Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Dinsos Sesalkan Pemulangan Bunga dari RS Madani

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Ilustrasi

PALU – Tindakan Rumah Sakit Madani yang memulangkan pasien bernama Bunga disesalkan pihak Dinas Sosial (Dinsos) Kota Palu. Bunga merupakan warga telantar yang tidak diketahui identitasnya.

Oleh Dinsos, Bunga yang diduga mengalami keterbelakangan mental, kemudian diantar ke RS Madani untuk menjalani pengobatan. Namun, Jumat pagi (5/5), Bunga dikembalikan lagi ke Dinsos.

Atas tindakan RS Madani tersebut, Kepala Dinsos Kota Palu, Nursalam mengaku kecewa berat. Dia akan mengadukan hal tersbut ke pihak Ombudman. “Sikap Rumah Sakit Madani sangat mengecewakan. Hal ini akan kami adukan ke Ombudsman,” akunya kepada awak media di ruang kerjanya, Sabtu pagi (6/5).

Dari data yang dihimpun media ini, pasien yang diantar Dinsos ke RS Madani merupakan warga telantar yang tidak diketahui asal dan keberadaan keluarganya. Karena ada keterbelakangan mental, Dinsos menyerahkan perempuan muda yang diberi nama Bunga itu ke Panti Sosial Bina Grahita Nipotowe, yang terletak di Desa Kalukubula, Kabupaten Sigi. Tidak berselang lama, hanya 4 hari pihak panti juga tidak bersedia lagi penampung Bunga. Padahal saat itu, Dinsos terus membiayai selama Bunga di panti tersebut.

Akhirnya, pihak Dinsos mengantar Bunga pada ke RS Madani. Saat itu, pihak rumah sakit menolak karena permasalahan dana. Olehnya itu, Dinsos membuatkan kartu BPJS untuk Bunga. Akhirnya diterima untuk dirawat di RS Madani. Namun setelah 2 minggu dirawat di rumah sakit tersebut, tanpa pemberitahuan sebelumnya, petugas RS Madani dengan menggunakan ambulance mengantar Bunga ke kantor Dinsos Jumat pagi (5/5). Hingga kini, Bunga masih ditampung di kantor Dinsos Kota Palu yang terletak di Jalan Bantilan, Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu.

Tak terima dengan dipulangkannya Bunga, Nursalam kala itu langsung menanyakan alasan pemulangan Bunga, padahal  sudah menggunakan BPJS. Namun oleh petugas RS Madani mengatakan karena pasien tersebut tidak memperlihatkan perubahan untuk kesembuhan.

“Kalau alasannya seperti itukan tidak bisa diterima. Padahal sudah ada BPJS dan perawatannya juga menggunakan uang negara. Bukan uang pribadi,” ucap Nursalam tampak kesal.

Sebelumnya, kata Nursalam, sempat ditolak pihak RS Madani karena dianggap tidak ada biaya untuk merawat Bunga. Makanya sesegera mungkin Bunga dibuatkan BPJS agar bisa diterima di RS Madani.

Nursalam juga meminta pihak-pihak terkait lainnya ikut ambil andil dalam persoalan ini. Tidak sepenuhnya diserahkan ke Dinsos. “Dinsos ini memang untuk menampung orang telantar tapi setelah kita beri arahan-arahan, kami pulangkan,” imbuhnya.

Dalam kasus Bunga, Nursalam mengatakan tidak tahu lagi akan diantar ke mana. Pasalnya, berbagai upaya sudah dilakukan dan mendapat penolakan. Untuk saat ini lanjut Nursalam, Bunga masih ditampung di kantor Dinsos, dan dijaga pegawai Dinsos.

“Mau sampai kapan dia (Bunga) di kantor sini. Pegawai kita juga punya keluarga. Tidak mungkin terus-terusan tidur di kantor,” tambahnya.

Dia juga meminta pihak lain seperti Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta Dinas Kesehatan, dapat turut ambil andil dalam kasus Bunga. “Pihak-pihak itu juga harus ambil andil dalam menangani permasalahan ini,” jelasnya.

Dikonfirmasi Minggu malam (7/5), Direktur RS Madani, dr Isharwati MKes menyebutkan bahwa Bunga memang sempat dirawat di rumah sakit yang dipimpinnya itu. Namun dari sisi kejiwaan, Bunga tidak ada masalah makanya lanjut dia, Bunga dikembalikan ke yang mengantar (Dinsos Kota Palu). “Dia tidak ada masalah dari sisi kejiwaan,” sebutnya.

Hal tersebut kata Isharwati, terlihat dari perilakunya sehari-hari yang normal. Untuk mandi, Bunga tidak dibantu lagi. Makan pun demikian. Bahkan saat sedang halangan (haid), Bunga bisa mengganti pembalut sendiri. “Di sini bukan tempat penampungan. Seandainya sakit, kami bisa rawat. Tapi kan sudah sehat,” terangnya.

Isharwati menambahkan, sebelumnya Bunga sudah sempat dirawat di RS Madani beberapa waktu lalu, sebelum dibuatkan surat pengantar untuk diantar ke Panti Sosial Bina Grahita di Desa Kalukubula. “Tapi panti juga menolak dengan alasan yang bisa masuk panti yang bisa dididik untuk memiliki keterampilan,” imbuhnya.

Kasus Bunga diakui Isharwati, memang sulit. Karena panti saja tidak mau menerima. “Kita juga tidak bisa, Karena secara kejiwaan, Bunga tidak ada masalah. Keterbelakangan mental seperti Bunga ini, tidak mungkin bisa sembuh. Tapi dia tidak akan mengganggu. Ini kan seharusnya ke keluarganya. Tapi keluarganya tidak diketahui. Makanya kami kembalikan ke yang mengantar ke rumah sakit. Bahkan Bunga, sudah tiga kali dirawat di rumah sakit Madani,” tutupnya.(saf)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.