Dari Kunjungan JICA Study Team di Jepang

Mengunjungi Bukit Kembar Iwanuma di Millenium Hope Hills

- Periklanan -

Tim dari Sulteng mulai berkemas, kopor dan tas ransel mobile masing-masing peserta segera dimasukkan ke mobil bus yang siap membawa kami di tiga wilayah yang akan kami kunjungi pagi ini, Sabtu (9/11).
Kami sudah harus meninggalkan Hotel Value yang kami inapi selama tiga hari itu, dengan agenda berikutnya.

Laporan : Muksin Sirajudin-Jepang

Yah kami akan mengunjungi tanggul yang disebut-sebut oleh Kepala Devisi Rekonstruksi Pemerintah Kota (Pemkot) Higashimatsushima Kawaguchi Takafumi sebagai pertahanan berlapis dari “gempuran” tsunami yang mungkin di suatu saat nanti bakal datang lagi.

Setelah cek out, kami pun berangkat menuju tanggul laut di wilayah pantai Suzaki Nobiru. Dalam bus, Kawaguchi menjelaskan kembali apa yang sudah dipaparkan saat berada di ruang pertemuan di Balaikota Higashimatsushima. Tapi kali ini, menjelaskan sambil mempraktikan secara langsung apa yang dipresentasikan beberapa hari lalu.

Rumah-rumah warga Nobiru terlihat berjejer rapi, semua sudah direnovasi pascabencana, lengkap dengan panel-panel listrik tenaga surya. Di sisi lain, tampak juga lahan luas yang baru saja dilakukan panen padi, padahal dulunya merupakan pemukiman padat penduduk.

Mengenai lahan luas itu, Kawaguchi menuturkan sudah dimanfaatkan oleh warga yang masih hidup yang dikoordinir oleh Agried Nuruse, Ltd, yang dipimpin Mr. Endo.
Kamipun tiba pertama kali, di eks terminal kereta api yang rusak disapu tsunami sebelum memasuki areal tanggul.

Pemerintah Kota (Pemkot) Hagashimatsushima mengabadikan kompleks terminal Nobiru itu dengan membuat tugu peringatan bahaya tsunami yang pernah menerpa sekaligus artefak-artefak rel kereta api yang tersisa, yang akan berbicara banyak mengenai tragedi tsunami yang menimpa Nobiru 11 Maret 2011 lalu.

“Di sini (Terminal Nobiru, red) seribuan orang tewas. Termasuk sebuah kereta yang saat itu masih di sini membawa penumpangnya. Tetapi, seluruh penumpang dan masinisnya selamat. Sementara air tsunami terus datang bergelombang dan menimpa kantor terminal kereta. Mereka yang berada di lantai dua itulah yang selamat, ” tutur Kawaguchi.

Itulah sebabnya Pemkot Higashinatsushima mematri batas air yang menggenangi kantor terminal dengan garis merah. Juga jarum jam dinding di saat tsunami di pampang di eks kantor kereta api Nobiru, yang kini menjadi destinasi wisata bagi warga lokal maupun mancanegara yang ingin belajar dan melakukan study banding dahsyatnya tsunami. Kami juga disuguhkan film dokumenter berdurasi 20 menit tentang tsunami di Nobiru, dengan menceritakan sosok kakek Takeda (79) yang kehilangan isteri tercintanya.

“Nama-nama warga yang tewas saat tsunami pun dipatri di batu hitam marmer, dan dalam bentuk tugu dengan simbol Jepang, manusia.

Dari terminal, kami melanjutkan perjalanan menuju pantai melihat-lihat tanggul beton setinggi 7 meter, yang sebagiannya sudah jadi, dan sedang di bangun. Setelah tanggul beton, ada juga tanggul tanah setinggi 3 meter dan 1 meter. “Masih ada penambahan pembangunan tanggul lagi, sehingga masih banyak alat berat di sini sedang bekerja, ” terang Kawaguchi.

Menariknya, di badan tanggul dibuatkan pula tangga untuk naik dan turun warga ke pantai, atau warga yang ingin melihat-lihat indahnya pantai dan sekadar merasakan gemuruhnya ombak di laut. Juga disertai jalan melingkar, jalan masuk dan keluar, yang memudahkan warga mengakses pantai yang banyak ditumbuhi pohon-pohon cemara yang tertata rapi di kiri kanan jalan.

- Periklanan -

Dari tanggul kami menuju kawasan Nobiru baru di atas perbukitan, di sana terdapat Sekolah Dasar (SD) yang dibangun pasca tsunami, dan sekolahnya kemudian dijadikan tempat pelatihan dan tempat pertemuan oleh warga di Kibotcha, yang dipimpin F. Kogure.

Setelah mengunjungi tanggul pantai Suzaki, tanggul laut Nagahama, kawasan relokasi massal di Nobiru baru dan SD Nobiru, dankawasan relokasi massal Miyado, kunjungan kami dilanjutkan ke sebuah tempat yang kini oleh Pemkot dijadikan kawasan destinasi, mitigasi dan perlindungan warga ketika terjadi bencana, bernama Milenium Hope Hills, tak jauh dari Bandara Sendai ibukota Prefekture Miyagi.

Diperbatasan kota, kami harus berpisah dengan Kawaguchi, orang yang selama ini menjadi tempat kita bertanya, jujukan, menjadi trainer dan referensi tentang kota bencana dan pananganan rekonstruksi wilayah perkotaan, menjadi inspirator bagaimana melindungi warga dan merelokasi harus kami tinggalkan, karena Kawaguchi harus melanjutkan pekerjaannya.

Sedangkan kami harus mengunjungi lagi beberapa tempat penting untuk kami ketahui dan menjadi pembanding serta menjadi tempat study banding bagi peserta yang sebagiannya adalah pejabat penting dan penentu di Pemprov Sulteng, Pemkot Palu, serta Pemkab Sigi, dan Donggala.

Di kawasan ini, di Distrik Tamaura Nishi di Kota Uwanuma, kami akan melihat dua bukit yang dibangun Pemkot yang dijadikan sebagai tempat evakuasi manakala terjadinya tsunami.

Namun sebelumnya, kami pun disuguhkan film dokumenter terjadinya tsunami di wilayah itu , dan kegiatan pascabencana, setelah itu kegiatan penanaman pohon yang melibatkan masyarakat dan pelajar, serta pembangunan dua bukit untuk evakuasi.

” Dua bukit ini dibangun oleh pemerintah bersama masyarakat, dimana material bukit yang tingginya 11 meter dan bisa menampung 50 orang masing-masing berisikan rongsokan rumah-rumah penduduk yang rumahnya hancur karena gempa berkekuatan 9,0 Skala Ricter itu. Jadi, tidak dibiarkan begitu saja. Atau di buang di pinggir jalan. Tetapi kami merencanakan dan mendesain pembuatan bukit ini dan kawasan Millenium Hope Hills yang berdekatan dengan Bandara Sendai. Semuanya harus terencana dan rapi,” jelas Emiko Zuki, pimpinan Millenium Hope Hills kepada Radar Sulteng, Sabtu (9/11).

Emiko langsung mengajak seluruh peserta yang terus didampingi Team Japan Internasional Cooperation Agency (JICA) lembaga kerjasama internasional dari pemerintah Jepang , interpreter Kazuyo Suda, koordinator Yuki Shigematsu, pimpinan project study team Masatsugu Komiya, koordinator training Takafumi Kawai, pimpinan tim pendidikan dan recovery Hideki Hiroshige, dan koordinator Community Empowerment Urara Higuchi.

Di bukit Millenium Hope Hills, Direktur Direktorat Perencanaan Pembangunan Nasional Badan Pembangunan Nasional (Bappenas) Republik Indonesia, Ahmad Dading Gubadi, diberi kesempatan oleh Emiko Zuki untuk membunyikan lonceng sebanyak tiga kali, sebagai tanda kehormatan bagi pemerintah Indonesia.

Banyak hal dijelaskan oleh Emiko secara detail yang dicatat pula oleh kawan-kawan peserta pelatihan, diantaranya utusan dari Kementerian PUPR, dari Kementerian ATR/BPB Desfitriza dan Mirwansyah, dan Kasub Perencanaan Kerjasama Internasional Rosyana Dewi, Kepala Bappeda Sulteng Hasanuddin Atjo, Kepala Seksi Dinas Koperasi dan UKM Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng, para Kepala Dinas Koperasi UMKM dari Pemkab Sigi, Samuel Yansen Pongi, Pemkot Palu Syamsul Saifudin, dari Pemkab Donggala Umar Hamid Sahabu, dan Kadis PUPR Pemkot Palu Iskandar Arsyad, dan NGO Mahditia Paramita.

Usai melihat dan mempelajari pentingnya membangun kawasan Millenium Hope Hills, kami pun bergerak menuju Hotel Comfort Nishiguchi persis di tengah di Kota Sendai, untuk menginap dua malam, dan selanjutnya akan menghadiri sebuah pertemuan serta makan malam bersama peserta pelatihan dari negara Mozambik.

Keesokan paginya, Minggu (10/11) kami akan bergerak lagi menuju acara World Bosai Forum, menggunakan kereta api bawah tanah, untuk mengikuti paparan dan diskusi panel tentang dukungan pemulihan kembali pascabencana Sulteng.(mch)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.