Diduga Huntap Pombewe, Duyu dan Gawalise Dibangun Asal Jadi

Hanya Menggunakan Baut yang Tidak Layak Pakai

- Periklanan -

DONGGALA-Aktivis relawan bencana alam Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), dan juga Ketua Dewan Perlindungan Hukum dan HAM Forum Pemuda Kaili Bangkit (FPK-B) Sulteng, Moh. Raslin, dalam rilis persnya mensinyalir adanya dugaan penggunaan baut abal-abal di sejumlah titik pembangunan hunian tetap (Huntap), yang tersebar di Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Donggala (Pasigala).

Raslin mengungkapkan, diduga adanya oknum kontraktor yang mengerjakan Huntap terkesan nakal meraup keuntungan dari dana bencana, dan hanya membangun asal-asalan tanpa memperhatikan aspek keselamatan penghuni bangunan.

Padahal kata Raslin, rumah inovasi bernama rumah instan sederhana yang biasa disingkat dengan kata RISHA adalah solusi cepat dan berkualitas untuk penyediaan rumah tinggal permanen, dalam rangka kegiatan percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana gempa di bumi Tadulako atau Pasigala.

“ Risha adalah solusi berbasis teknologi mutakhir di bidang perumahan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk Indonesia yang rentan gempa, “ kata Raslin.

Dijelaskannya, Risha didesain sedemikian rupa sehingga dapat menahan potensi gempa yang bergerak secara horizontal. Menurutnya, solusi Risha ini sudah diterapkan dipermukiman pasca bencana tsunami di provinsi Aceh dan Nias.

Risha mengedepankan teknologi konstruksi bongkar pasang sederhana (knockdown) yang dapat dibangun dalam tempo cepat, lantaran itulah sehingga disebut sebagai teknologi bersolusi instan, namun tetap menggunakan bahan beton bertulang pada struktur utamanya sesuai standar teknis.

“Inovasi Risha hadir berdasarkan kebutuhan akan percepatan penyediaan perumahan dengan harga terjangkau, dengan tetap mempertahankan kualitas bangunan sesuai dengan standar (SNI), “ urainya.

Secara teknis, kata Raslin, struktur bangunan Risha yang terdiri dari P-1 sebanyak 178, panel P-2 sebanyak 30 panel, dan P-3 sebanyak 30 panel dengan total bobot lebih kurang 6.000 kg.

“Jika bobot panel tersebut tidak ditopang dgn baut electroplating Galvanis atau baut anti karat sudah pasti berakibat fatal bagi keselamatan penghuninya, karena Palu, Sigi dan Donggala masuk dalam daftar daerah yang rawan gempa, “ urainya.

- Periklanan -

Moh. Raslin yang juga Staf Majelis Pemberdayaan Ekonomi Umat Pengurus Besar Alkhairaat Pusat Palu ini, berharap kepada penegak hukum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kejaksaan dan Tipidkor Polda Sulteng kiranya mengusut kasus huntap yang dibangun asal-asalan dengan baut yang tidak layak. Karena hal ini menyangkut hak-hak para pengungsi yang sampai saat ini masih banyak tinggal di huntara dan ada yang hingga kini masih menumpang tinggal di rumah saudara-saudara mereka.
Dijelaskannya lagi, Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal Perumahan akan melaksanakan lanjutan pembangunan Huntap tahap 1B sebanyak 1.005 unit untuk masyarakat terdampak bencana di Sulteng.

” Kucuran dana sangat fantastis untuk pembangunan Huntap tahap 1B senilai Rp 110,7 miliar tersebut akan dilaksanakan di tiga lokasi yakni Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Donggala, “ ungkapnya.

Kepada Radar Sulteng, Moh. Raslin mengingatkan kembali, bahwa Kepala Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Bencana Kementerian PUPR di Sulteng Arie Setiadi Moerwanto mengatakan, sebagai pengganti hunian sementara (Huntara) yang telah dibangun, Kementerian PUPR memprogramkan untuk membangun 8.465 unit Huntap dari target keseluruhan sebanyak 11.465 unit,” katanya saat kunjungan kerjanya di Palu, Senin (28/10) yang lalu.

Arie mengatakan, kebutuhan lahan untuk membangun Huntap tersebut adalah seluas 427,4 hektare, dan pembangunannya tersebar dibeberapa tempat yakni di Kota Palu yaitu di Kelurahan Duyu sebanyak 450 unit, di Kelurahan Tondo dan Kelurahan Talise 4.878 unit, di Desa Pombewe Kabupaten Sigi sebanyak 3.000 unit, serta Huntap satelit sebanyak 3.460 unit. 

Pembangunan huntap ini juga melibatkan beberapa pihak, termasuk Yayasan Buddha Tzu Chi yang akan membangun sebanyak 3.000 unit rumah di daerah Tondo.

Dari 8.465 unit yang akan disediakan, Arie mengatakan bahwa 1.600 unit diantaranya akan masuk ke pembangunan tahap pertama dan akan dibangun mulai akhir tahun 2019 ini dan diperkirakan bisa selesai pada April 2020. Sementara sebanyak 6.400 unit sisanya akan dibangun sampai akhir 2020.

Arie menambahkan, selain itu dibangun Huntap satelit 100 unit di Desa Loru, 40 unit di Desa Sibalaya Utara, 100 unit di Desa Lambara, 400 unit di Desa Bangga, 200 unit Desa Salua semuanya di Kabupaten Sigi. Kemudian 125 unit di Kelurahan Ganti Kabupaten Nelayan dan 230 unit Huntap di Desa Lompio Kabupaten Donggala.

Selain hunian untuk masyarakat, Kementerian PUPR juga melaksanakan rehabilitasi beberapa fasilitas kesehatan seperti Rumah Sakit Undata Kota Palu, Rumah Sakit Anutapura Kota Palu, Rehabilitasi Rumah Sakit Tora Belo Kabupaten Sigi, Puskesmas Tipo Kota Palu, dan Instalasi Farmasi Provinsi Sulteng, Kota Palu.

Selain itu juga melaksanakan rekonstruksi sekolah dan madrasah seperti di Kabupaten Donggala sebanyak 22 sekolah dan 14 madrasah, Kota Palu sebanyak 7 sekolah dan 2 madrasah, Kabupaten Sigi  sebanyak 11 sekolah dan 19 madrasah, serta di Kabupaten Parimo sebanyak 2 sekolah dan 6 madrasah.

Huntap tahap 1 B sebanyak 1.005 unit dan rekonstruksi 42 sekolah dan 27 madrasah tersebar di Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala dan Parigi Moutong (Parimo) yang akan dibangun sampai akhir tahun 2020 tersebut banyak kalangan dari aktivis dan pemerhati memprediksi akan adanya potensi dibangun asal jadi lagi, seperti pada pembangun Huntap tahap 1A dibangun asal-asalan dengan baut yang tidak dipersyaratkan.(mch)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.