Dalam Sebulan, 6.700 Muslim Rohingya Tewas di Myanmar

- Periklanan -

Seorang pria Bangladesh membantu pengungsi Muslim Rohingya untuk turun dari sebuah kapal di garis pantai Bangladesh di sungai Naf setelah melintasi perbatasan dari Myanmar di Teknaf pada 30 September 2017. (Foto: FRED DUFOUR/AFP)

SEDIKITNYA 6.700 Muslim Rohingya tewas dalam waktu sebulan setelah pertempuran pertama antara tentara Myanmar dengan pemberontak di negara bagian Rakhine pecah pada akhir Agustus lalu.

Data tersebut dipaparkan Doctors Without Borders (MSF) pada Kamis (14/12). Angka tersebut merupakan korban tewas paling tinggi yang diperkirakan terjadi akibat kekerasan yang meletus pada 25 Agustus dan memicu sebuah krisis pengungsi besar-besaran.

Saat ini sudah lebih dari 620.000 orang Rohingya melarikan diri dari Myanmar ke Bangladesh selama periode tiga bulan.

PBB dan AS telah menggambarkan operasi militer tersebut sebagai “pembersihan etnis” minoritas Muslim. Tetapi, belum ada angka korban tewas yang dirilis.

“Setidaknya 6.700 Rohingya. Itu adalah perkiraan paling minim. Dari jumlah itu setidaknya 730 anak di bawah usia lima tahun juga tewas,” sambung MSF.

- Periklanan -

Temuan kelompok tersebut berasal dari enam survei terhadap lebih dari 11.426 orang di kamp pengungsian Rohingya setelah sebulan krisis meletus.

“Kami bertemu dan berbicara dengan korban kekerasan di Myanmar yang sekarang berlindung di kamp-kamp yang padat dan tidak sehat di Bangladesh,” kata direktur medis MSF Sidney Wong.

“Apa yang kami temukan sangat mengejutkan, baik dari segi jumlah orang yang melaporkan seorang anggota keluarga meninggal akibat kekerasan, dan cara mengerikan yang mereka katakan mereka terbunuh atau terluka parah.”

Pengungsi Rohingya telah mengejutkan dunia dengan cerita yang konsisten mengenai pasukan keamanan dan gerombolan etnis Rakhine Buddha yang mengusir mereka dari rumah mereka dengan peluru, pemerkosaan, dan pembakaran yang membumihanguskan desa mereka.

Bila di-break down, ribuan korban itu tewas dengan berbagai cara. Sebanyak 69 persen kematian terkait kekerasan disebabkan tembakan senjata, 9 persen karena dibakar sampai mati di rumah mereka, dan 5 persen dipukuli sampai mati.

Di antara anak-anak yang meninggal di bawah usia lima tahun, MSF mengatakan lebih dari 59 persen dilaporkan tertembak, 15 persen terbakar sampai mati, 7 persen dipukul sampai mati, dan dua persen terbunuh oleh ledakan ranjau darat.

“Jumlah kematian kemungkinan akan diremehkan karena kami belum mensurvei semua pemukiman pengungsi di Bangladesh dan karena survei tersebut tidak memperhitungkan keluarga yang tidak pernah berhasil keluar dari Myanmar,” kata Wong.(jpnn)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.