Dulu di Musala Al Mubarak, Sekarang di Masjid Ar Rahmat

Tiap Tahun MUI Palu Bersama PT MMR Gelar Khitanan Massal

- Periklanan -

SEJAK tahun 1998, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu bersama keluarga besar H Syamsudin Oemar (PT Macindo Mitra Raya) melaksanakan kegiatan sosial berupa khitanan massal 1440 H. Tahun ini (2019) sudah yang ke-21 kalinya. Setiap tahun ditarget 200 anak dan totalnya sudah ribuan yang di sunat.

- Periklanan -

MURTALIB, Loli Dondo

MINGGU pagi kemarin (25/8) jalan Trans Palu—Donggala masih sepi. Seiring terbitnya mentari pagi yang menyinari Masjid Ar Rahmat, Loli Dondo (London), Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah satu persatu undangan berdatangan. Lokasi masjid Ar Rahmat yang strategis memudahkan tamu undangan mencari lokasi tersebut. Di teras masjid yang menghadap ke teluk Palu terlihat tim para medis yang dipimpin dua dokter masing-masing, dr Tofan dan dr Ricky mulai sibuk mempersiapkan peralatan khitanan.
Untuk tertibnya proses khitanan massal, satu persatu anak didampingi orangtua maupun keluarga di data dan diberikan identitas nomor urut. Selanjutnya, peserta dan tamu udangan dipersilahkan menempati tenda yang ada di halaman masjid. Sebelum khitanan dimulakan, dr Tofan diberikan kesempatan memberikan edukasi tentang pelaksanaan khitanan dari aspek medis maupun usia yang dianjurkan.
Sedangkan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu dan H Syamsudin Oemar juga diberikan kesempatan menjelaskan agenda khitanan setiap tahun dan pelaksanaan setelah hari raya Idul Adha. Targetnya 200 anak tiap tahun di khitan. 100 anak dari Kota Palu dan 100 anak dari Kabupaten Donggala. Pengumumamnya dilakukan lewat kegiatan Palu Subuh Berkah (PSB) maupun Palu Magrib Berkah (PMB). Lainnya lewat para kepala desa yang ada di sekitar lokasi Masjid Ar Rahmat, Loli Dondo.
”Program ini insya Allah terus berkelanjutan dan akan kita laksanakan setiap tahun setelah lebaran haji. Khitanan massal hari ini sudah yang ke 21 kali dan dimulai sejak tahun 1998 di Masjid Al Mubarak. Untuk pelaksanaan di masjid Ar Rahmat sudah ke 5 kalinya,” kata Prof Zainal Abidin, ketua MUI Kota Palu dalam sambutannya, kemarin.
Selama 21 tahun dilaksanakan program ini lanjut Prof Zainal, jumlah anak yang di khitan bila estimasinya tiap tahun 100 anak, maka sudah ribuan yang di sunat oleh H Syamsudin Oemar. Apalagi targetnya 200 anak setiap tahun. Ini program mulia dan perlu diteladani oleh para dermawan. Apalagi program khitanan massal ini kontinyu dan diadakan setelah lebaran Idul Adha.
Dari unsur Pemkab Donggala tampak dihadiri Kades Loli Dondo Arwin dan Wakapolres Donggala Kompol H Abu Bakar SH. Melihat lokasinya di wilayah Donggala, harusnya banyak pejabat Donggala yang hadir. Justru kebalikan yang hadir banyak pejabat dan tokoh masyarakat dari Kota Palu.
Masih kata Prof Zainal, kegiatan khitanan massal ini tetap kita laksanakan karena kegiatan sosial ini semata-mata ingin membantu masyarakat dan tidak mempunyai pamrih apalagi motivasi politik. ”Murni kegiatan sosial yang digagas dewan penasehat MUI dan MUI Kota Palu sebagai pelaksana. Dari target 200 anak yang dikhitan rinciannya 100 anak dari Kota Palu dan 100 anak lagi dari Donggala dan desa sekitar Lolidondo. Faktanya sesuai laporan ketua panitia Agung Dwi Cahyono, anak anak dari Palu semakin berkurang dan banyak dari wilayah Donggala,” ungkapnya.
Khitanan kata prof Zainal bagi ummat muslim fundamental dan baik untuk kesehatan. Dimulai pada zaman Nabi Ibrahim dikhitan pada saat usia 80-an tahun. Khitan atau sunat adalah ajaran Nabi Ibrahim yang diperintahkan Nabi Muhammad untuk melanjutkannya. Qs.An Nahl: 123. ( kemudian kami wahyukan kepadaMu (Muhammad) ikutilah ajaran Ibrahim yang hanif. Berbeda pendapat ulama tentang hukum khitan. Tetapi sepakat bahwa khitan adalah telah disyariatkan islam. Banyak manfaat dari khitan selain kebersihan dan kesehatan juga mudah mensucikan diri dari najis air seni.
Sunatan masal telah di laksanakan 21 kali sejak 1998. Di Masjid Ar Rahmat Loli Dondo tahun ke empat. Mantan Rektor IAIN Palu juga mengucapkan Terima kasih kepada H Syamsudin Oemar (HSO) baik sebagai direktur PT Macindo Mitra Raya maupun sebagai penasehat MUI yang telah mensponsori kegiatan ini. Sunatan gratis dengan pemberian perlengkapan sarung baju koko dan obat paten kepada anak-anak . Tahun ini target peserta 200 orang. HSO berusaha untuk kegiatan sosial terus dilaksanakan dengan membantu masyarakat khusus yang tidak mampu untuk menjalankan syariat agama. Bahkan membantu meringankan kewajiban para orangtua.
Sementara Dewan penasehat MUI Kota Palu, H Syamsudin Oemar menjelaskan dipilihnya Masjid Ar Rahmat sebagai tempat pelaksanaan khitanan massal selain tempat ini akan dijadikan pusat kajian islam, lokasi ini sangat representatif karena berada di tengah-tengah jalur Trans Sulawesi antara Kota Palu dan Kabupaten Donggala. ”Yang dari Donggala bisa menjangkau, demikian juga yang dari Palu. Bagi yang tidak memiliki kendaraan MUI Palu juga menyiapkan transportasi,” kata Syamsudin.
Direktur PT Macindo Mitra Raya juga menyebut undangan unsur Pemkab Donggala sudah dikirim termasuk jajaran MUI Donggala. Selaku penasehat MUI Kota Palu kata Syamsudin pihaknya melalui MUI sudah beretikad baik dengan mengundang unsur Pemkab maupun Tripika mulai para Kades, pihak Kecamatan, Danramil maupun Kapolsek Banawa. Semestinya kalau pimpinannya berhalangan kan bisa diwakili karena kegiatan sosial ini bertujuan untuk membantu masyarakat Banawa maupun kota Palu. ”Hanya saja karena tempatnya di Desa Loli Dondo kamipun harus meminta izin minimal dengan pak Kades,” ungkap Syamsudin seraya menyebut kegiatan sosial ini akan berkelanjutan.
Perlu diketahui, Desa Loli Dondo dikenal dengan sebutan dusun tujuh atau rumah tujuh. Namun seiringnya dibangunnya masjid Ar Rahmat yang didanai pribadi H Syamsudin Oemar desa ini menjadi terkenal hingga dimana mana karena masjid ini banyak disinggahi para musafir. Bahkan keberadaan masjid ini banyak yang memviralkan di media sosial. ”Atas nama masyarakat Desa Loli Dondo kami hanya bisa mendoakan semoga H Syamsudin Oemar tetap diberikan kesehatan dan banyak rezeki. Semoga harapannya menjadikan desa Loli Dondo pusat kajian Islam bisa terwujud,” tegas Arwin seraya mengatakan, setiap tahun halaman masjid Ar Rahmat dijadikan lokasi salat Idul Fitri dan Idul Adha.
Dari pantauan Radar Sulteng, tim medis khitanan dipimpin dr Tofan dan dr Ricky dari RS Wirabuana. Untuk mengkhitan 200-an anak jumlah tim medis termasuk perawat yang dilibatkan sebanyak 32 medis dari pukesmas, Rumah Sakit termasuk para medis dari Donggala. Sedangkan meja khitan yang disiapkan sebanyak 10 meja. Adapun alat yang digunakan mengkhitan model baru dengan cara laser. Dimulai pukul, 09.00 wita dan diperkirakan khitanan selesai sebelum salat ashar. Tim medis juga menggunakan obat paten berkualitas. Setiap anak yang dikhitan mendapat perlengkapan alat salat dan celana khitan juga uang saku dari MUI Kota Palu. (*)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.