Ekonomi Sulteng Bebas Resesi

Oleh : Mohamad Rivani

- Periklanan -

SEBAGAI salah satu provinsi penghasil bahan tambang nikel terbesar di Indonesia, Sulawesi Tengah memperlihatkan pertumbuhan ekonomi yang positif di triwulan III tahun 2020. Dalam rilis yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah tanggal 5 November 2020, tercatat pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah sebesar 2,82 persen. Hasil ini tentunya sangat lebih baik dibanding triwulan sebelumnya yang hanya sebesar -0,06 persen. Pertumbuhan ekonomi Sulteng merupakan tertinggi kedua se Indonesia di bawah Maluku Utara yang tumbuh sebesar 6,66 persen di triwulan yang sama secara Year on Year (y-o-y).

Capaian pertumbuhan ekonomi Sulteng yang positif di triwulan III 2020 tak terlepas dari tumbuhnya 9 sektor dari 17 sektor klasifikasi lapangan usaha yang ada. Dalam rilis yang dikeluarkan oleh BPS Sulteng, terlihat sektor yang paling besar tumbuh adalah Industri Pengolahan, yang mampu tumbuh sebesar 27,79 persen, disusul Jasa Keuangan yang tumbuh sebesar 12,28 persen, Informasi dan Komunikasi sebesar 8,72 persen, Jasa Kesehatan 6,70 persen, Pertambangan 6,62 persen, Pengadaan Listrik 5,18 persen, Administrasi Pemerintahan 2,16 persen, Pertanian 1,08 persen dan terakhir Real Estate sebesar 0,77 persen.

Masih dalam rangkaian rilis pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah, terdapat juga sektor yang masih tumbuh minus di triwulan III 2020 yaitu, transportasi sebesar -37,52 persen, kemudian Konstruksi -11,14 persen, Akomodasi Makan dan Minum -10,13 persen, Perdagangan -4,68 persen, Jasa Perusahaan -3,47 persen, Jasa Pendidikan -1,62 persen, Jasa Lainnya -1,37 persen, serta Pengadaan Air sebesar -0,66 persen.

Jika dilihat lebih jauh lagi, maka akan terlihat bahwa sektor Industri Pengolahan adalah yang paling tinggi tumbuhnya di Triwulan III 2020 yaitu sebesar 4,74 persen secara Year-on-Year (y-o-y). Sedangkan jika melihat sisi pertumbuhan menurut pengeluaran, maka Ekspor Sulteng menjadi yang tertnggi dengan angka sebesar 37,18 persen, disusul Pengeluaran Konsumsi Pemerintah sebesar 5,77 persen, dan terakhir LPNRT sebesar 1,85 persen, disamping itu juga, ada 3 (tiga) komponen yang menekan perekonomian Sulteng walaupun mampu tumbuh.

Tiga komponen tersebut adalah impor yang naik 22,88 persen, kemudian PMTB yang terkontraksi (-)11,02 persen serta Pengeluaran Rumah Tangga yang terkontraksi (-) 4,80 persen. Untuk Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Tengah pada Triwulan III 2020 sebesar Rp 28.803,12 milliar atas dasar harga Konstan (ADHK) dan sebesar Rp 41.899,34 milliar atas dasar harga berlaku (ADHB).

- Periklanan -

Ekonomi Sulteng yang tumbuh positif menjadikan daerah ini tidak terkena resesi seperti halnya Indonesia dan daerah lain yang ada di Indonesia semisal Provinsi Bali. Kita ketahui bersama bahwa Provinsi Bali sangat terpukul dengan adanya wabah Covid-19 yang mengakibatkan sektor pariwisata di daerah ini ambruk sehingga menimbulkan efek domino ke sektor Transportasi, Akomodasi dan perhotelan yang menjadi tulang punggung perekonomian Provinsi yang berjuluk Pulau Dewata.

Sekadar informasi bahwa ekonomi Bali di triwulan III 2020 terkonstraksi sebesar (-) 12,28 persen setelah di triwulan sebelumnya juga mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar (-) 10,98 persen yang mengakibatkan daerah ini masuk ke jurang Resesi. (Syarat dua triwulan berturut-turut pertumbuhan ekonomi minus terpenuhi).

Ekonomi Sulteng yang saat ini tumbuh positif menjadi sinyal yang baik buat pemerintah dan masyarakat agar terus melakukan dinamisasi ekonomi, caranya dengan meningkatkan pengeluaran konsumsi yang bermanfaat, agar perputaran ekonomi terus meningkat kearah yang lebih baik. Dan khusus dari sisi pemerintah, disarankan mengoptimalkan sisa Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang belum seluruhnya terserap di triwulan III, untuk dibelanjakan di akhir tahun ini, baik guna keperluan belanja modal, pegawai, maupun untuk program bantuan stimulan ke masyarakat, agar uang yang dikeluarkan untuk keperluan tersebut dapat dioptimalkan menggerakkan ekonomi masyarakat Sulawesi Tengah.

Terlebih lagi jika dana stimulan bencana yang saat ini belum cair sepenuhnya dapat dicairkan untuk memperbaiki infrastruktur perumahan masyarakat yang terdampak akibat gempa 28 September 2018, kemudian uang tersebut dibelanjakan oelh masyarakat penerima di toko-toko bahan material, tentunya akan menambah dinamisasi ekonomi Sulawesi Tengah agar dapat bergeliat dan bergairah kembali ditengah terpaan badai Covid-19 tahun 2020. Mudahan-mudahan segera terealisasi. Semoga.

*) Penulis adalah ASN BPS Provinsi Sulawesi Tengah.

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.