Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Dukungan untuk Muslim Rohingya Terus Mengalir

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Muhammad Hasan Al-Banna, salah satu Balita yang ikut orangtuanya dalam aksi bela Rohingya, yang digelar kelompok Tarbiyah Kota Palu, Jumat sore (8/9). (Foto: Hanif)

PALU – Dukungan dan doa untuk umat Islam di Rohingya, Myanmar terus mengalir dari tanah air. Sebelumnya massa dari Forum Umat Islam (FUI) Sulteng yang menggelar aksi bela Rohingya, Jumat sore kemarin, giliran beberapa organisasi yang turun ke jalan, menyuarakan keprihatinan untuk Muslim Rohingya.

Massa dari Front Pembela Islam (FPI), menggelar aksi pada siang hari. Bundaran Hasanuddin, menjadi salah satu titik yang dijadikan massa, untuk membaca pernyataan sikapnya. Massa FPI, turun menggelar aksi, setelah salat duhur.

Setelah salat Ashar, atau sekitar pukul 16.00, giliran Kelompok Tarbiyah Kota Palu, yang menggelar aksi keprihatinan untuk Muslim Rohingya. Bundaran Hasanuddin, juga menjadi pilihan kelompok Tarbiyah, menggelar aksi. Selain menggelar orasi, kelompok yang selalu membawa anak-anaknya menggelar aksi ini, juga melakukan penggalangan bantuan.

“Cukup lumayan dana yang terkumpul. Warga Palu tampak antusias memberikan donasinya. Terima kasih, sudah memberikan kepercayaan kepada kami, menyalurkan bantuan untuk saudara kita yang ada di Rohingya,”kata Ustad Citrawan Kisman Jiho, koordinator aksi.

Menurut Ustad Citrawan, yang juga aktivis Ikatan Dakwah Indonesia (Ikadi) ini, bahwa kelompok tarbiyah, merasa terpanggil untuk menyuarakan tuntutan, agar pemerintah Indonesia, secara aktif menekan Myanmar, untuk menghentikan genosida terhadap Muslim Rohingya.

“Kita Umat Islam, ibarat satu tubuh. Ketika ada yang tersakiti, maka kita juga ikut merasakan sakit. Olehnya itu, sore ini (kemarin, red), kita kembali turun ke jalan, menyuarakan tuntutan dan berdoa, semoga saudara kami di Rohingya, terlepas dari penderitaannya,”katanya lagi.

Yang menarik, dalam aksi kemarin, tidak hanya dilakukan oleh orang-orang dewasa. Beberapa anak-anak, bahkan ada di antaranya masih berusia di Bawah Lima Tahun (Balita), ikut dalam aksi dan ikut mengangkat pamphlet, berisi tuntutan yang disuarakan kelompok yang dikenal semanhaj dengan gerakan Ikhwan Al-Muslimun tersebut. Di akhir aksi, salah satu peserta aksi, memimpin doa bersama. Banyak di antara peserta aksi, yang terharu dan meneteskan air mata, ketika berdoa.

Sementara itu, dari Jakarta, Anggota Komisi I DPR yang membidangi urusan luar negeri, Sukamta mengharapkan pemerintah memberikan tenggat waktu atau deadline kepada Myanmar untuk menghentikan kekerasan terhadap etnis muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine.

Menurutnya, tenggat waktu itu penting agar etnis minoritas di Myanmar itu tak terus-menerus jadi sasaran kekejaman.

“Upaya penghentian kekerasan ini perlu ada target waktu. Dan apabila pemerintah Myanmar tidak bisa mencapai batas waktu yang ditentukan, harus ada evaluasi segera,” kata Sukamta di Jakarta, kemarin.

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menambahkan, upaya Indonesia tidak boleh berhenti pada solidarity maker. Sebab, lanjutnya, Indonesia juga harus berperan sebagai mediator dalam mencari solusi damai bagi warga Rohingya dan otoritas Myanmar di Rakhine.

Sukamta menambahkan, persoalan Rohingya ini telah berlangsung puluhan tahun. Bahkan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut etnis Rohingya saat ini mendapat perlakuan paling buruk di dunia.

Karena itu, lanjutnya, Indonesia bisa mengajak dunia internasional untuk mendorong pemerintah Myanmar memberi pengakuan kewarganegaraan bagi etnis Rohingya serta menjamin hak-haknya. “Ini untuk memastikan tragedi serupa tidak lagi terulang,” ucap politikus asal Yogyakarta ini.

Lebih lanjut Sukamta mengatakan, Indonesia harus bisa memanfaatkan kedekatan dengan Myanmar untuk mendorong demokrasi dan keterbukaan di negeri yang dahulu bernama Burma itu. Apalagi Indonesia cukup berhasil dalam proses transisi demokrasi, serta punya pengalaman dalam menangani konflik suku, agama, ras dan antar-golongan (SARA).

“Konflik berbau SARA yang pernah terjadi di Ambon, Maluku Utara dan Poso, bisa diselesaikan dengan dialog antar-pemuka agama. Pengalaman-pengalaman ini bisa ditularkan ke Myanmar,” kata direktur Crisis Center For Rohingya DPP PKS itu.(hnf/fat/jpnn)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.