Cerita Yuncan, Saksi Mata Pembunuhan Sadis di Mamboro

- Periklanan -

Ilustrasi (@jpnn.com)

Peristiwa tewasnya Nurhayati warga Desa Maninili, Kecamatan Tinombo Selatan, Kabupaten Parimo di Salah Satu Kos di Kelurahan Mamboro, Palu Utara, tak terlupakan oleh Yuncan. Mahasiswa Keperawatan ini, masih sangat mengingat peristiwa itu, apalagi wajah pelaku yang menikam korban berulang ulang kali.

Laporan – SUDIRMAN


WAKTU malam itu sudah semakin larut, Jam diding di salah satu ruangan di Mapolsek Palu Utara, menunjukan pukul 01.46 wita. Salah seorang pemuda yang baru saja tiba dan memarkir kendaraannya didepan pintu pagar Polsek Palu Utara, menyeruh kepada Bripka Saharuddin, salah satu anggota jaga malam itu.

“Pak Komandan, tadi teman bapak telepon saya, dan menyuruh saya datang kepolsek,” kata pemuda yang baru tiba dengan sepeda motor metik malam itu.

Ternyata kedatangan pemuda itu juga telah ditunggu oleh Bripka Saharuddin. Pemuda itu ternyata warga penghuni salah satu petakan kos, di Kelurahan Mamboro, Kecamatan Palu Utara, yang menjadi Tempat Kejadian Perkara (TKP) peristiwa naas, tewasnya Nurhayati warga dari Desa Maninili, Kecamatan Tinombo Selatan, Kabupaten Parimo.

Yuncan (20), begitu sapaan pemuda yang mengaku kuliah di salah satu Akademik Keperawatan (Akper) di Kota Palu ini. Dia adalah saksi mata yang memberikan keterangan dalam laporan polisi, atas tindakan penganiayaan berat yang menimpah Nurhayati.

Kedatanganya di Mapolsek Palu Utara malam itu, untuk dimintai mengenali foto foto warga para pelaku terduga pembunuh Nurhayati, yang telah ada dan tersimpan digaleri HandPone Bripka Saharuddin.

“Yang tiga ini, saya tidak kenal. Kalau yang satu ini saya kenali dan saya ingat, persis dan mirip seperti pelaku,” kata Yuncan setelah diperlihatkan foto empat orang warga yang diduga kawanan terduga pelaku yang terlibat aksi penganiayaan berat terhadap korban Nurhayati di Kelurahan Mamboro.

Yuncan, malam itu hanya mengenali satu dari empat foto yang diperlihatkannya. Dia hanya mengenali laki-laki, berambut agak panjang sebagaimana difoto, yang menurutnya mirip sekali dengan terduga pelaku yang berulang kali menikam korban Nurhayati. Dia sangat mengenalinya, karena sempat berhadapan dengan pelaku.

- Periklanan -

“Saya lihat pelaku itu, masih menusuk nusuk korban menggunakan pisau. Dia berulang kali menusuk korban,” cerita Yuncan mengisahkan kisah tragis yang dialami korban Nurhayati.

Yuncan menemukan peristiwa itu berlangsung, karena kos tempat korban Nurhayati dianiaya hingga meninggal dunia, hanya bersebelahan dengan kos yang disewanya. Kata Yuncan, mulai dari keributan kecil, seperti bertengkarnya korban dan pelaku, hingga terdengar aksi kejar kejaran di dalam kos, itulah yang lebih dulu didengarnya.

“Waktu itu saya mau istirahat tidur siang, karena baru pulang dari kampus. Tapi tidak bisa juga tidur karena ribut disebelah,” sebutnya.

Dari keributan kecil, kemudian Yuncan selanjutnya mendengar korban meringis kesakitan dibagian belakang kos, sembari memohon mohon ampun. Tak tahan mendegar itu, saksi mata ini akhirnya merespon perterngkaran korban dan pelaku. Saksi bahkan meneriaki keributan antara korban dan pelaku sembari menuju dapur untuk melihat. “Pas saya buka, pintu dapur kos ku, saya mendapati korban tersandar di dinding kos, saat itu pelaku masih saya dapati sementara menusuk nusuk korban menggunakan pisau,” ceritanya.

Kata Yuncan, korban yang sudah tak berdaya, diliatnya saat itu mengenakan pakai putih dan telah berlumuran darah. Pelaku sendiri menggenak kaos hitam. Antara pelaku dengan diri saksi ternyata hanya berjarak semeter.  Saat menemukan peristiwa itu, pelaku sempat terkejut dan memperlihatkan wajah kepucatan, apalagi saat saksi meneriaki korban. Hanya saja saksi tidak berani menghalangi perbuatan pelaku, karena pelaku masih memegang pisau yang tadi digunakan menikam korban.

“Jarak saya hanya semeter dengan pelaku. Waktu saya melihat kejadian itu, pelaku sempat kaget wajahnya langsung pucat. Pelaku saat itu hanya mengancam saya. Melihat pelaku masih memegang pisau saya pun menghidar dan keluar kos mencari pertolongan warga,” ceritanya lagi.

Namun saat kembali mencari pertolongan warga, saksi yang datang bersama warga, tinggal mendapati korban sendiri dibelakang kos. Korban didapatinya sudah terbaring dengan luka berbagai tusukan dan berlumuran darah. Dari situ kemudian warga lainnya terus berdatangan, dan selanjutnya membawa korban yang masih terlihat bernyawa ke rumah sakit.

“Saya tidak bisa lupa wajah pelaku, termasuk korban. Karena ini peristiwa yang benar terjadi depan mata saya. Saya mau berniat korban tidak berdaya saat mendapati pelaku yang tiba tiba mengancam saya. Makanya saya hanya bisa berlari keluar kos dan memanggil warga lainnya,” tandas korban.

Meski tak dapat langsung menolong korban, tapi kesaksian Yuncan warga asal Desa Tolai, Kecamatan Torue, Kabupaten Parimo ini, sangat membantu pihak kepolisian. Khususnya dalam mengungkap siapa pelaku. Sejak peristiwa itu ditemukannya, hingga malam Yuncan tak henti hentinya menghadiri paggilan pihak kepolisian. Sampai dia harus dipangil untuk mengenali pelaku, malam itu. “Tidur sini saja kau,” canda Bripka Saharudin kepada Yuncan.

Dari keterang Yuncan, juga diketahui kalau pelaku tidak hanya sendirian saat melakukan aksinya. Dia juga mengetahuinya dari beberapa kerabatnya disekitar kos. Bahwa sebelum kejadian, selain pelaku, diluar kos ada beberapa lagi pemuda diduga kerabat pelaku, yang menunggu. “Ada teman pelaku yang menunggu di depan kos, ada dua lagi yang juga diliat datang bersama pelaku. Namun dua ini sempat kebengkel dekat kos, katanya dua orang itu datang mencari tali,” kata Yuncan.

Ternyata informasi mengenai jumlah pelaku itu benar. Penangkapan terduga para pelaku yang dilakukan pihak kepolisian, jumlahnya ada empat orang. Kini para pelaku sudah diamankan di Polres Palu, untuk mengikuti proses selanjutnya. (**)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.