Demo 55 di Palu, Jangan Lukai Hati Umat Islam

- Periklanan -

Massa FUI Sulteng saat turun melakukan unjukrasa di Palu, Jumat (5/5). Mereka mendatangi Kantor Kejati Sulteng dan Kantor Pengadilan Negeri Palu di Jalan Sam Ratulangi. (Foto:Wahono)

PALU- Tidak hanya di kota-kota besar di Indonesia, aksi unjukrasa bertajuk 505 juga berlangsung di Kota Palu, Jumat 5/5).

Massa aksi menyatakan keberatan dengan tuntutan hukum yang dijatuhkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap terdakwa dugaan penistaan agama, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Saat sidang tuntutan 21 April lalu, Ahok dituntut satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun.

Ratusan massa kembali turun ke jalan usai Salat Jumat. Kantor Pengadilan Negeri Palu dan Kantor Kejaksaan Tinggi Sulteng yang keduanya terletak di Jalan Sam Ratulangi, menjadi tujuan pendemo untuk menyampaikan aspirasinya.

Massa yang menamakan diri Forum Umat Islam (FUI) Sulteng, menyampaikan beberapa tuntutan saat mendatangi Kantor Pengadilan Negeri maupun Kejati Sulteng. Dengan membawa beberapa spanduk bertuliskan tuntutan, mereka menyerukan agar tidak ada “jual beli” putusan hukum dalam kasus Ahok. Hukum di Indonesia harus ditegakkan setegak tegaknya. “Ini kami ingatkan. Kami tidak main-main,”tegas Husen Idrus Alhabsyi selaku koordinator aksi.

- Periklanan -

Ucen-sapaan akrabnya-yang juga Ketua FPI Sulteng menyatakan, JPU yang menangani kasus dugaan peninstaan agama yang dilakukan Ahok, telah mencoba permainkan hukum dengan bersilat lidah untuk membela Ahok. JPU hanya menggunakan Pasal 156 KUHP untk menjerat Gubernur DKI Jakarta tersebut. Di mana JPU dalam pertimbangan hukumnya menyatakan bahwa Ahok tidak menintaskan agama, melainkan hanya menghina sekelompok golongan yakni umat Islam.

“Sehingga dalam kasus ini, JPU hanya menuntut Ahok dengan penjara selama setahun, dengan masa percobaan dua tahun. JPU hanya menggunakan pasal alternatif. Ini sama saja melukai hati umat Islam,“ teriak Ucen dalam orasinya di hadapan massa yang rata-rata masih menggunakan pakaian Salat Jumat.

Sesuai jadwal persidangan, pada 9 Mei nanti majelis hakim akan membacakan putusan pengadilan terhadap Ahok. Sebagai umat Islam, Ucen mengimbau kepada para pendemo maupun yang berada di rumah, harus menyatukan presepsi. Satukan tekad untuk menuntut keadilan. “Sebagai umat Islam yang beriman, makanya kami menggelar aksi 5 Mei ini untuk mempressure persidangan kasus Ahok,” ujarnya.

Mewakili Kepala Kejaksaan Tinggi Sulteng, Asisten Intelejen Kejati Ujang Supriyanto yang menerima massa aksi menyatakan, dengan prinsip yang sama untuk tetap menjaga keutuhan NKRI, pihaknya menghargai apa yang diserukan para pendemo. “Untuk proses persidangan Ahok, kita tentunya sudah melihat langsung jalannya persidangan di televisi-televisi maupun membacanya di media massa. Kita serahkan dan percayakan ke hakim. Apa yang nantinya akan diputuskan oleh hakim, itulah fakta persidangan,“ kata Ujang di hadapan peserta aksi 505.

Setelah mendengar jawaban dari pihak Kejati, massa aksi kemudian bergeser menuju Kantor Pengadilan Negeri Palu dengan menyerukan tuntutan yang sama. Dengan pengawalan ketat dari pihak Polres Palu dan anggota Kodim 1306 Donggala, mereka juga berorasi di depan Kantor Pengadilan Palu. Mereka menyerukan kepada para hakim agar memutus perkara Ahok dengan seadil-adilnya. Jangan ditunggangi kepentingan serta sengaja melukai hati umat Islam. (cr3)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.