alexametrics Dua Tahun Pascabencana, Berhasil Bangun Kembali Kehidupan – RADAR SULTENG
Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Dua Tahun Pascabencana, Berhasil Bangun Kembali Kehidupan

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

PALU – Bantuan yang diberikan Arsitek Komunitas (Arkom) Indonesia untuk warga Mamboro, sejatinya bukan hanya membangun rumah, namun bagaimana membangun kembali kehidupan pascabencana. Untuk itu lah, sejak tanggap bencana hingga masa rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan, para penyintas selalu dilibatkan Arkom di setiap programnya.

Ketika pertama mengabdikan diri untuk warga Mamboro, Arkom telah membangun psikologis para penyintas, bahwa mereka bukan korban, yang harus terpuruk akibat bencana. Mereka diajak untuk membangun kembali kampungnya, dengan bergotong royong.

BERI ARAHAN : Koordinator Program Arkom, Yuli Kusworo saat mendapingi warga membahas pembangunan Huntap. DOK ARKOM

Hasilnya, setelah dua tahun pascabencana, mereka mampu mendirikan kembali rumah masing-masing. Menurut Koordinator Program Arkom Indonesia, Yuli Kusworo, Arkom hadir dengan membantu masyarakat, lewat transfer pengetahuan yang dimiliki. Mulai dari pengetahuan tentang perencanaan wilayah, hingga pada rancang bangunan juga ketahanan ekonomi masyarakat.

“Kita berikan pengetahuan, contohnya membangun kampung itu harus ada sepadan jalan, juga drainasenya. Sehingga dalam proses capacity building (membangun kapasitas) ini, kita juga bangun ketangguhan masyarakat. Karena di balik membangun rumah, kita juga membangun sosial masyarakat tentang rasa memiliki bersama,” papar Yuli.

Dari awal pun, pihaknya menyampaikan, bahwa Arkom hadir hanya untuk memfasilitasi warga kembali mendapatkan rumah. Prosesnya, adalah warga sendiri. Dengan proses membangun rumah ini, otomatis, juga akan membangun ekonomi warga sendiri.

Karena mereka yang terlibat diberdayakan, dan tidak hanya mendapatkan penghasilan, namun juga mendapatkan pengetahuan lain, di mana sebelumnya mereka hanya bermata pencarian sebagai nelayan. Rumah yang dibangun dengan Sistem Risha (Rumah Instan Sederhana Sehat) yang anti gempa ini, menggunakan panel beton, yang diproduksi juga oleh warga Mamboro, dengan kwalitas terjamin kuat.

“Kami inginkan, setelah dua tahun didampingi, ini menjadi titik balik masyarakat, untuk bisa mandiri dan bangkit lewat proses yang Arkom damping,” jelasnya.

Setelah pembangunan rumah ini selesai, diharapkan masyarakat yang telah berkelompok, semakin kuat organisasinya untuk menghadapi kehidupan normal lewat dana kelompok, yang dikumpulkan ke rekening kelompok. Dengan proses dan pengetahuan yang telah diberikan sebelumnya, Yuli yakin, kelompok masyarakat ini bisa mengelola keuangan dengan mekanisme yang baik ketika berusaha.

Khusus untuk rumah yang telah terbangun, disampaikan Yuli ada 36 rumah sudah terbangun di atas lahan 5.000 meter persegi. Tidak hanya hunian, ada pula ruang terbuka yang dipersiapkan untuk membangun mushola serta titik kumpul.

Di tahap awal ada 10 rumah panggung dan dua rumah tapak yang dibangun. Melihat konsep yang dibawa oleh Arkom, dengan memberdayakan masyarakat, BPBD bersama PUPR pun yang tadinya akan merelokasi warga Mamboro lainnya, ke Huntap yang dibangun di luar Kelurahan Mamboro, akhirnya mau ikut bersinergi.

“Mereka yang tadinya hendak di Relokasi ke Huntap di luar Mamboro, akhirnya diperkenankan membangun di lahan yang difasilitasi Arkom, sehingga ada 24 rumah lainnya yang dibangun di kompleks eks situ dengan menggunakan skema relokasi mandiri,” ungkap Yuli.

Kini, area Huntap relokasi mandiri ini, juga sudah mendapat dukungan pemerintah. Seperti akan dilakukannya pengerasan jalan menuju Huntap dan mulai dibangunnya drainase lewat Program Kotaku dari PUPR. Dalam waktu dekat, Huntap juga akan segera teraliri listrik.

“Kami sangat bersyukur, setalah berbagai pihak melihat konsep yang dibawa Arkom ini berhasil, akhirnya mendapat perhatian sejumlah instansi,” imbuh Yuli.

Berbeda dengan Hunian Tetap, yang dibangun di sejumlah tempat, di Huntap yang difasilitasi Arkom tersebut, memang tampak tidak seragam. Mulai dari pemilihan warna cat antar rumah, sampai ornamen-ornamen pendukung rumah lainnya.
Semua diserahkan kepada masyarakat untuk memilihnya.

“Begitu juga dengan arsitektur rumah panggung ini, awalnya kita minta warga menggambarkan secara kasar bagaimana rumah idaman mereka. Dan dominan mereka gambar rumah panggung, kami pun mewujudkan arsitekturnya dengan menggabungkan arsitektur rumah panggung khas kaili dan bugis,” katanya.

Konsep dari Arkom, dengan memberdayakan kelompok masyarakat dalam membangun kembali hunian ini pun, telah mendapat apresiasi dari Pemerintah Kota Palu.
Sehingga, kedepan diharapkan masyarakat Mamboro, khususnya Mamboro Perikanan, yang sudah paham mekanisme ini bisa pula menularkan konsep ini ke komunitas warga lainnya. Lebih jauh disampaikan Yuli, skema yang mereka buat di Mamboro ini, juga tengah dikembangkan di wilayah Desa Tompe, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala. Di wilayah tersebut,

rencananya ada 15 unit Huntap yang bakal dibangun. Kini tahapannya, telah masuk pada proses pembersihan lahan untuk Huntap. (agg)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.