Dini Hari, Kloter 7 Sulteng Terbang ke Jeddah

Rokok Disita dan Satu Jamaah Dipulangkan

- Periklanan -

BALIKPAPAN – Sekira pukul, 00.45 WITA, Jamaah Calon Haji (JCH) kelompok terbang (Kloter) 07 asal Sulawesi Tengah (Sulteng) diterbangkan menuju Bandar Udara King Abdul Aziz , Jeddah. Sebelum diberangkatkan, sejumlah barang bawaan jamaah diperiksa tim gabungan termasuk kesehatan para jamaah calon haji.

Ketua KBIH Babussalam, H Mustamin Umar yang menyertai rombongan kepada Radar Sulteng, malam tadi menjelaskan, untuk keamanan dalam penerbangan dari Embarkasi Balikpapan (BPN) menuju Jeddah, semua barang milik jamaah dilakukan pemeriksaan oleh tim gabungan (bea cukai, Aviation Security dan kantor kesehatan pelabuhan). Hasilnya kata Mustamin, masih ada jamaah calon haji yang membawa rokok berlebihan. Sehingga oleh tim gabungan, rokok berbagai jenis tersebut disita.

Selain barang terlarang dalam penerbangan maupun produk yang menggunakan cukai lanjut Mustamin, satu jamaah asal Kota Palu yang tergabung dalam rombongan 6, regu 21 an. Santi Latoha Thahir dipulangkan. ‘’Yang bersangkutan dari hasil pemeriksaan medis Embarkasi Balikpapan sedang hamil 8 minggu,’’ kata Mustamin saat dihubungi via ponselnya.

Masih kata Mustamin, kloter 07 BPN asal Sulawesi Tengah yang siap terbang dini hari merupakan kloter gabungan dari Kota Palu, Kabupaten Sigi, Banggai Kepulauan, Banggai Laut dan Kabupaten Morowali Utara. Jumlahnya 455 orang terdiri dari 450 jamaah dan 5 orang pendamping haji (TPHI, TPIHI dan TKHI).

Sementara dilaporkan dari Makkah bahwa, tidak semua kloter jamaah haji gelombang kedua mendarat di bandara King Abdul Aziz Jeddah. Ada empat kloter yang tidak mendapatkan slot sehingga harus mendarat di bandara Prince Mohammed bin Abdul Aziz Madinah. Sampai saat ini, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi terus melobi otoritas Arab Saudi.

Keempat kloter itu adalah UPG 35 dan UPG 40 dari Embarkasi Makassar. Kedua kloter itu dijadwalkan terbang pada 2 dan 5 Agustus. Kemudian, kloter BDJ 17 dan BDJ 19 dari Embarkasi Banjarmasin. Dua kloter ini dijadwalkan terbang pada 3 dan 5 Agustus.

- Periklanan -

Kepala Seksi Kedatangan dan Keberangkatan Daker Bandara Madinah-Jeddah Cecep Nursyamsi menuturkan, empat kloter itu tidak bisa mendarat di Jeddah karena imbas dari adanya tambahan 10 ribu kuota haji. Dengan penambahan itu, maka kloter jamaah Indonesia juga bertambah. Namun, dia mengatakan bahwa PPIH Arab Saudi terus melobi supaya empat kloter itu bisa mendarat di Jeddah seperti kloter gelombang dua lainnya.

“Pertimbangannya adalah kenyamanan dan kemudahan jamaah haji,” jelaskan. Sebab, perjalanan dari Madinah ke Makkah sekitar enam jam. Jamaah yang baru menempuh perjalanan udara selama sekitar sembilan jam bisa kepayahan. Cecep menjelaskan, saat ini usulan PPIH Arab Saudi masih dalam kajian otoritas setempat. “Pejabat tinggi di sini mengatakan, mengusahakan mencari solusi terbaik. Bila dimungkinkan bisa mendapatkan slot pendaratan di Jeddah,” tuturnya. Kalaupun nanti ternyata empat kloter itu tetap mendarat di Madinah, PPIH Arab Saudi menyiapkan fasilitas transportasi menuju ke Makkah.

Sementara itu, Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Kemenag Sri Ilham Lubis kemarin meninjau hotel jamaah untuk mengecek layanan katering dan lainnya. Saat itu, beberapa jamaah menyampaikan masukan terkait katering. “Kami berharap ada makanan yang berkuah,” kata Farida binti Amir Mapuji. Jamaah 57 tahun itu mengatakan, selama ini menu katering hanya nasi, lauk, dan sayuran yang umumnya ditumis. Selain itu dia juga menyampaikan supaya sajian telurnya diberi banyak bumbu supaya lebih enak.

Jamaah lainnya menyampaikan keluhan tentang layanan bus salawat. Dia menuturkan, pada awal-awal naik bus salawat terasa enak dan lega. Namun,  belakangan bus salawat terasa padat dan seluruh kursi selalu terisi. Sri Ilham Lubis dengan ramah menerima saran-saran dari jamaah itu. Dia menjelaskan, pemerintah sebenarnya ingin ada variasi makanan berkuah. Tapi terkendala pada penyiapan di dapur kateringnya. “Mau pakai plastik dan diikat, tapi terkendala waktu pengemasannya,” jelasnya.

Dia mengatakan, variasi menu berkuah bisa disediakan jika makanan disajikan dengan sistem prasmanan. Tapi yang dipakai pemerintah saat ini adalah penyajian katering dengan kotakan atau boks. Terkait dengan bus salawat yang mulai terisi padat, Sri menjelaskan karena semakin banyak jamaah masuk ke Makkah. Dia menuturkan ketentuan jumlah armada bus salawat sudah diatur oleh otoritas Saudi. Sehingga tidak bisa menggunakan armada bus salawat sebanyak-banyaknya. Jika tidak diatur sedemikian rupa, jalanan di kota Makkah akan dipadati bus salawat. Baik itu untuk jamaah Indonesia maupun negara lainnya.

Sri juga mengingatkan supaya ketua rombongan atau KBIH bisa mengatur jamaahnya ketika berada di Masjidilharam. Misalnya selepas salat isya tidak semua rombongannya keluar dan menuju terminal Syib Amir. Tetapi dibagi ada yang keluar dahulu dan belakangan. Sehingga tidak terkena kepadatan jamaah di terminal. Selain itu juga tidak terlalu lama menunggu bus di terminal. “Bus Sawalat melayani jamaah 24 jam,” katanya. Jadi jamaah tidak perlu khawatir kehabisan bus lantas buru-buru keluar Masjidilharam setelah selesai salat isya.

Pantauan di terminal Syib Amir masih saja terjadi kepadatan jamaah Indonesia setelah bubaran salat isya. Bahkan ada jamaah yang nekat masuk ke bagian dalam terminal. Tujuannya mencegat bus yang baru masuk ke terminal. Kepadatan seperti ini rata-rata berlangsung sekitar satu jam. (*/oni/lib/jpg)

 

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.