Dua Orang PDP di Undata Menunggu Hasil Lab Kemenkes

- Periklanan -

PALU – Dua perempuan yang dirujuk ke RS Undata Kota Palu yang saat ini masih dalam status Pasien Dalam pengawasan (PDP) masih dilakukan perawatan di ruangan isolasi. Kedatangan kedua pasien tersebut karena memiliki gejala batuk, panas, dan agak sesak nafas, dan memiliki riwayat dari keluar daerah yaitu Jakarta.

Kedua pasien adalah wanita, satu berumur 60 tahun dan satunya masih 17 tahun. Perawatan dilakukan sampai adanya hasil laboraturium (lab) sampel swab dari Kementerian Kesehatan.

Direktur RS Undata, Dr Komang Adi Sujendra, menyampaikan sebelumnya pihak RS telah membentuk tim untuk menangani Covid 19 atau virus korona, dengan menyediakan ruangan isolasi, dan tenaga medis serta buku pedoman dari Kementerian Kesehatan. Dengan lima RS di Sulteng sebagai RS rujukan, termasuk RS Undata.

- Periklanan -

“Sesuai dengan yang sudah beredar di masyarakat dimana ada pasien yang dirujuk dari Pasein RS Balai Keselamatan, yaitu pasien wanita usia 60 tahun, dengan gejala batuk, panas, dan agak sesak nafas, dan telah dilakukan pemeriksaan laboratorium sederhana, dan kemudian dirujuk ke kami dengan devisini PDP, dan belum merupakan hasil Covid 19, dan masih dalam pengawasan, dan masih dirawat di ruang isolasi,” jelasnya, Minggu (15/3).

Kemudian, disusul salah satu pasien rujukan dari RS budi Agung, di waktu yang hampir bersamaan, pasien adalah seorang Wanita usia 17 tahun, gejalanya yaitu panas ada sedikit gejala Ispa, namun saat ini kedaanya sudah membaik dan sudah stabil serta sudah tidak panas lagi. “Saat ini kedua pasien telah diambil sample swab untuk dikirim Kemenkes, namun untuk pengirimannya dilakukan besok. Belum diketahui kapan hasilnya akan keluar, akan tetapi diupayakan secepatnya dikeluarkan, dan disitulah diketahui bagaimana statusnya, kalau sekarang masih dalam PDP,” terang Komang Adi.

Dirinya menyampaikan untuk biaya pasien dalam perawatan semuanya akan diklaim oleh pihak rumah sakit kepada Kemenkes, dan apabila pasien tersebut positif maka beban tersebut akan ditanggung sepenuhnya oleh Kemenkes. “Karena tidak harus pasien yang status PDP menjadi positif banyak juga yang bisa disembuhkan. Namun kalau biaya saat saya mengikuti rapat akan ditanggung semua oleh Kemenkes,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa ada perbedaan devinisi terkait dengan ODP dan PDP, dimana ODP orang dalam pemantauan orang dalam gejala demam, batuk, pilek, dan ada riwayat dengan orang yang terkonfirmasi positif Covid 19, sedangkan PDP tentunya orang tersebut harus dirujuk ke rumah sakit dan harus dirawat di ruang isolasi yang telah ditetapkan. “ODP, Pasien dipantau saja dirawat di rumah, dan menggunakan masker, dan PDP harus dirawat di RS, dan tidak ada kriteria suspek,” jelas tambahnya. (who)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.