Data Korban Gempa Poso masih Simpang Siur

- Periklanan -

Tenda darurat yang didirikan warga untuk tempat tinggal sementara menunggu kondisi betul-betul aman. (Foto: Mugni Supardi)

POSO-Hingga Selasa (30/5) kemarin, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Poso belum menetapkan status masa tanggap darurat bencana, pasca terjadinya gempa bumi 6.6 SR yang mengguncang daerahnya, pada Senin (29/5) malam.

Wakil Bupati (Wabup), Samsuri MSi, mengatakan penetapan masa tanggap darurat baru bisa dilakukan setelah pemkab memegang dan memiliki data akurat tentang korban dan atau kerusakan fisik pasca bencana. Tanpa data-data yang nyata dan bisa dipertanggungjawabkan tersebut, pemkab belum bisa memutuskan langkah perbaikan dan rehabilitasi karena akan beresiko pada hukum.

“Tanpa data yang jelas, tanggap darurat belum bisa dilakukan. Data yang diperlukan ini pun harus dibuktikan dengan gambar foto,” katanya pada Radar Sulteng.

Menurut wabup, data korban luka dan kerusakan akibat gempa memang sudah banyak diterimanya dari banyak sumber. Tapi data tersebut belum bisa jadi pegangan karena satu dengan lainnya ada banyak yang berbeda. “Masih simpang siur dan berbahaya jika dijadikan data rujukan penetapan tanggap darurat,” tukas dia.

Meski masa tanggap darurat belum ditetapkan, Wabup memastikan tindakan penanganan pasca bencana sudah dilakukan pemkab. Diantaranya adalah pemberian bantuan pangan kepada para korban gempa. Distribusi bantuan logistik ini dilakukan oleh dinas terkait yaitu Dinas Sosial. Tindakan lain yang dilakukan adalah mendata jumlah korban (luka) dan bangunan rusak akibat gempa.

“Kami sudah perintahkan kepala BPBD dan seluruh camat untuk mendata warganya yang menjadi korban gempa. Kepada Dinas Kesehatan, rumah sakit dan puskesmas juga sudah kami perintahkan untuk memberikan pertolongan perawatan secara cepat kepada warga korban gempa,” ungkap wabup.

- Periklanan -

Dipastikannya pula, gempa 6.6 SR yang titik koordinatnya berada di gunung biru ini tidak menimbulkan korban jiwa.

Sementara itu, dari sumber terpercaya diperoleh data bahwa gempa Poso telah mengakibatkan 5 orang terluka, sengan rincian 2 luka berat dan 3 luka ringan. Satu dari dua orang luka berat telah di rujuk ke RS Undata Palu. Gempa juga menyebabkan 11 unit rumah terdiri 6 rumah rusak berat dan 5 rusak ringan.

Dua bangunan gereja rusak berat, 1 bangunan masjid rusak ringan, sekolah satu atap SD/SMP rusak berat, 1 buah Polindes rusak berat, 1 buah penggilingan padi rusak berat. Semua korban luka dan lokasi bangunan rusak tersebut berada di Desa Sedoa, Kecamatan Lore Utara.

Data lain yang diperoleh dari sumber berbeda menyebut jika gempa 6.6 SR telah mengakibatkan kerusakan bangunan fisik di sejumlah desa dan kecamatan berbeda. Di wilayah Lore Utara-Lore Timur, misalnya. Disana ada dua desa yang berdampak gempa paling parah.

Yaitu Desa Sedoa dan Desa Alitupu. Di Desa Sedoa terdapat satu gereja roboh, satu polindes roboh, dua warga luka berat dan satu luka ringan, serta puluhan rumah warga retak-retak. Sedangkan di Desa Alitupu satu rumah roboh dan satu orang warga luka berat. Desa Wuasa tiga rumah retak-retak, dan tanah retak mengeluarkan lumpur dan bau belerang.

Di wilayah kota gempa mengakibatkan gedung belakang eks kantor BNI Cabang Poso roboh, dan jembatan panjang dekat Pos SMAKER retak. Wilayah pesisir, Desa Towu dua bangunan rumah warga rubuh, 19 rumah warga rusak ringan (retak), dan satu orang mengalami luka-luka.

Untuk Poso Pesisir Utara dampak kerusakannya adalah satu rumah warga rubuh di Desa Kilo, satu rumah warga rubuh dan bangunan pagar dan ruang belajar SMPN 2 pagar Desa Tambarana roboh.

Dari wilayah-wilayah tersebut kerusakan terparah dan terbanyak berada di wilayah Napu Lore Utara.(bud)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.