DLH Terapkan Sistem Kontrak Atasi Sampah Kota

- Periklanan -

BERSERAKAN: Sampah yang berserakan depan kantor Walikota Palu, beberapa waktu yang lalu. (Foto: Mugni Supardi)

PALU – Optimisme Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu untuk mewujudkan kota bebas sampah kian meningkat usai disepakatinya pengangkutan sampah sistem kontrak oleh para sopir dan buruh sampah. Dalam rapat yang berlangsung Selasa siang (14/2) di ruang rapat Kantor DLH Kota Palu, Jalan Kakatua, Kelurahan Tanamodindi, Kecamatan Mantikulore itu, para sopir dan buruh menyepakati pengangkutan sampah dengan sistem kontrak.

Kepala DLH Kota Palu, Musliman mengatakan dengan disepakatinya kebijakan baru dari DLH ini, menjadi jalan keluar terkait permasalahan sampah yang selalu dikeluhkan.

“Dalam rapat kemarin (14/2), para buruh yang diwakili sopir, sudah sepakat dengan sistem kontrak,” katanya kepada media ini, kemarin (15/2).

Selama ini, buruh pengangkut sampah menggunakan sistem ritase dalam pengangkutan sampah, yakni pembayaran buruh sesuai dengan ret angkutannya per hari. Sehingga tidak jarang ditemukan sampah yang tidak terangkut. Pasalnya dengan ret yang sudah terpenuhi, buruh tidak lagi mengangkut sampah. Untuk seharinya, setiap dump truk dan amrol hanya dibebankan 3 ret. Sehingga meskipun masih ada sampah yang menumpuk, namun jika kewajiban ret perhari sudah terpenuhi, maka sampah yang belum terangkut itu, tidak akan diangkut.

- Periklanan -

Terkait peerubahan sistem ini, Kadis DLH menjelaskan setiap dump truk dan amrol sudah dibagikan jalur-jalur yang menjadi tanggung jawabnya untuk dibersihkan. Sehingga, jika ada sampah yang tidak terangkut, bisa diketahui siapa yang menjadi penanggung jawabnya.

“Kami sudah bagi jalur-jalurnya. Tidak ada pembatasan ret. Intinya kebersihan di jalur itu menjadi tanggung jawabnya,” tuturnya.

Terkait pembiayaan setiap dump truk dan amrol, Musliman menjelaskan pihak bendahara yang memberikan biayanya kepada sopir. Jadi sopirlah yang akan membagikan kepada buruh.

“Namanya juga sistem kontrak, kami langsung beri anggarannya perbulan, termasuk gaji buruh dan uang solar. Sopir nantinya yang akan mengelola uang itu dalam satu bulan,” jelasnya.

Ditanya besaran jumlah perbulan yang diberikan untuk setiap dump truk dan amrol, Musliman mengaku tidak mengetahui jumlahnya secara pasti karena urusannya langsung dari bendahara dan para sopir.

“Jumlah pastinya, yang tahu itu bendahara. Yang tidak bisa beri komentar jumlah yang pasti,” tandasnya. (saf)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.