Demi Gaya Hidup, Ada Pelajar di Palu Jual Diri

- Periklanan -

PALU – Era modern saat ini gaya hidup kadang menghilangkan akal sehat orang dan berbuat nekat agar bisa memenuhi kebutuhannya. Apapun itu, walaupun harus mengadaikan harga diri.

TARIF SEKALI BERTEMU
*ABG SMP Kisaran Rp 400 ribu sampai Rp 500 ribu
*ABG SMA Kisaran Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta
*Mahasiswi Kisaran Rp 500 ribu sampai Rp 1 Juta Plus belanja di Mall dan traktir makan.
MODUS PENAWARAN
*Modusnya dengan menitip nomor ponsel di resepsionis penginapan, jika ada pelanggan yang butuh ditemani tidur bisa langsung menghubungi.
*Menggunakan jasa teman sebaya yang putus sekolah dan juga sebagai pelaku.
*Menggunakan jasa pelanggan yang sudah pernah jadi pelanggan. Jika ada pelanggan baru bisa melalui pelanggan yang sudah pernah menjadi teman tidur.

Seperti yang dilakukan beberapa siswi di Kota Palu yang rela menjual diri kepada para pria dewasa penjajah seks demi untuk mendapatkan uang tunai agar bisa memenuhi keinginannya mendapatkan barang berharga yang diinginkannya.

Dari beberapa sumber Radar Sulteng menuturkan, ada beberapa pelajar perempuan yang berstatus pelajar SMP dan SMA di Kota Palu menjual diri kepada pria hidung belang. “Tidak usah disebutkan identitas anak dan sekolahnya yah,” kata sumber yang juga minta tidak menyebutkan namanya, di salah satu hotel di Kota Palu, Kamis (19/4).

Menurut sumber Radar Sulteng, sebenarnya praktik-praktik pelajar terlibat menjual diri sudah berlangsung lama dan sekarang juga masih ada. Hanya saja tidak transparan, karena mereka tidak sembarang memilih pelanggan. Bahkan ada yang kasusnya ketika terungkap bahkan ada kepergok, berlanjut sampai di kepolisian dan ada juga yang berakhir damai. Cara kerja para pelajar ABG ini memang sulit dideteksi, mereka tidak memakai perantara seperti mucikari, tapi melalui teman sesama mereka pelajar yang sebelumnya juga sudah pernah melakukan hal yang sama.

“Cara mereka menawarkan diri tidak seperti para pekerja seks komersil lainnya. Mereka hanya melalui sesama teman mereka atau yang pernah memakai mereka,” bebernya.

Bahkan lanjut sumber, para pelajar itu bahkan melayani pelanggan mereka ada yang masih menggunakan baju seragam sekolah dan masih di jam jam sekolah, kemungkinan mereka bolos sekolah. Bisa juga saat jam pulang sekolah, karena jarang mereka melayani pelanggannya malam, mungkin takut diketahui orangtua mereka kalau keluar malam hari. Selain melalui teman-teman mereka yang pernah ditiduri pria hidung belang, juga ada modusnya menitip nomor handphone di beberapa resepsionis penginapan. “Jadi ada yang titip nomor HP, kalau ada pria hidung belang yang butuh mau cari perempuan ABG menemani mereka,” ungkapnya.

Ditanya bagaimana dan dari sumber mendapatkan informasi, bahwa ada sejumlah pelajar perempuan di Kota Palu yang menawarkan dirinya kepada para pria hidung belang ? menurutnya, saat itu dia masih aktif melakukan pendampingan di LSM perlindungan perempuan dan anak di Kota Palu.

“Saya kan dulu masih aktif di LSM perlindungan perempuan dan anak, jadi kami ikut turun langsung,” ujar wanita yang dikenal supel itu.

Untuk tarif sekali “main” yang diberikan ABG tersebut, kisaran Rp 400 ribu sampai Rp 500 ribu dan kesepakatannya tarif bisa melalui telepon atau SMS.

Selain pelajar SMP, ternyata juga ada pelajar SMA. Hanya saja modus mencari pelanggan untuk ABG yang SMA berbeda dengan ABG yang masih SMP. Modusnya menggunakan jasa seperti mucikari, yaitu teman sebaya yang putus sekolah yang juga ikut menjadi pelaku jika ada yang menginginkan mereka. “Kalau yang ABG SMA ada perantara, jadi kalau cocok harga dan juga pelanggan disuka sama ABGnya ketemulah,” katanya.

Untuk tarif ABG SMA bisa lebih tinggi dari tarif ABG SMP kisaran Rp 800 ribu sampai Rp 1 juta sekali tidur bareng. Pelanggannya juga kata sumber, tidak sembarangan, selain berduit, ABG itu juga biasanya melihat pelanggannya. Tempat untuk bertemu bukan di penginapan atau kos-kosan tapi di hotel-hotel yang lumayan bagus. “ABG ini juga tidak mau sembarang, dia lihat juga pelanggannya yang menarik juga. Biar sudah berumur yang penting masih kelihatan masih menariklah,” terangnya.

Sumber lain Radar Sulteng, seorang pemilik kos kosan di wilayah Kota Palu yang juga minta tidak menyebutkan namanya mengungkapkan, praktik “jual diri” untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup juga terjadi pada sejumlah mahasiswi. Wanita pemilik kos yang juga seorang pendidik di salah SMP di Kota Palu mengaku mengetahui adanya praktik tersebut dari sejumlah mahasiswi yang menyewa kos di tempatnya.

- Periklanan -

Dalam satu kesempatan ada beberapa mahasiswi yang menyewa kosnya menceritakan ada teman mahasiswi mereka yang mengajak mereka untuk melayani pria hidung belang yang mereka istilahkan dengan sebutan “Om, Om”. Untungnya kata sumber ini, anak yang menyewa di kosnya menolak karena memang mereka anak baik-baik dan dikosnya ada aturan tidak bisa membawa teman pria apalagi menginap di kosnya.

“Saya tegas, tidak boleh ada yang bawa pacar ke kos apalagi menginap,” ungkapnya.

Untuk tarif yang diberikan kepada “om, om” kata sumber, para mahasiswi itu bervariasi kisaran Rp 500 ribu sampai Rp 800 ribu. “Kadang anak-anak di kos saya itu diajak beberapa teman mahasiswinya ketemu “om, om”. Katanya lumayan tidak lama begitu sudah dapat Rp 500 ribu bisa bayar kos sebulan. Biasa juga diajak makan atau belanja ke Mall,” ujarnya sembari menggeleng kepala.

Sementara terpisah pendamping korban kekerasan anak dan perempuan dan anak yang berhadapan dengan hukum (BH) di Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Sulteng, Maspa Hasra, dikonfirmasi terkait informasi adanya ABG pelajar yang menjual diri kepada pria hidung belang di Kota Palu, membenarkan jika dia juga pernah mendampingi beberapa anak di bawah umur. “Iya saya pernah mendampingi, ada anak SMP dan anak SMA. Benar memang di Palu pernah ada kasus seperti itu,” katanya.

Maspa yang akrab disapa Aci itu saat ditemui usai kegiatan Forum Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Perlindungan Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH) Provinsi Sulteng di Mecure Hotel, Kamis (19/4) mau berbagi pengalaman dengan catatan wartawan Radar Sulteng tidak menyebutkan identitas korban, alamat, sekolah dari korban.

“Mereka ini sebenarnya korban. Di usia mereka yang rentan seperti itu, mereka mudah dipengaruhi lingkungan dan godaan lainnya,” katanya.

Aci kemudian mencoba mengingat-ingat kembali, saat dia bersama LSM perlindungan perempuan dan anak melakukan pendampingan kepada anak usia sekolah yang terjebak dalam praktik jual diri. Kejadiannya kata Aci memang sudah lumayan lama, kalau tidak salah ingat sekitar tahun 2015 atau 2016. Itu juga bisa terungkap karena kasusnya sempat diproses sampai di kepolisian. Walaupun ada yang harus berakhir damai dan ada juga yang sampai ke pengadilan.

“Kalau yang kami tangani memang benar, karena kami ikut mendampingi. Bahkan kami ikut juga saat menjebak dengan menggunakan teman yang menyamar sebagai pelanggan dan akhirnya tertangkap,” terangnya.

Lebih jauh Aci menuturkan, dari pengakuan korban, mereka melakukan itu karena terpengaruh teman-teman mereka dengan gaya hidup serba kekinian. Ingin memiliki barang mewah, tapi tidak memiliki uang. Karena tergoda dan ada kesempatan mereka rela menawarkan diri kepada pria hidung belang. “Karena lihat teman mereka dengan barang-barang mewah. Ganti HP baru, belanja di Mall. Untuk bisa dapat uang cepat mereka nekat jadi begitu,” ujarnya.

Pada dasarnya para ABG yang terlibat dalam masalah itu, awalnya hanya coba-coba saja, karena pergaulan, juga menjadi korban dari pelaku kawan mereka lebih dulu terlibat. “Biasanya kan begitu baku ajak-ajak, karena sudah tau terima uang mungkin besar mereka rasa, jadinya keterusan. Untungnya cepat terungkap,” tuturnya.

Masih menurut Aci, anak-anak korban seperti itu ada banyak penyebab sehingga mereka terlibat, selain pergaulan, gaya hidup, juga kurangnya pengawasan orang tua. Karena kadang orang tua sibuk, sehingga tidak lagi mengontrol anak mereka, padahal anak seusia mereka ini seharusnya sering mendapat perhatian dan pengawasan orang tua, karena rawan terpengaruh pergaulan bebas.

“Anak-anak di bawah umur rawan melakukan apa saja, untuk bisa memenuhi keinginan mereka demi gaya hidup dan ajakan teman sebaya. Ini tugas kita semua termasuk orang tua yang harus selalu memberi perhatian, mengontrol anak-anak mereka, khususnya pergaulan mereka,” harapnya.

Ditanya apakah saat ini ABG yang melakukan praktik seperti itu masih ada ? Menurutnya, kemungkinan besar masih ada. Dari beberapa kasus mendapat pendampingan, rata-rata para ABG yang terlibat mengaku banyak kawan mereka yang juga melakukan hal yang sama. “Pengakuan dari beberapa yang kami tangani, mereka mengaku memang marak praktik seperti itu dikalangan ABG dan pelajar di Kota Palu. Hanya saja untuk membuktikan itu tentu tidak gampang harus ada bukti-bukti. Menurut saya memang harus ada program pencegahan terhadap anak usia sekolah, baik dari pemerintah, pihak sekolah dan terlebih penting orang tua sendiri ,” pungkasnya. (ron)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.