Portal Berita Online koran Harian Umum Radar Sulteng. Berbasis di Palu, Sulawesi Tengah dan merupakan Jaringan Media Jawa Pos National Network (JPNN)

DSLNG Salah Satu Penopang Ekonomi Pascabencana Pasigala

Tercatat Pascabencana Pertumbuhan Ekonomi Sulteng di Angka 6,7 Persen

PALU – Bencana gempa bumi yang melanda Palu, Sigi, Donggala (Pasigala) 28 September 2018, sempat membuat pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah (Sulteng) merosot. Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena sektor industri nikel dan gas yang ada di wilayah timur Provinsi Sulteng ikut menopang. Salah satunya adalah industri gas milik Donggi Senoro Liquefied Natural Gas (DLNG).

Secara umum dan secara bertahap pertumbuhan ekonomi Sulteng kembali pulih dan terus tumbuh. Pascabencana pertumbuhan ekonomi Sulteng pada triwulan II 2019 diperkirakan membaik pada kisaran angka 6,3-6,7 persen. Hal itu diungkapkan ekonom yang juga mantan Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Tengah, Miyono kepada Radar Sulteng belum lama ini.

Menurut Miyono yang saat ini bertugas sebagai Kepala BI Jogjakarta, salah satu penopang ekonomi, sehingga pascabencana pertumbuhan ekonomi di Sulteng tidak begitu merosot, salah satunya pendukung adanya perbaikan sektor konsumsi rumah tangga yang sebelumnya sempat melambat. Selanjutnya tingkat investasi yang semakin meningkat seiring tahap rekonstruksi yang mulai berjalan secara masif dan juga adanya peningkatan produksi pertambangan di bidang nikel dan migas.

Miyono tidak membayangkan jika pada saat terjadi bencana alam tersebut Sulteng tidak memiliki industri-industri nikel maupun industri migas. Dipastikan pertumbuhan ekonomi Sulteng akan merosot jauh. Bersyukur ada beberapa industri, khususnya di wilayah Timur Sulteng yang begitu kuat menjadi penopang ekonomi pascabencana lalu. “Memang kalau untuk wilayah terdampak bencana Palu, Sigi, Donggala dampaknya ekonomi khususnya, konsumsi awal-awalnya sangat terasa, Tapi secara makro di Provinsi Sulteng terus menunjukan peningkatan,” ujarnya.

Namun secara umum untuk di Sulteng pertumbuhan ekonominya relatif tumbuh. Pertumbuhan ekonomi Sulteng tidak begitu merosot karena ikut ditopang oleh sektor industri, salah satunya adalah industri gas dari PT. DSLNG di Kabupaten Banggai.
Miyono menyebutkan, keberadaan DSLNG diharapkan dapat memberikan multiplier effect bagi penduduk lokal, penyerapan tenaga kerja penduduk lokal.

Jangan sampai penduduk lokal kesannya hanya menjadi penonton, di tengah keberadaan perusahaan industri warga lokal bisa memanfaatkannya dengan pembukaan lapangan kerja dengan hadirnya UKM-UKM masyarakat lokal. “Diharapkan keberadaan DSLNG Banggai juga memberikan perhatian terhadap UKM warga lokal melalui program CSRnya, sehingga Banggai secara umum dan khususnya ibukotanya Luwuk akan semakin maju,” jelasnya.

Menurut Miyono, DSLNG termasuk perusahaan yang bisa dikatakan sangat matang dalam pengelolaan manajemen dan juga dalam menggunakan teknologi tinggi dalam pengolahan industrinya. “Makanya kita lihat DSLNG adalah industri yang kurang dengan pemberitaan-pemberitaan negatif,” ujarnya.

Hal senada dikatakan dikatakan Corporate Communication Manager PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) Hanafi Thamrin, Jumat (17/5/2019) di Palu. Menurut Hanafi pascabencana 28 September 2018 yang berdampak pada wilayah Palu, Donggala, Sigi dan sebagian Parigi Moutong, berimbas terganggunya pertumbuhan ekonomi Sulteng, khususnya pada sektor perdagangan, pertanian dan jasa.

Imbas dari bencana Pasigala itu, ternyata pertumbuhan ekonomi Sulteng masih relatif stabil dan berada di angka 6,3 persen di atas pertumbuhan nasional 5,3 persen. “Hal ini seperti disampaikan Bank Indonesia pewakilan Sulawesi Tengah, yakni pertumbuhan ekonomi Sulteng pascabencana ditopang sektor industri salah satunya industri migas,” ujarnya.

Thamrin kemudian menguraikan, di bidang CSR, DSLNG masih terus melakukan pendampingan program pengembangan masyarakat, khususnya pendampingan mitra binaan di beberapa bidang yang sudah berjalan di antaranya bidang pendidikan, pertanian, UKM dan lainnya.

Thamrin berharap kehadiran DSLNG di Sulteng selalu mendapat dukungan dari masyarakat dan pemerintah daerah, bersama-sama memberikan kontribusi yang baik untuk menjadi terdepan dalam pembangunan Sulteng yang lebih baik. “Kami berterima kasih kepada semua pihak atas dukungannya selama ini,” ucapnya.

Untuk diketahui Donggi-Senoro merupakan kilang gas cair (LNG) keempat yang dibangun pemerintah setelah Arun, Bontang dan Tangguh (Train I dan II). Investasi yang ditanamkan khusus untuk membangun kilangnya mencapai Rp 37,5 triliun atau hampir separuh dari total investasi mega proyek tersebut.

Kilang berkapasitas 2,1 juta ton per tahun menjadi awal pembangunan kilang dengan skema hilir. Proyek ini memisahkan produksi gas alam cair dari kegiatan hulu. Skema ini juga menguntungkan negara sebab memungkinkan pembangunan kilang tanpa diperlukan pergantian biaya (cost recovery) ketika mulai beroperasi.

Lapangan Senoro dan Lapangan Donggi-Matindok adalah penghasil gas bumi Indonesia yang terletak di kabupaten Banggai, provinsi Sulawesi Tengah. Di samping itu, sejumlah kondensat juga dihasilkan oleh lapangan-lapangan tersebut.

Donggi-Senoro sudah mulai dapat mengirimkan LNG tahun 2015 dan Matindok mulai 2017. Semua proyek hulu migas merupakan langkah nyata untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. (ron)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.