Cerita Posko Relawan Rumah Jurnalis Kota Palu

Tak Ada Senior dan Junior, Tak Ada Media A Media B

- Periklanan -

DEMI membantu rekan seprofesi, para jurnalis yang tergabung dalam Relawan Posko Rumah Jurnalis menyalurkan sejumlah bantuan kepada jurnalis yang terpapar Covid-19 di Kota Palu. Bagaimana kisahnya?

SYAHRIL, Besusu Tengah

Sore itu, tepatnya tanggal 11 Agustus 2021. Radar Sulteng mendatangi sebuah rumah sederhana yang beralamat di Jalan Ahmad Yani, wilayah Kelurahan Besusu Tengah. Tepat di depan rumah, terpajang spanduk berukuruan kecil bertuliskan Posko Relawan Rumah Jurnalis.

Rumah itu hanya berdinding papan dan tripleks, dibagian timur telah disiapkan meja panjang dan beberapa kursi, yang biasa digunakan oleh rekan-rekan relawan Rumah Jurnalis sebagai tempat untuk berbagi informasi. Meski terbilang sederhana, akan tetapi dari rumah inilah cerita kepedulian terhadap rekan seprofesi itu mereka rintis.

Mulai dari bagaimana mendapatkan anggaran bantuan, mengindentifikasi rekan yang terpapar, apa-apa saja yang dibutuhkan oleh jurnalis yang terpapar Covid-19, hingga bagaimana mekanisme penyaluran bantuan.

Rangga Musabar, salah seorang relawan di Posko Rumah Jurnalis yang menceritakan kepada Radar Sulteng tentang awal mulanya mereka mulai tergerak, untuk membantu rekan sejawat yang terpapar Covid-19. Tepatnya, pada akhir Bulan Juli lalu, dimana virus Covid-19 ini mulai mengganas, rupanya juga telah berhasil menginveksi dua orang jurnalis di Kota Palu.

Mendapatkan informasi ada dua jurnalis yang terpapar, Posko rumah jurnalis kemudian mulai memasifkan pergerakannya. Setelah dua jurnalis tadi terkonfirmasi positif, dalam rentang waktu tiga hari kemudian, amukan virus asal Tiongkok ini kembali menginveksi beberapa jurnalis lainnya, total berjumlah sekitar 14 orang yang telah terpapar pada saat itu, dan langsung melakukan Isolasi Mandiri (Isoman).

“Poskonya mulai dari Covid-19 tahun lalu, cuman nanti ini baru bergerak karena banyak teman-teman terpaparkan,” kata dia.
Awal mulanya dana yang digunakan untuk memberikan bantuan adalah dana patungan dari rekan-rekan jurnalis, yang biasa ber wara-wiri di Sekretariat Bersama (Sekber) Rumah Jurnalis. Akan tetapi dana yang terkumpul pada saat itu masih terbilang sedikit, sehingga dari sinilah kemudian Rumah Jurnalis berinisiatif memboomingkan permohonan bantuan via Media Sosial (Medsos).

- Periklanan -

Gerakan sosial yang dikampenyekan lewat Medsos oleh Rumah Jurnalis itu selanjutnya memantik antusiasme warga, baik yang dari kalangan jurnalis itu sendiri maupun dari kalangan elit politik Sulteng untuk memberikan bantuan.

Uang, obat – obatan, sembako, oksigen, alat rapid antigen hingga perlengkapan bayi merupakan sederet bantuan yang telah disalurkan ke posko Rumah Jurnalis. “Awalnya bantuan hanya dari jurnalis, sekarang banyak bantuan dari luar,” ujarnya.
Lewat Medsos jugalah, komunikasi terus dibangun untuk saling berkoordinasi terkait kebutuhan para rekan jurnalis yang sedang melakukan Isoman dan mekanisme penyaluran bantuan. “Dari teman-teman jurnalis juga kalau ada waktu kosong bisa kita koordinasikan lewat grup whatsapp untuk bantu (menyalurkan),” ucapnya.

Rangga, pria berusia 29 tahun ini juga menambahkan, dibentuknya posko ini sebagai salah satu upaya untuk membantu rekan-rekan jurnalis agar cepat mendapat bantuan. Di dalam posko ini juga tak ada senior dan junior, tak ada media A media B dan lain-lain, karena semuanya menyingsingkan lengan baju, demi membantu sesama rekan seprofesi yang terpapar virus Covid-19.

Apalagi mengingat bantuan yang digelontorkan oleh pemerintah untuk penyintas Covid-19 di Kota Palu harus melewati banyak aturan-aturan. Sehingga hal itu menurutnya sedikit banyak dapat menghambat pemberian bantuan kepada para penyintas Covid-19.
“Dari (pengalaman) teman-teman yang kita bantu, banyak aturan-aturan yang harus ditempuh (untuk dapat bantuan), jadi inisiatifnya buka posko,” jelasnya.

Dari total 14 rekan jurnalis positif Covid-19, satu diantaranya bergejala berat dan terpaksa harus dilarikan ke Rumah Sakit terdekat. “Karena sesak, demamnya tinggi juga, kita larikan ke Rumah Sakit malam itu, saya sudah lupa tanggalnya. Alhamdulillah sekarang kondisinya sudah membaik,” sebutnya.

Bahkan, berita duka pun sempat meliputi dua orang rekan jurnalis yang keluarganya dikabarkan tutup usia. “Virus ini nyata,” tegas Rangga.

Olehnya, Rangga berharap agar semua rekan-rekan jurnalis di Kota Palu untuk tetap menerapkan protokol kesehatan saat sedang menjalankan tugas di lapangan. Sementara kabar baiknya, dari 14 rekan jurnalis yang terpapar itu beberapa orang diantaranya telah dinyatakan negatif dan bisa kembali beraktifitas seperti biasa.

Menurut Rangga, apalagi disituasi pandemi seperti saat ini, para kuli tinta ini harus berjumpa dengan banyak orang demi untuk mendapatkan dan menyampaikan informasi kepada khalayak. Sehingga mereka sadar betul dan berharap pandemi ini segera berakhir. “Semoga pandemi ini segera berakhirlah,” tutupnya. (**)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.