggara sebesar 7,65 persen dan Provinsi Sulawesi Selatan sebesar 7,60 persen.

Adapun untuk pertumbuhan tertinggi tahun 2016 (C to C) terjadi di Sulteng sebesar 9,98 persen. Diikuti oleh Provinsi Papua sebesar 9,21 persen dan Provinsi Sulawesi Selatan sebesar 7,41 persen. (ars)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.