Dinding di Gua Pamona Poso Dicorat Cat, Lokasi FDP Tak Terawat

- Periklanan -

Kondisi lokasi pelaksanaan Festival Danau Poso (FDP) yang sudah tak terawatt dan lebih sering digunakan untuk mengikat hewan ternak sapi. (Foto: Rony Sandhi)

KABUPATEN Poso memiliki sejumlah objek wisata yang diharapkan menjadi salah satu pilihan destinasi bagi wisatawan. Sayangnya beberapa objek wisata terkesan kurang mendapat perhatian serius dari pihak-pihak terkait.

LAPORAN : RONY SANDHI, Poso

JARUM jam sudah menunjukkan pukul 10.15 WIT. Ditemani seorang pemuda dari Desa Saojo Kecamatan Pamona Utara membonceng saya menggunakan sepeda motor matic menuju Tentena, Kelurahan Pamona, Kecamatan Pamona Puselemba. Melewati jembatan Pamona ke arah barat Kota Tentena, kami tiba di persimpangan antara jalan beraspal dan tak beraspal. Tepat di belakang kampus Sekolah Tinggi Teologi (STT) GKST Tentena. Dari simpang jalan beraspal berjarak sekitar 50 meter tampak sebuah papan warna putih bertuliskan Cagar Budaya Gua Pamona.

Suasana di Gua Pamona tampak sepi, tidak ada wisatawan yang berkunjung padahal hari saat itu adalah akhir pekan, Sabtu 15 Juli 2017.

Saat akan menaiki tangga dan kemudian turun menuju pintu masuk gua, tampak dua siswa berpakaian seragam SMP baru saja keluar dari gua sambil menggenggam ponsel jenis android. “Cahaya di dalam gua kurang bagus. Makanya hasil foto tidak terang,” kata seorang pelajar kepada temannya.

Mungkin mereka baru saja mengabadikan momen di dalam gua atau sedang selfie di gua menggunakan ponsel mereka.

Baru saja akan memasuki gua, pandangan kurang elok terlihat di sisi kiri pintu masuk. Dinding batu terlihat ada beberapa coretan menggunakan cat warna hitam dan merah.

Salah satu batu di dekat pintu masuk kamar pertama Gua Pamona, Tentena, Kecamatan Pamona Puselemba, Kabupaten Poso terdapat coretan cat. (Foto: Rony Sandhi)

Dengan setengah jalan jongkok kami memasuki gua dan tiba di ruang pertama atau bagi warga sekitar menyebutnya kamar pertama. Pada kamar pertama cahaya cukup terang, karena pada bagian atas gua ada cahaya masuk dari atas lubang gua. Memasuki kamar kedua tidak terlalu sulit dan tidak perlu terlalu menunduk karena pintu masuknya cukup luas tidak seperti pintu masuk pertama. Di kamar kedua, juga masih ada sedikit cahaya dari atas lubang gua, namun cahayanya tidak seterang di kamar pertama.

Di kamar satu dan kamar dua tidak terlihat ada coretan di dinding gua, tidak jauh dari cahaya masuk dari atas gua ada tumpukan tulang belulang manusia yang hanya terkumpul dalam satu tempat, di tanah tanpa ada wadah. Masih di kamar dua tenyata di sudut agak ke bawah antara bebatuan gua ada lagi tumpukan tulang belulang kerangka manusia. Sulit ditemukan karena tidak ada cahaya, dengan bantuan cahaya senter HP, baru bisa melihat tumpukan tulang belulang tanpa tengkorak. Sayangnya kami tidak menemukan ada petunjuk dalam bentuk papan yang bisa menjelaskan sedikit soal tulang belulang kerangka manusia itu.

Kami kemudian melanjutkan masuk ke kamar tiga, udara di kamar tiga terasa semakin dingin, tanah di dalam gua juga mulai basah dan becek. Beberapa titik dari atas gua ada tetesan air jatuh. Karena cahaya semakin gelap kami memutuskan tidak menjelajah ke kamar selanjutnya yang konon bisa dimasuki tanpa menggunakan alat khusus sampai di kamar tujuh.

Pemuda yang menemani saya Iron Mebukoli menuturkan, dari cerita-cerita orang orang tua yang didapatkannya, dulunya Gua Pamona itu merupakan kuburan orang yang dianggap keturunan bangsawan. Makanya masih ada sisa tulang belulang manusia di dalam gua. Dulunya tulang belulang itu ditempatkan di sebuah wadah semacam peti ukuran pajang dua meter lebar 50 cm.

Tulang belulangnya juga masih lengkap, mulai dari tulang tangan, tulang kaki, tulang rusuk sampai tengkorak. Hanya saja berjalannya waktu satu persatu tulang-tulang itu, seperti tulang tangan, kaki dan tengkorak hilang entah kemana. “Banyak yang bilang ada orang yang mengambil tulang dan tengkorak-tengkorak manusia yang ada di dalam gua,” ujarnya.

- Periklanan -

Keluar dari gua, kemudian menuju ke bagian timur gua yang berjarak hanya beberapa meter ke bawah, sudah terlihat tepian air Danau Poso. Di sekitar pijakan yang berbentuk anjungan terbuat dari semen, sampah bungkus makanan ringan dan air mineral dibiarkan berhamburan, disekitar lokasi Gua Pamona juga tidak terdapat tong sampah.

Sekitar 15 menit duduk dan memandang ke arah utara Danau Poso, tidak juga ada kunjungan wisatawan ke lokasi sekitar gua. Hanya dua siswi mengenakan seragam SMP naik ke bagian arah timur atas gua dan tidak lama tiga siswa berseragam SMA naik juga ikut ke atas lokasi gua. “Memang sudah jarang ada wisatawan kemari. Mungkin juga karena kurang promosi dan kurang papan petunjuk di tempat-tempat masuk ke arah Tentena,” ujar Iron lagi.

Setelah meninggalkan Gua Pamona, menyempatkan untuk singgah di jembatan tua Pamona yang terbuat dari kayu. Jembatan itu masih kuat dan hanya digunakan untuk pejalan kaki. Walaupun beberapa kendaraan roda dua juga masih terlihat melintas.

Tidak jauh dari jembatan tua, tepat di depan Polsek Pamona Utara, sebuah taman baru dengan tugu berciri khas Ikan Mas dan Ikan Sidat atau bagi masyarakat Poso mengenalnya dengan sebutan ikan Sogili menjadi daya tarik tersendiri warga dan wisatawan, yang tidak melewatkan mengabadikan momen berfoto bersama maupun untuk foto selfie.

Menurut seorang warga Kelurahan Sangele, Riko Ulle perubahan besar terjadi pada beberapa objek wisata yang ada di Tentena, Pamona Poso. Menurut pria yang bekerja di salah satu rumah sakit di Tentena itu, dulunya Gua Pamona sering dikunjungi wisatawan, baik wisatawan asing maupun wisatawan lokal.

Kemungkinan kata Riko, karena sudah kurang dipromosikan. Juga mulai tidak terawat, kurangnya papan petunjuk atau penjelasan tentang Gua Pamona, sehingga kurang dilirik dan tak menjadi pilihan wisatawan. “Cuma lebih banyak anak-anak sekolah main kesitu. Soalnya memang ada dua sekolah yang dekat dengan lokasi Gua Pamona. Intinya kurang terawat dan kurang diperhatikan. Padahal itu kan objek wisata juga dan punya historis,” ucapnya.

Menurutnya, kerangka manusia yang di Gua Pamona, dulunya menurut cerita-cerita yang berkembang di masyarakat merupakan kerangka leluhur orang Pamona, semacam kuburan orang-orang tertentu yang dianggap berpengaruh.

Sayangnya kerangka manusia yang bisa dianggap menjadi daya tari wisatawan itu perlahan-pelahan tidak terurus. Kerangka-kerangka itu dibiarkan berhamburan di tanah tanpa ada wadah yang melindungi. Bahkan sudah banyak kerangka dan tengkorak yang hilang, konon ada orang yang tidak bertanggungjawab mengambilnya. “Kalau dulu kerangka-kerangka itu disimpan di peti kayu.

Sekarang sudah dibiarkan saja di tanah dan tidak ada semacam wadah atau papan petunjuk dan penjelasan sedikit tentang kerangka itu. Jadi kalau ada wisatawan masuk ke gua kebingungan mau cari informasi atau petunjuk,” katanya.

Riko menambahkan, ada beberapa objek wisata di sekitar Tentena yang bisa menjadi daya tarik wisatawan dan perlu mendapat perhatian dari dinas terkait, khususnya Bupati Poso. Selain Gua Pamona, ada Gua Latea, ada patung Yesus, lokasi dan bangunan di Festival Danau Poso (FDP) yang kondisi juga mulai rusak dan butuh perhatian pihak-pihak terkait.

Khusus lokasi FDP bangunan-bangunan yang pada pelaksanaan FDP sebelum-sebelumnya sering digunakan menjadi tempat para peserta, kini sudah tidak terawat. Banyak bangunan yang mulai rapuh dimakan usia. Semak belukar di sekitar bangunan dibiarkan tumbuh dan merambat.

Bahkan beberapa ekor hewan ternak sapi diikat di rerumputan hijau yang ada di depan lapangan bangunan FDP.

Riko menambahkan, tahun kemarin pelaksanaan FDP sudah tidak difokuskan di area FDP, kegiatan sudah difokuskan di anjungan baru yang mengarah ke arah danau. Yang saat ini juga sedang dalam pembangunan beberapa fasilitas seperti panggung.

“Yang saya dengar kegiatan FDP nantinya sudah difokuskan di lokasi anjungan, bukan lagi di lokasi FDP karena kondisi bangunanya sudah tidak memadai. Sudah banyak yang rusak. Sepertinya memang pihak terkait harus melihat langsung kondisi-kondisi objek wisata yang di Tentena ini, supaya bisa ada langkah kedepan seperti apa solusi terbaiknya,” pungkasnya. (**)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.