Dijadikan Perpustakaan, Warga Segel Kantor Desa Lero

- Periklanan -

SEGEL: Salah seorang tokoh masyarakat saat memasang spanduk kecil sebagai tindakan protes terhadap pembangunan kantor perpustakaan desa Lero. (Foto: Ujang Suganda)

DONGGALA – Amarah Warga Desa Lero Kecamatan Sindue  nyaris tak terbendung. Mereka kecewa karena kantor Desa Lero dijadikan sebuah perpustakaan di tanah yang diwakafkan untuk pembangunan kantor desa.

Warga secara beramai-ramai sempat mendatangi kantor desa Lero  pada Sabtu (11/2) kemarin. Kedatangan mereka tak lain untuk menyampaikan keluhan dan tuntutan mereka terhadap kepala Desa bernama Armas M Amin.

Salah seorang tokoh masyarakat Desa Lero Awaluddin Makasomba mengatakan, warga memang sangat kecewa karena kantor desa Lero sebelumnya dirobohkan dan kemudian dibangunkan sebuah perpusatakaan. Padahal menurut Awaluddin, tanah itu merupakan tanah Wakaf untuk pembangunan kantor desa, bukan untuk pembangunan lainnya. “Dalam aturannya tanah yang diwakafkan itu tidak boleh diganggu gugat untuk pembangunan infrastruktur lainnya,” ungkap Purnawirawan polisi ini.

- Periklanan -

Sebelum perpustakaan itu dibangun kata Awaluddin tak ada pemberitahuan sama sekali kepada warga jika kantor desa sebelumnya akan dirobohkan. Apalagi menurut Awaluddin kantor sebelumnya masih sangat layak untuk digunakan. “Kantor itu sudah beberapa kali direhab dan kondisinya masih sangat bagus, tapi kenapa malah dibongkar,” ujarnya.

Keanehan kembali bertambah ketika pembangunan kantor perpustakaan telah selesai dibangun. Ternyata kata Awaluddin, satu bangunan tersebut memiliki dua fungsi, yaitu sebagai perpustakaan dan juga kantor Desa. “Di depan kantor tertulis juga kantor perpustakaan ternyata dijadikan kantor Desa juga. Sekali lagi saya tegaskan, tanah ini diwakafkan untuk pembangunan kantor desa bukan perpustakaan,” ujarnya.

Menurut salah seorang tokoh masyarakat lainnya, Abdul Halim, perpustakaan itu dibangun dengan anggaran kurang lebih Rp348 juta. Anehnya kata Halim, kepala Desa tak membangun perpustakaan di lokasi lain. “Kenapa harus di bangun di tanah yang diwakafkan untuk kantor desa. Kan ada lokasi lain yang bisa dibangunkan perpustakaan,” ujarnya.

Lanjut Halim, pembangunan perpustakaan tersebut juga bukan merupakan usulan dari warga. Menurut Halim anggaran sebesar itu cukup mubazir jika dibangunkan perpustakaan. Warga sendiri kata Halim menuntut kepala Desa agar mengembalikan bangunan kantor desa yang telah dijadikan perpustakaan tersebut. “Warga juga menuntut agar kepala desa mengembalikan anggaran yang telah dibangun perpustakaan tersebut. Memang sebelumnya ada pemberitahuan akan dibangun perpustakaan tetapi tidak dicantukan akan dibangun di lokasi kantor Desa Lero yang masih sangat layak untuk digunakan. Kesannya warga seperti ditipu, karena kantor perpustakaan yang telah dibangun ternyata juga digunakan sebagai kantor desa,” pungkasnya. (ujs)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.