Diduga Akibat Pencemaran dari PT IMIP

Laut di Desa Kurisa Menjadi Hitam

- Periklanan -

MOROWALI – Beberapa pekan terakhir, warna laut di seputaran area aktivitas pertambangan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) tepatnya di Desa Kurisa Kecamatan Bahodopi berubah menjadi warna hitam.

Dugaan sementara, penyebab berubahnya warna laut di Desa yang mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan tersebut diduga akibat pencemaran dari PT IMIP dalam melakukan aktivitas pertambangannya.

Berdasarkan hasil penelusuran yang dilakukan media ini beberapa hari terakhir mulai Selasa 16 Juni hingga Rabu 17 Juni 2020, masyarakat setempat menyebut bahwa berubahnya warna laut menjadi hitam karena tumpahan batu bara dari stock file yang berada di seputaran jetty PT IMIP dan limbah lainnya.

Ketika terjadi hujan, tumpukan batu bara tersebut terseret dan jatuh ke pembuangan air panas PLTU milik PT IMIP. Kemudian aliran air panas pembuangan dari PLTU itu, langsung mengarah ke laut. Oleh sebab itu, masyarakat Desa Kurisa khususnya para kelompok nelayan menduga kuat bahwa perubahan warna laut itu disebabkan oleh aktivitas PT IMIP.

Beberapa warga yang tergabung dalam kelompok nelayan Desa Kurisa saat ditemui media ini menyatakan sejak berubahnya warna laut ini, penghasilan mereka yang bergantung pada banyaknya hasil laut yang didapatkan terganggu.

“Dulu warktu warna laut masih steril, biar jarak berapa meter dari daratan kami sangat mudah mendapatkan ikan. Sekarang sampai jarak kurang lebih dua mil dari daratan, kami sangat-sangat sulit untuk mendapatkan ikan. Ini semua terjadi, karena pencemaran dan perubahan warna laut menjadi hitam yang diduga oleh aktivitas pertambangan di sini (PT IMIP,red),”keluh para kelompok nelayan.

- Periklanan -

Lebih lanjut para kelompok nelayan menegaskan bahwa, perubahan warna air laut ini menandakan bahwa PT IMIP hanya mementingkan kepentingan pribadi tanpa melihat adanya dampak yang dirasakan masyarakat khususnya yang tinggal di seputaran aktivitas pertambangan perusahaan penghasil Nikel terbesar di Asia ini.

“Seharusnya tempat penampungan batu bara di perusahaan itu (PT IMIP,red), dibuat semacam pagar atau apalah namanya untuk menahan batu bara agar tidak terseret ke laut jika terjadi hujan. Jangan hanya mau mengambil hasilnya, terus masyarakat yang menerima susahnya. Perusahaan itu sudah lama beraktivitas di Bahodopi ini, masa selama aktivitas berlangsung mereka tidak melihat dan segera mengantisipasi dampak yang dirasakan masyarakat,”tegasnya.

Sebelumnya kurang lebih dua tahun lalu hingga kini, para kelompok nelayan Desa Kurisa ini mengatakan bahwa hasil laut yang berada di tambak mereka seringkali mati. Penyebabnya, karena suhu air laut kerap berubah panas.

“Pembuangan limbah dan air panas PLTU dari perusahaan (PT IMIP,red) itu juga, diduga penyebab hasil laut yang ada di tambak milik nelayan banyak mati. Makanya itu, sekarang ini nelayan sudah malas urus tambaknya,”ungakpnya.

Oleh karena itu dengan adanya kejadian yang sangat menggangu penghasilan para nelayan ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Morowali, Provinsi dan pusat diharapkan untuk segera melakukan tindakan tegas agar dikemudian hari tidak ada lagi masyarakat diseputaran kawasan pertambangan PT IMIP yang dirugikan.

“Kalau Pemerintah setempat tidak tegas untuk menyikapi masalah ini, sampai kapan kami menderita seperti ini?. Jangan karena perusahaan besar (PT IMIP,red), Pemerintah kurang tegas dalam menindaki kesalahan yang telah dilakukan pihak perusahaan tersebut,”seru para kelompok nelayan Desa Kurisa yang minta tidak disebutkan namanya itu.

Sementara itu dikonfirmasi terkait perubahan warna laut menjadi hitam ini, Koordinator Media Relation PT IMIP Dedy Kurniawan mengungkapkan bahwa mereka belum sepenuhnya yakin bahwa penyebab berubahnya warna laut itu karena aktivitas pertambangan yang mereka laksanakan.(fcb)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.