alexametrics Dari Pekerja Serabutan, Kini Pimpin Bengkel Panel Risha – RADAR SULTENG
Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Dari Pekerja Serabutan, Kini Pimpin Bengkel Panel Risha

Cerita Johan, Warga yang Dapat Penghasilan Tambahan dari Pendampingan Arkom

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Satu dari sekian banyak lembaga kemanusiaan yang hadir pascabencana hingga kini, adalah Arsitek Komunitas (Arkom) Indonesia. Tidak hanya memberikan bantuan materil, namun Arkom mampu berdayakan masyarakat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Salah satunta dirasakan oleh Johan Limin (33).

AGUNG SUMANDJAYA
, Mamboro

SEBELUM bencana terjadi, Johan hanya lah, pekerja serabutan. Penghasilan didapatnya, ketika ada warga yang menggunakan jasanya sebagai tukang bangunan. Namun, saat bencana gempa bumi dan tsunami terjadi, warga Kelurahan Mamboro, Palu Utara ini, sempat lama menganggur.

Keadaan Kota Palu yang baru terkena bencana, membuat belum ada yang menggunakan jasanya sebagai tukang bangunan. Beruntung, ketika Arkom Indonesia datang, dirinya diajak untuk mengikuti pelatihan langsung dari Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) PUPR membuat panel beton untuk Rumah instan sederhana sehat (Risha).

Risha merupakan rumah berkonsep knock down, yang tahan terhadap gempa bumi. Usai mengikuti pelatihan membuat panel beton, difasilitasi Arkom, Johan pun akhir membuka bengkel atau workshop panel Risha, yang diberinama Bengkel Risha Mosinggani. “Bengkelnya terbentuk Januari 2020, seiring peletakan batu pertama Hunian Tetap yang didampingi Arkom,” jelas Johan.

Semula bengkelnya ini, hanya memproduksi panel beton untuk keperluan rumah-rumah Huntap Arkom. Namun, warga lainnya, yang melihat kwalitas panel produksi Johan pun, tertarik menggunakan jasa Johan dan rekan-rekannya. Johan pun menjadi salah satu aplikator Risha bersertifikat, yang dipakai warga penerima dana stimulan rumah rusak berat.

“Dari yang awalnya kami tidak tahu apa-apa untuk membuat panel beton, kini khusus Mamboro kita sudah produksi panel beton Risha, untuk 60 unit rumah. Kami juga sudah bantu produksi panel untuk rumah warga di Jalan Sisingamangaraja dan Jalan Swadaya,” ungkapnya.

Dari penghasilan semula penghasilannya pas-pasan, setelah mengelola bengkel panel beton ini, Johan mengaku bisa mendapatkan penghasilan yang lebih. Pria yang kehilangan ibu dan satu ponakannya ketika tsunami itu, juga mengaku, juga telah menerima orderan panel beton untuk salah satu bangunan di Kota Makassar.

“Alhamdulillah, di balik bencana, ada hikmah yang saya dan warga lainnya dapatkan dari kehadiran Arkom di tempat kami ini,” akunya.

Bengkel Panel Beton yang dipimpinnya tersebut, juga memiliki sejumlah karyawan. Khusus untuk pengelola, selain dirinya, ada pula 4 warga lainnya. Bengkel yang dibangun oleh Arkom di wilayah Layana ini pun, juga mempekerjakan warga sebagai security dan bagian administrasi.

“Untuk pekerja di bagian pembesian ada 5 orang sementara pengecoran ada 10 orang,” terang Johan.

Khusus panel yang diproduksi di Bengkel Mosinggani, adalah panel P1 untuk slop atau pondasi, kemudian panel P2 untuk tiang dan P3 untuk ring balok. Harga yang diberikan, ada dua ketegori yakni bangunan rumah atau bangunan besar seperti sekolah dan masjid.

Khusus bangunan rumah, diberikan harga panel lengkap untuk rumah tipe 36, senilai Rp17 juta di daerah dampingan. Namun untuk luar dampingan Rp17.500.000. “Harga itu di luar aksesoris rumah,” katanya.

Sementara untuk bangunan besar, diberikan harga per panel. Untuk panel P1 senilai Rp148 riibu, P2 senilai Rp140 ribu dan P3 126 ribu. Harga sendiri di luar biaya pemasangan. Biasanya, khusus untuk rumah, pihaknya memberikan pendampingan pula kepada tukang atau pemilik rumah.

“Untuk pendampingan kami kenakan biaya Rp1,3 juta, jadi kita damping sampai rumah benar-benar jadi,” sebut ayah satu anak ini.

Perubahan pendapatan yang dirasakan lewat bengkel Risha binaan Arkom ini, dia pun mengungkapkan kesyukuran dan rasa terimakasihnya kepada Arkom Indonesia. Dia berharap, pengetahuan yang telah didapatnya ini, kedepan akan bisa ditularkan kepada masyarakat di daerah lain.

“Seperti di Tompe, saya juga ikut memberikan pelatihan, atas pengetahuan yang sudah lebih dulu saya dapatkan. Ini semua berkat difasilitasi oleh Arkom,” tutup Johan. (**)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.