Dinilai Tak Bersalah, Terdakwa Narkoba Divonis Bebas

- Periklanan -

Ilustrasi

PALU – Terdakwa perkara dugaan tindak pidana narkotika jenis sabu seberat 845,6 gram, Sulaeman alias Eman bebas dari jeratan hukum. Majelis hakim pada Pengadilan Negeri (PN) Klas IA/PHI/Tipikor Palu, akhirnya menjatuhkan vonis bebas kepada terdakwa dalam sidang putusan yang berlangsung, Selasa (5/12).

Sulaeman Alias Eman, merupakan terdakwa berkas terpisah (Splitan) dari tiga terdakwa lainnya yakni Moh Ansar, Arifuddin alias Aip serta terdakwa Fikri.

Putusan bebas yang diberikan kepada terdakwa ini, sangat berbanding terbalik dengan hasil putusan yang dilayangkan bagi terdakwa Moh Ansar, Arifudin, dan Fikri yang lebih dulu disidangkan beberapa bulan lalu.

Sidang pembacaan putusan terdakwa Eman sapaan akrab terdakwa ini dipimpin sekaligus dibacakan langsung ketua majelis hakim Lilik Sugihartono SH. Dia divonis bebas karena tidak terbukti bersalah sebagaimana yang disangkakan atau didakwakan jaksa penuntut umum. Padahal terdakwa ini sebelumnya dituntut pidana penajara selama 12 tahun dari jaksa penuntut umum.

“Menyatakan terdakwa Sulaeman alias Eman tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana didakwakan dalam dakwaan pertama atau kedua. Membebaskan terdakwa karena itu dari semua dakwaan penuntut umum,” ungkap Lilik Sugihartono ketua majelis hakim yang juga merupakan humas PN Klas IA/PHI/Tipikor Palu.

- Periklanan -

Pertimbangan putusan bebas dari majelis hakim itu, karena berdasarkan fakta yang terungkap dipersidangan yakni, keterangan saksi Yudi Hendra, Suherman dan saksi Edi Utomu bahwa saat penangkapan terhadap terdakwa dan dilakukan penggeledahan tidak ada ditemukan barang bukti sabu. Namun dia dijerat dalam kasus itu, menggunakan barang bukti yang sebelumnya diamankan dari saksi atau terdakwa Moh Ansar dan terdakwa Fikri (sudah disidangkan).

“Sementara barang bukti yang diamankan dari terdakwa Moh Ansar dan terdakwa Fikri belum pernah sampai ketangan terdakwa atau dalam penguasaan terdakwa Sulaeman alias Eman,” kata Lilik membacakan amar pertimbangan putusan bebas terdakwa Sulaeman Alias Eman.

Karena kontruksi rangkaian fakta persidangan itu belum dapat menggambarkan dengan terang dan jelas perbuatan terdakwa Sulaeman dapat dikualifikasikan sebagai perbuatan tanpa hak atau melawan hukum memiliki, menyimpan, menguasai atau menyediakan barang haram tersebut. Lebih dari itu terungkap dipersidangan bahwa saksi atau terdakwa Moh Ansar dan terdakwa Fikri  menerangkan tidak pernah bertemu dengan terdakwa Sulaeman alias Eman.

“Apalagi memberikan atau menyerahkan paket berisi tiga plastik sabu yang diambil saksi atau terdakwa Moh Ansar dan Fikri di jasa pengiriman MAX kepada terdakwa Sulaeman alias Eman,” kata majelis hakim lagi. Atas pertimbangan fakta sidang itu, sehingga terdakwa tidak dapat dinyatakan bersalah dan akhirnya divonis bebas.

Putusan majelis hakim tersebut dilakukan berdasarkan ketentuan Pasal 183 KUHAP, bahwa hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.

Namun atas putusan itu para pihak terutama jaksa penuntut umum masih punya kesempatan selama 14 hari untuk menyatakan sikap, apakah pikir-pikir, menerima putusan atau mengajukan kasasi atas putusan bebas tersebut.

Sebelumnya perkara yang menjerat terdakwa Sulaeman ini juga pernah disidangkan. Perkara ini awalnya disidangkan untuk terdakwa Moh Ansar dan  Fikri dan terdakwa Arifuddin alias Aip. Barang bukti sabu dalam perkara ini sebesar 845,6 gram. Dalam amara putusan majelis hakim ketiga terdakwa divonis terbukti bersalah. Terdakwa Moh Ansar dan Fikri dihukum 9,6 tahun penjara denda Rp 2 miliar subsider 6 bulan penjara. Sedangkan terdakwa Arifuddin yang  merupakan Napi Lapas Cipinang ini dihukum pidana penjara selama 12 tahun denda Rp 2 miliar subsider 6 bulan penjara. (cdy)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.