Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Diduga Kementerian dan BUMN Abaikan Mutu Huntap Pasigala

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

DONGGALA-Kementerian PUPR melalui BP2P, SNVT dan BUMN diduga mengabaikan mutu dan standar kelayakan pembangunan hunian tetap (Huntap) bagi warga masyarakat terdampak bencana di Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Donggala (Pasigala).

Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo (Jokowi) dalam sambutannya pada peresmian pembukaan Rakornas Penanggulangan Bencana, 3 Februari 2021 lalu telah menyampaikan Indonesia termasuk ke dalam negara-negara di dunia dengan risiko bencana tertinggi dalam daftar 35 negara paling berisiko bencana.

Seperti kita ketahui, di Rakornas tersebut Jokowi menyinggung data yang disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jendral Doni Munardo terkait adanya 3.253 bencana di tanah air sepanjang tahun 2020.

“ Ini bukan sebuah angka kecil, baik bencana hidrometeorologi maupun bencana geologi, “ tegas mantan Gubernur DKI ini.

“Saya melihat kunci utama dalam mengurangi risiko terletak pada aspek pencegahan dan mitigasi bencana. Saya sampaikan berulang-ulang tentang pencegahan. Pencegahan jangan terlambat, jangan terlambat, “ lanjut kepala negara.

Seiring hal tersebut, Kepala BNPB Jendral Doni Munardo mengingatkan masyarakat untuk selalu mewaspadai potensi ancaman bencana yang mungkin terjadi dimasa depan.

Menurut jendral bintang tiga ini, aspek mitigasi dan pencegahan harus berjalan simultan dengan penyusunan kebijakan tata ruang yang sensitif terhadap bencana.

“ Manakala kita abaikan tanda-tanda alam dan lingkungan hidup atas nama Pembangunan tunggu saja cepat atau lambat bencana akan melanda, “ tegas Doni saat menutup Rakornas Penanggulangan Bencana, Rabu (10/3).

Menanggapi pernyataan dan penegasan Presiden Republik Indonesia Jokowi dan Kepala BNPB Jendral Doni Munardo tentang kunci utama dalam mengurangi risiko bencana terletak pada aspek mitigasi dan pencegahan. Relawan Pasigala, Moh. Raslin, yang terus memantau perkembangan pembangunan Huntap yang dikomandoi oleh Kementerian PUR dan BUMN mengatakan, bahwa aspek mitigasi dan pencegahan tidak dipedulikan oleh Kementerian PUPR, BP2P, SNVT dan BUMN selaku kontraktor pelaksana pembangunan rehabilitasi dan rekonstruksi.

“ Instansi terkait ini secara terang-terangan membangun asal-asalan di daerah yang rawan bencana. Oknum-oknum pemangku kepentingan ini telah menzalimi hak-hak sosial penerima manfaat yang tidak berdaya dan tidak menghiraukan penegasan Presiden dan Kepala BNPB, “ ungkap Moh. Raslin, kepada media ini, Rabu (11/3).

Moh. Raslin yang juga Ketua Tim Forum Pemuda Kaili Bangkit (FPK-B) Sulawesi Tengah (Sulteng), bersama anggota timnya, diantaranya Moh. Syarif, Afdal, Faisal dan Ardin Silimpole tidak tanggung-tanggung menyoroti sejumlah bangunan Huntap di Pasigala yang terkesan dibangun oleh Kementerian PUPR melalui BP2P, SNVT dan BUMN selaku kontraktor pelaksana, tidak berkualitas. Jauh dari kata sebuah pembangunan yang terbaik

“ Pada pembangunan Huntap tahap 1A sebanyak 630 unit tersebar di wilayah Pasigala, bangunan-bangunan Huntap tersebut belum sampai setahun dihuni warga terlihat baut-bautnya sudah mulai berkarat, panel-panel sudah mulai retak dan tidak persis atau simetris antara sambungan baut dari panel ke panel. Dapat dipastikan bangunan-bangunan tersebut sangat rawan. Sangat menakutkan, kalau terjadi gempa tiba-tiba, bangunan bisa roboh dan menimpa warga, “ papar Raslin.

“ Penggunaan aksesoris dan panel tidak memiliki standar kelayakan, yang kemudian dapat berakibat fatal pada struktur dan kondisi bangunan karena wilayah Sulteng sepanjang tahun 2020 diguncang 1.317 kali gempa, “ tandasnya.

Data yang dirilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Palu menyebutkan, patahan atau sesar Palu Koro masih mendominasi terjadinya gempa di wilayah ini. Dari 1.317 kali gempa tersebut, BMKG Geofisika Palu mencatat sebanyak 59 kali guncangan yang signifikan dirasakan oleh masyarakat. Ribuan gempa tersebut juga didominasi oleh gempa dangkal yang terjadi sekitar 1.070 kali.

“ Sekali lagi saya tegaskan, dipastikan jika struktur bangunan tidak didukung oleh aksesoris electroplating galvanis dan panel-panel yang tidak bermutu, akan berakibat fatal bagi bangunan dan keselamatan penghuninya. Hal ini yang sering kami gaungkan agar instansi terkait meningkatkan pengawasan dan mutu kontrol (pengawasan), “ tegasnya.(mch)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.