Dicubit Guru Berkali-kali, Ortu Siswa SD Lapor Polisi

- Periklanan -

Terlapor Musandri terlihat sedang menjalani pemeriksaan oleh penyidik Polsek Marawola. (Foto: Nendra)

SIGI – Kekerasan terhadap murid kembali terjadi, kali ini di SD 5 Marawola, Kabupaten Sigi. Salah satu muridnya terpaksa harus dirawat di Puskesmas, setelah mendapatkan hukuman cubitan dari gurunya. Dari data yang dihimpun Radar Sulteng di lapangan, kejadian itu berawal dari sebuah tugas rumah yang diberikan oleh gurunya yang bernaman Musandri alias Musa.

Tugas rumah yang diberikan sejak bulan Agustus itu diminta untuk dikerjakan secara berkelompok. Namun saat waktu untuk mengumpul tugas itu tiba, salah satu murid yang berinisial RF (13) ternyata tidak membuat pekerjaan kelompok tersebut. Sehingga berdasarkan keputusan dan kesepakatan, anak itu pun dihukum dengan cara dicubit. Namun hukuman cubitan itu sudah dianggap kelewatan, karena guru (terlapor, red) mencubit muridnya sebanyak 30 kali.

Akibatnya, RF menderita sejumlah luka lebam atau memar di sekujur tubuh. Bahkan karena memiliki banyak luka memar, korban harus dilarikan ke Puskesmas terdekat untuk mendapatkan perawatan.

- Periklanan -

“Karena usai dicubit, pada malamnya korban langsung demam dan mengaku kesakitan sehingga harus dibawa ke Puskesmas Marawola untuk mendapatkan perawatan medis. Dan waktu ada kesepakatan untuk dicubit, korban tidak hadir pada waktu itu,” jelas Kapolsek Marawola, Iptu Marthen Tanda yang didampingi Kanit Reskrim Polsek Marawola Bripka Hamjadi.

Tidak senang dengan perlakukan guru tersebut, keluarga korban pun melaporkan hal ini kepada pihak kepolisian. Dalam pemeriksaan korban mengaku bahwa bukan hanya dirinya saja dihukum cubitan, tetapi kurang lebih ada lima murid lainnya juga mendapatkan hukuman yang sama.

Akan tetapi murid lainnya tidak melaporkan kejadian itu, karena takut kepada orang tuanya apabila diketahui dihukum karena tidak membuat tugas. Dalam kejadian ini terlapor akan dikenakan pasal 80 ayat I tentang perlindungan anak.

Sementara itu disela-sela menjalani pemeriksaan oleh penyidik Polsek Marawola, Musandri (Terlapor, red) mengaku bahwa korban dikenal jarang membuat pekerjaan rumah (PR) dan jarang masuk sekolah apabila tidak membuat PR. Namun Musadri menyadari akan perbuatannya, dan akan tetap menjalani pemeriksaan secara kooporatif.

Secara terpisah Kadis Pedidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sigi, Abd Hamid Petalolo SPd menanggapi kejadian ini menyampaikan, bahwa dirinya akan memanggil guru yang bersangkutan dan akan turun langsung ke SD 5 Marawola, untuk menanyakan kejadian penganiyaan itu. “Ini akan menjadi bahwa evaluasi kami, dan guru yang bersangkutan akan kami tindak tegas disamping proses hukumnya terus juga berjalan,” pungkasnya. (ndr)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.