Cerita Singkat Warga Soal  Pengoperasian PLTU Panau

- Periklanan -

Tower PLTU Panau. (Foto: Mugni Supardi)

MESKI pemerintah telah menindaklanjuti tuntutan warga Panau, Kecamatan Tawaeli, Kota Palu, atas dampak dari pengoperasian PLTU Panau sedang berjalan, namun warga di sekitar wilayah pengoperasian PLTU, masih kerap bertanya-tanya atas upaya yang saat ini sementara dilakukan oleh pemerintah khususnya Pemerintah Kota (Pemkot) Palu.

LAPORAN : Suriyanto H Pasangio


TEPATNYA pada Senin (30/1), sekitar pukul 13.05 wita, tidak disangka Radar Sulteng bertemu dengan beberapa warga di depan salah satu ruang inap pasien di Rumah Sakit (RS) Madani yang terletak di Kelurahan Mamboro, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu. Kedatangan mereka (warga, red) di RS yang juga biasa dikenal adalah tempat bagi para pasien gangguan jiwa tersebut, tidak lain untuk membesuk keluarga yang sementara dirawat.

Menariknya, disamping membesuk sanak keluarga yang lagi dilakukan perawatan intensif, di tempat itu lah sejumlah warga terdengar bercengkerama mengenai problem pengoperasian mesin PLTU Panau. Dan terdengar juga sesekali mereka membicarakan soal dampak dari pengoperasian salah satu mesin pembangkit listrik Kota Palu tersebut, terhadap kesehatan lingkungan sekitar.

Ternyata, dari sejumlah pria setengah baya yang terlihat bercengkerama terkait problem yang sebelumnya sempat melahirkan aksi unjuk rasa warga Panau di beberapa lembaga pemerintah, terdapat salah seorang merupakan warga Panau.

Dalam diskusi kecil-kecilan itu, pria berdomisili Panau, Rudin mengaku, bahwa dirinya merupakan salah satu warga yang merasakan dampak negatif, seperti limbah berupa debu dari hasil pengoperasian mesin PLTU.

“Sampai sekarang, limbah pengoperasian PLTU masih berteberangan. Saya sendiri, meski berjarak sekitar 500 meter antara rumah saya dan lokasi pengoiperasian mesin PLTU, tapi masih juga terkena limbah-nya. Apalagi warga yang jarak rumahnya lebih dekat,” katanya ke warga lainnya.

Selain itu, Rudin menuturkan, sampai saat ini, keresahan dan rasa kekhawatiran masyarakat Panau khususnya, dan terlebih dirinya sendiri, masih dibayang-bayangi oleh dampak limbah dari hasil pengoperasian PLTU Panau.

- Periklanan -

Bagaimana tidak, hingga kini, masyarakat menilai bahwa tindaklanjut atau penanganan yang dilakukan oleh pemerintah khususnya Pemerintah Kota (Pemkot) Palu, belum terlihat.

Padahal sudah sangat jelas, bahwa pengoperasian salah satu tenaga pembangkit listrik di bagian utara Kota Palu itu, sangat berdampak negatif bagi kesehatan masyarakat sekitar lokasi pengoperasian mesin PLTU Panau.

“Jangankan warga Panau lainnya, saya sendiri saja sangat khawatir dengan kondisi yang ada saat ini. Bagaimana kita tidak khawatir. Dulu, sebelum adanya pengoperasian mesin PLTU di wilayah Panau, laut kita masih banyak hasilnya. Bahkan, warga Panau yang dulunya juga berpenghasilan rumput laut, sekarang tidak ada lagi. Karena limbah pengoperasian mesin PLTU saat ini, dibuang ke sungai yang tembus langsung ke laut,” jelasnya.

Bayangkan saja, cetusnya, sedangkan tumbuhan di sungai dan di laut yang dulunya merupakan hasil warga Panau, sekarang karena dibuangkan limbah fly ash PLTU, kondisinya tidak lagi seperti itu.

Seharusnya, paparnya, ini menjadi perhatian serius dari pemerintah khususnya Pemkot Palu. “Supaya tidak ada keresahan warga Panau dan saya sendiri atas dampak negatif dari pengoperasian mesin PLTU Panau. Tumbu-tumbuhan di sungai dan di laut seperti ikan saja mati, karena racun dari limbah pengoperasian PLTU, apalagi kita,” cetusnya.

Saat ini saja, sambungnya, banyak warga Panau yang sudah menderita penyakit karena dampak limbah debu yang setiap saat berterbangan di pemukiman warga.

“Jadi kami warga Panau mempertanyakan langkah atau sikap dari pemerintah khususnya Pemkot, yang sebelumnya menyatakan siap untuk menindaklanjuti tuntutan kami,” pungkasnya.

Dikonfirmasi sebelumnya, Pemkot Palu dalam hal ini Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu, Musliman mengatakan, terkait tuntutan warga Panau atas problem limbah pengoperasian PLTU Panau, sementara dilakukan proses analisa oleh pihak Untad Palu.

“Sebelumnya kan sudah di uji laboratorium ply ash. Jadi sekarang masih dianalisa kembali oleh pihak Untad Palu. Nanti kalau sudah ada hasilnya baru akan kami sosialisasikan ke masyarakat, terkait seperti apa penanganannya. Kalau memang berdampak negatif terhadap kesehatan masyarakat, mau tidak mau harus di tutup pengoperasian PLTU Panau tersebut,” tegasnya. (*)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.