Dua Orang Mengarah ke Tersangka Malapraktik di RS Anutapura

- Periklanan -

Ilustrasi (@jpnn.com)

PALU – Dugaan kasus malapraktik yang terjadi di RSU Anutapura Palu tahun 2016 lalu, terus berproses di meja penyidik Reserse Kriminal Umum (Reskrimum) Polda Sulteng.

Kasus yang menyebabkan pasien meninggal dunia atas nama (alm) Nur Indah Restuwati itu, sudah mengarah ke calon tersangka. Ada dua orang menguat ke arah tersangka oleh penyidik.

Kabid Humas Polda Sulteng AKBP Hari Suprapto Selasa (9/5) mengatakan, meski belum resmi status kasusnya ditingkatkan penyidik Polda Sulteng ke tingkat penyidikan, tapi sudah 20 saksi yang telah memberi keterangan. “Termasuk dua yang dinilai bisa mengarah ke tersangka, juga telah dimintai keterangan,” kata Hari tanpa merinci dua calon tersangka.

Juru bicara Polda Sulteng itu menjelaskan, laporan dugaan malapraktik ini terjadi pada 15 Agustus 2016. Kejadiannya pagi hari sekitar pukul 10.00 Wita. Saat itu, pasien masuk unit gawat darurat (UGD) kebidanan untuk dilakukan pemeriksaan kehamilan.

- Periklanan -

“Selanjutnya sekitar pukul 15.00 Wita pasien dipindah keruangan merak untuk dilakukan perawatan atau observasi,” ungkapnya.

Kemudian, di tanggal 16 Agustus 2016 sekitar pukul 09.00 Wita korban masuk dalam ruangan operasi Cesar (melahirkan) dan ditangani dr.H dan tim. Saat itu diketahui korban mengalami plasenta menutupi jalan lahir. Berdasarkan hasil USG RSU Anutapura Palu pada tanggal 8 Agustus 2016 oleh dr M dilakukan operasi, kemudian korban dikeluarkan dari ruang observasi untuk penanganan lebih lanjut, diketahui korban telah dilakukan ikatan kandungan karena melahirkan anak ketiga.

“Akan tetapi sekitar pukul 16.30 Wita dengan alasan kama tensi korban kurang baik dan alat ruang ICU lebih lengkap, sebagaimana penyampaian perawat di ruang operasi maka korban dipindah keruang ICU dan pasien diketahui mengalami pendarahan hebat,” jelas Hari mengutip keterangan saksi saat diperiksa penyidik.

Lanjut Hari, sedangkan pengakuan dr H selaku dokter spesialis yang menangani korban, sejak dilakukan operasi sampai dengan korban pindah ke ruang ICU kondisi korban tidak sadarkan diri. Pelapor selaku suami korban bernama Muhamad Ebtawan SH kepada perawat ICU menyampaikan melihat istrinya hanya diperiksa perawat, kowas dan asisten dokter spesialis sementara tidak ada dokter spesialis kandungan,” kata pelapor dikutip Hari Suprapto.

Masih menurut Hari, sekitar pukul 21.30 Wita dr H mendatangi ruang ICU RS Anutapura Palu untuk melihat kondisi korban yang tidak sadarkan diri sejak pukul 17.14 Wita dan mengatakan pendaharan yang dialami pasien, karena placenta akreta posisi bawah yang melekat pada dinding rahim. Pada hari Rabu tanggal 17 Agustus 2016 sekitar pukul 06.45 korban meninggal dunia dan saat itu dr H sama sekali tidak pernah datang untuk melihat korban dan diketahui bahwa korban telah dilakukan kuret tanpa sepengetahuan dan seizin pelapor sebagai suami korban.

“Penyidik sedang mengumpulkan sejumlah bukti-bukti di antaranya, bundel foto copy rekam medik korban, surat keputusan RSU Anutapura Palu, surat jaga pengantian jadwal jaga konsulen, rangkap surat PF. Radiologi Ultrasonografi atas nama korban yang akan digunakan dalam melengkapi berkas perkara kasus tersebut,” jelas Hari Suprapto. (cr3)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.