DPRD Palu Sesalkan Kejadian di SDN Inpres Kabonena

- Periklanan -

Ilustrasi (@http://dunia-kecil-ku.blogspot.co.id)

PALU- Komisi A DPRD Kota Palu yang membidangi pendidikan, meminta agar Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Palu mengambil tindakan tegas dengan peristiwa yang terjadi di SDN Inpres Kabonena, Kecamatan Ulujadi. Ulah oknum wali kelas yang menguncikan pintu salah seorang siswanya, lalu si wali kelas pulang, itu bukan sikap seorang guru yang baik.

Hal itu disampaikan Sekretaris Komisi A DPRD Palu, Bey Arifin, saat dimintai tanggapannya soal kejadian di SDN Inpres Kabonena. “Ini jangan terjadi lagi. Kami minta agar Dinas Pendidikan Kota Palu mengambil sikap terhadap guru bersangkutan,”harap Bey.

Menurutnya, apa yang dilakukan guru yang juga wali kelas, sangat dilarang. Sebab tidak hanya melanggar etika di dunia pendidikan, melainkan juga bisa mengganggu psikologis sang anak. “Tidak dibenarkan melakukan tindakan seperti itu. Ini dapat memberi pengaruh besar terhadap kejiwaan si anak. Apalagi usianya masih 6 tahun,” ujarnya menyayangkan.

Tata cara mendidik ada batasnya. Si guru mengunci siswa dalam kelas karena alasan buru-buru ke pesta dan si anak lambat menulis, itu cara mendidik yang keliru. Sebab, sosok guru yang sebenarnya adalah mendidik dengan hati, bukan asal-asalan begitu. “Kalau sudah mengunci siswa begitu, didikan yang keliru. Apalagi anaknya masih usia begitu. Tidak heran si anak menangis saat terkunci di kelas,” ujar Bey sambil geleng-geleng kepala.

Bey Arifin berharap agar Dinas Pendidikan, segera memanggil pihak sekolah terutama guru yang bersangkutan, untuk dilakukan pembinaan. “Kami akan koordinasikan dengan Dinas Pendidikan untuk masalah ini,” kata Bey.

- Periklanan -

Sementara Kepala Dinas Pendidikan Kota Palu, Ansyar Sutiadi, yang coba dikonfirmasi kemarin (7/2) berjanji, akan mengundang guru yang bersangkutan untuk dimintai keterangan terkait kejadian tersebut. Pihaknya juga kaget dengan kejadian hari Senin itu. Apalagi alasan pintu kelas di kunci, karena wali kelas buru-buru ingin hadiri pesta. “Akan kami sikapi. Pihak sekolah dan gurunya akan diundang ke dinas,”ujar Ansyar.

Diberitakan sebelumnya, emosi orang tua Nz, siswa yang terkunci di dalam kelas pada Senin (6/2), tidak terbendung saat mengetahui anaknya terkurung dalam kelas sendirian. Nz saat itu didapati langsung oleh ibunya, Sulianti, ketika tengah histeris meminta tolong, karena terkunci sendirian dalam kelas. Kejadiannya sekitar pukul 11.20 Wita.

Memang karena sekolah dan tempat tinggal yang dekat, Nz kerap pulang sendiri ke rumah. Namun hari itu, karena curiga, Sulianti berinisiatif datang sendiri menjemput anaknya yang belum juga pulang.

Sementara Iswan, ayah dari Nz, sangat emosi dengan perlakuan yang dialami putranya. Hal itu kata dia, sudah mengganggu psikologis sang anak dan bentuk kekerasan terhadap anak di bawah umur. “Saya sebagai orang tua, darah daging saya dikurung seperti itu pasti tidak terima,” tegasnya.

Lanjut dia, sekolah yang seharusnya menjadi tempat mendidik anak, malah menjadi semacam momok menakutkan, bila anak tidak bisa menyerap pelajaran dengan baik. Nz, memang belum lancar menulis, seharusnya kata Iswan, anaknya diajar dengan baik agar bisa lancar menulis. “Bukan dengan cara-cara kekerasan semacam itu,” terangnya.

Mas’ad, wali kelas 1 SDN Inpres Kabonena yang menguncikan Nz pintu, mengaku sudah tidak mengingat lagi jika dirinya sedang menunggu Nz yang masih menulis. Dirinya saat itu sudah tidak fokus, karena memikirkan pesta yang harus dihadirinya. “Saya kebetulan jadi panitia di pesta dekat sekolah. Jadi pikiran saya sudah terbagi. Demi Tuhan, saya tidak sengaja mengunci murid saya itu di dalam kelas,” sebut Mas’ad meyakinkan.

Dia pun baru tahu jika Nz masih dalam kelas, ketika salah seorang operator di sekolah menyampaikan bahwa masih ada muridnya di dalam kelas yang sudah terkunci. Mas’ad mengaku, langsung berlari menuju ke kelas untuk meminta operator membuka kunci gembok. (jcc/agg)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.