Ditemukan 16 Titik Ilegal Logging di Morut

10.470 Hektare CA Morowali Dirusak

- Periklanan -

MORUT – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah menemukan 16 titik lokasi illegal logging di kawasan Cagar Alam (CA) Morowali. Aktivitas itu ternyata sudah merusak lima persen atau 10.470 hektare hutan konservasi dari 209.400 hektare wilayah tersebut.

Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Morowali, Laode Rahman, kepada Radar Sulteng di Kolonodale, Petasia, Morowali Utara, mengungkap hasil penelusuran instansi itu di periode Januari 2020.

“BKSDA terus berupaya mencegah penebangan hutan yang marak di kawasan CA Morowali. Setidaknya kami menemukan 16 kamp penebangan di kawasan konservasi saat pengungkapan kasus Januari kemarin,” ujarnya baru-baru ini.

Laode menuturkan, secara keseluruhan CA Morowali berada di Kabupaten Morowali Utara dan Tojo Unauna. Meski dilindungi, kawasan seluas 209.400 hekatare itu sudah rusak dalam cakupan lima persen.

“Fakta kerusakan CA ini merupakan hasil pendataan tim BKSDA,” katanya.

Laode mengatakan, kerusakan kawasan itu disebabkan ulah penebang kayu teroganisir. Penebangan di CA dilakukan secara acak. Mereka hanya mencari satu jenis kayu yakni Kerikis atau Kumia Batu. Pelakunya adalah warga lokal serta dari Parigi Moutong dan Kendari. Sementara pengepulnya disinyalir adalah sejumlah pengusaha kayu di Morut.

“Pelaku hanya menebang kumia batu, kayu itu sama kuatnya dengan ebony dan ulin. Kayu jenis ini kabarnya dipasarkan ke Sulsel dengan harga sekitar Rp6 juta per kubik,” jelasnya.

Laode selanjutnya menampik tudingan bahwa aktifitas ilegal tersebut dibekingi BKSDA.

“Ketemu saya saja mereka berpikir panjang. Jadi tidak benar kami atau BKSDA membekingi pelaku dari ilegal loging ini,” tegasnya.

Sebagai bukti bantahan itu, ia memastikan KPHL Morowali berhasil menyita kayu hasil tebangan sebanyak 12 kubik serta 400-an liter bahan bakar minyak campur yang disimpan dalam 20 buah jerigen.

“Sebanyak enam kubik kayu sitaan itu disimpan di kantor BKSDA, selebihnya diamankan di KPH Beteleme. Barang bukti itu hasil operasi yang saya sebut diawal,” bebernya.

Terkait barang bukti lainnya seperti kendaraan jenis Fuso, Laode mengatakan kendaraan itu tidak ditahan sebab berada di luar kawasan konservasi.

“Posisi mobilnya di luar kawasan, namun kami yakin kayu itu berasal dari CA. Sayangnya kami tidak menemukan pelaku penebangannya,” katanya.

Penegakan hukum, menurut Laode sangat lemah. Pasalnya, Balai Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah 2 Sulawesi kekurangan personil. Sementara itu kasus ilegal logging sudah sering dilaporkan.

- Periklanan -

“Saat terakhir saya dimintai keterangan di Balai Gakkum, mereka beralasan kekurangan personil, karena harus menangani dua wilayah provinsi.
Padahal BKSDA sudah berkali-kali melaporkan. Jadi harus melihat berdasarkan skala kasus,” ungkapnya.

Laode juga mengakui, BKSDA atau dalam hal ini KPHL Morowali mempunyai kelemahan untuk menangkap tangan pelaku penebangan kayu di kawasan CA. Kondisi ini disebabkan bocornya informasi dari cepu atau informan di seluruh tambatan perahu di daerah itu. Modus lainnya yakni memasang pengintai di sekitar lokasi-lokasi penebangan.

“Seluruh tambatan perahu di Morut ada cepunya. Mereka juga berada di tempat pengintaian untuk berjaga-jaga apabila ada aparat hendak mendekat ke lokasi penebangan,” tandasnya.

“Kalau dirunut kebelakang, batas alam -laut– CA Morowali kurang lebih 100 kilometer, dengan batas yang jauh itu orang-orang bebas masuk dari Ungkea, Jarungke, dan GandaGanda. Sementara kami tidak memiliki pos dan armada laut,” imbuh Laode.

Laode kemudian mengimbau semua industri legal yang menampung kayu harus selektif dan tidak lagi menerima kayu asal CA Morowali.

Menurutnya, BKSDA sendiri sudah melayangkan surat kepada BP2HP untuk lebih selektif dalam mengeluarkan izin pengolahan kayu dengan melihat asal usul kayunya.

“Kalau saja industri kayu yang legal tidak lagi menerima hasil tebangan dari CA, kami yakin tidak ada lagi pelaku penebangan liar,” ujarnya.

Di sisi lain, penangkapan dua warga Gililana di 2018 akibat terlibat dalam aktifitas ilegal loging tidak menjadikan efek jera kepada masyarakat. Padahal kedua pelaku dihukum penjara masing-masing lebih dari setahun

“Penebangan kayu dianggap hal biasa dan tidak bermasalah. Bahkan di 2017-2018 seluruh pondok di dalam CA kami bakar, namun tetap saja melakukan penebangan,” sebut Laode.

Maraknya ilegal logging, lanjutnya diduga akibat keterlibatan banyak pihak. Sementara semua instansi terkait berhak melakukan pencegahan dan penangkapan pelaku ilegal loging. Hal ini lah memicu tidak adanya efek jera terhadap pelaku-pelaku yang tersistem berantai itu.

“Kalau saya perhatikan, Ilegal loging di CA Morowali melibatkan banyak pihak. Harusnya bukan penebang saja yang ditindak, tetapi juga pemodal dan orang-orang dibelakangnya,” tandasnya.
Dulunya masyarakat Wana menebang kayu untuk membuka lahan dengan kapak, namun sekarang menggunakan cansaw. Persoalan ini sekarang menjadi perhatian khusus pemerintah pusat.

Sebelumnya, pemerintah telah menentapkan kawasan Hutan Adat Wana Posangke seluas 6.212 hektare melalui SK Menteri LHK Nomor 6747/MENLHK-PSKL/KUM.1/12/2016.
Laode mengatakan 4.000 hektare dari luasan hutan adat Wana Posangke masuk dalam CA Morowali. Sementara 2.000 hektare sisanya merupakan hutan produksi.

Menurutnya, beberapa waktu kedepan Dirjen KSDA akan mengutus tim untuk mendata seluruh permasalahan di dalam kawasan CA, termasuk pemukiman di wilayah hutan adat tersebut.

“Penabangan kayu ternyata berdampak pada hilangnya kearifan lokal masyarakat Wana. Sekarang mereka tidak lagi menggunakan kapak dan menggantinya dengan cansaw untuk menebang hutan,” pungkasnya.

Dari penelusuran wartawan di sekitar Dusun V Lambolo, Desa Ganda Ganda, Kecamatan Petasia, Selasa (25/2), sebuah Fuso bermuatan kayu mentah nampak berjalan lambat ke arah Kolonodale. Meski belum dipastikan asal usul kayu tersebut, namun dusun ini menjadi jalur utama pendistribusian kayu keluar wilayah CA Morowali dan sekitarnya. (ham)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.