Di PGRI, Apa yang Dicari?

Oleh : Syam Zaini *)

- Periklanan -

PASAL 42 UUGD menetapkan lima (5) kewenangan organisasi profesi guru, yaitu; (1) menetapkan dan menegakkan kode etik guru, (2) memberikan bantuan hukum bagi guru, (3) memberikan perlindungan profesi guru, (4) melakukan pembinaan dan pengembangan profesi guru, (5) memajukan pendidikan Nasional.
Sebagai organisasi yang profesional, maka pembenahan dan penguatan akan dimulai dari dalam terlebih dahulu. Kekuatan organisasi haruslah dibangun dengan rasa kebersamaan, kemauan dan komitmen yang tinggi. Tak mudah untuk melakukan semua itu, namun dengan tekad serta pengabdian yang tulus ikhlas, tak punya tendensi untuk kepentingan pribadi kepada organisasi, akan bisa dilakukan secara maksimal.
Prioritas yang harus dilakukan untuk pembenahan organisasi PGRI agar menjadi Kuat, Independen, Demokrasi dan Sinambung (KIDS) adalah; (1) konsolidasi dan penguatan kapasitas kepengurusan dari berbagai jenjang tingkatan kepengurusan. Jangan sampai kehabisan stok kader PGRI, estafet kepengurusan (kepemimpinan) haruslah berjalan secara dinamis dan direncanakan. Lakukan pelatihan kaderisasi kePGRIan terlebih dahulu, cintai PGRI, lanjutkan dengan pengembangan kompetensi keprofesian. Kepengurusan yang solid dan dinamis akan menjadi motivasi para kader-kader PGRI muda untuk berbuat lebih maksimal. (2) Keanggotaan merupakan data kekuatan yang harus akurat dan jelas. Anggota guru PGRI itu terdata didata base online PB PGRI, serta ditandai dengan memiliki Karta Tanda Anggota (KTA). Kelihatannya sepele, namun akan menjadi kekuatan hukum yuridis formal disaat melakukan pungutan iuran berikutnya nanti. (3) Iuran keanggotaan merupakan darah bagi organisasi. Organisasi PGRI ini adalah organisasi non profit, pengurusnya tak memiliki tingkatan eselon yang diberikan tunjangan. Jika tak ada amal usaha lain untuk operasional organisasi, maka hampir dipastikan akan terseok-seok jalannya, malah akan mengalami “strok permanen”. Kecil namun rutin, akan jauh lebih baik, dengan (kelihatan) besar namun sekali saja. (4) Gender merupakan isue strategis saat ini, dari data yang ada lebih mendominasi keberadaan guru perempuan dibandingkan guru laki-laki. Fakta ini merupakan potensi yang harus diberdayakan maksimal. AD/ART PGRI mengamanahkan jumlah pengurus perempuan minimal 30%, ini menunjukkan PGRI konsisten dengan pemberdayaan perempuan. Bahkan PB PGRI telah membentuk badan khusus perempuan PGRI yang diteruskan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia.
Saatnya PGRI mengevaluasi diri diawal tahun 2020 ini, antara program subtansi dengan program yang bersifat seremonial belaka. Bumbu penyedap pada masakan itu penting, namun jika berlebihan takarannya justru akan menjadi tak enak lagi, malah akan kontraproduktif.
Menyikapi kondisi yang dihadapi, maka kekompakan, kebersamaan dalam satu tekad pengabdian terbaik di PGRI harus dipacu secara terus menerus. Tak ada waktu untuk berleha-leha, cepat beradaptasi dengan perubahan, jika tidak maka akan dilindas oleh perubahan itu sendiri. Mari semua pengurus mengurus organisasi PGRI dengan maksimal, kegiatan mulai saat ini diprogramkan secara profesional. Tingkatkan kapasitas kepengurusan diberbagai tingkatan, jangan sampai masih ada pengurus yang menyebut PB PGRI dengan PB PGRI Pusat..!!
Jadilah pengurus yang mudah ditemui, mudah dihubungi dengan telepon, sehingga anggota yang mau bertemu dengan pengurus tidak susah. Motto pengurus haruslah ; “melayani anggota dengan sepenuh hati”.
Banyak hal yang harus dilakukan, tentunya berpulang kembali dari semua pengurus. Jawablah dari lubuk hati yang paling dalam; apa tujuan menjadi pengurus PGRI, apa yang di cari di PGRI ??!
Mengutip apa yg disampaikan salah seorang ketua PB PGRI (Dudung N Koswara), seseorang yang ingin menjadi pengurus PGRI bisa jadi dikarenakan; 1) mengabdi dan berjuang untuk guru, 2) punya visi dan idealisme, 3) tuntutan profesi yang tertuang dalam UUGD, 4) mencari nama/kehormatan, 5) mencari fasilitas, 6) mencari kekuasaan, 7) mendongkrak karier, 8) post power syndrom, dll.
Jika pengurus berusaha “hidup-hidupkan PGRI, bukan cari hidup di PGRI” maka kita adalah sang idealis, namun jika ternyata “mencari hidup di PGRI” maka kita termasuk sang hedonis.
Semoga bermanfaat, tabe….
Wassalaam….

- Periklanan -

*) Penulis adalah Ketua PGRI Provinsi SulTeng 2019-2024 dan Kepala SMAN 4 Palu.

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.