Cerita Pengungsi Terdampak Tsunami di Komodo, Penggaraman dan Kampung Nelayan

Lokasi Huntara Belum Jelas, Berharap Langsung Bangun Huntap Saja

- Periklanan -

DERETAN tenda-tenda pengungsi warna putih dan tenda warna biru-oranye berjejer lengkap dengan beberapa nomor ditempel rapi pada bagian depan tenda di halaman bagian barat Gedung Olahraga Bela Diri Madani Kelurahan Talise, Kecamatan Mantikulore Kota Palu.

RONY SANDHI, Palu

- Periklanan -

Selasa siang (14/1) beberapa anak-anak bersama beberapa ibu mereka asyik bermain di teras samping bagunan Gedung Olahraga Bela Diri Madani. Sesekali terlihat beberapa anak-anak menangis karena berebut mainan sesama anak-anak lainnya.
Mereka adalah sebagian dari korban terdampak gempa dan tsunami pada tanggal 28 September 2018 lalu yang sebelumnya bermukim di pesisir Pantai Teluk Palu, Jalan Komodo, kompleks penggaraman dan kampung nelayan. “Iya semua yang mengungsi di tenda-tenda ini yang rumahnya habis dihantam tsunami di Jalan Komodo, Penggaraman dan Kampung Nelayan,” kata Asnani (29) kepada Radar Sulteng.
Sudah lebih dari tiga bulan pasca bencana gempa September lalu, Asnani bersama warga pengungsi lainnya menempati lokasi pengungsian di tenda-tenda, baik yang dibangun secara mandiri pengungsi, maupun tenda bantuan dari para relawan.
Menurut ibu dua anak yang satu anak kembarnya meninggal saat tsunami, warga di tenda-tenda pengungsian sampai saat ini belum mendapatkan informasi kemana mereka akan dipindahkan jika nanti proses pembangunan hunian sementara (Huntara) rampung. Bahkan mereka pernah mendapatkan informasi bahwa pengungsi di kompleks halaman Gedung Olahraga Bela Diri Madani akan relokasi ke Huntara Jalan Dayo Dara. Bahkan beberapa pengungsi sudah mencek di lokasi Huntara yang hingga saat ini sedang dalam pembangunan. “Sudah ada yangpergi lihat, ukurannya memang kecil per petak. Tapi belum jelas apakah kami yang disini juga akan direlokasi di Huntara Dayo Dara,” ujarnya sembari membujuk anaknya yang menangis meminta susu.
Senada dengan itu, Koordinator posko pengungsian Gedung Olah Raga Bela Diri Madani, I Gusti Moh Rifai (46) mengungkapkan, jumlah pengungsi di halaman gedung Madani saat in bertambah 71 Kepala Keluarga (KK), atau hampir 260 jiwa dari data sebelumnya masih sekitar 60 KK.
Bapak empat anak yang bekerja sebagai buruh tambang di Poboya ini mengaku, selama di pengungsian bantuan yang paling rutin adalah bantuan pelayanan kesehatan. Petugas kesehatan dari Puskesmas Talise rutin datang ke posko pengungsian untuk memeriksa kesehatan para pengungsi. “Petugas Puskesmas rutin datang ke posko, pagi, sore dan malam. Setiap memeriksa kesehatan ada tiga orang petugas kesehatannya,” ujarnya.
Untuk pasokan air bersih kata Gusti, beberapa bulan terakhir pasokan air dari pemerintah tidak ada lagi. Sebelumnya pernah ditanyakan ke Pemkot Palu, soal pasokan air bersih ke pengungsian, jawabannya mereka kekurangan armada pemasok air bersih. Saat ini pasokan dua kali sehari diantar pagi dan sore oleh relawan dari Wahana Visi Indonesia. Itupun belum cukup dan terpaksa para pengungsi harus mengirit pemakaian. “Sekarang ini di pengungsian tidak ada dapur umum. Jadi masing-masing tenda menyiapkan tempat masaknya,” imbuhnya.
Janji pemerintah pusat melalui Wapres Jusuf Kalla akan mengupayakan pembangunan Huntara rampung pada bulan Desember 2018 lalu. Namun faktanya, Huntara belum seluruhnya rampung dibangun. Selain menjadi tanda tanya warga penyintas terdampak bencana gempa bumi 28 September 2018 lalu, belum mendapat kepastian dimana saja lokasi Huntara yang nantinya akan mereka tempati.
Ditanya soal lokasi Huntara, Gusti mengaku, hingga saat ini mereka belum mendapatkan informasi di lokasi Huntara mana akan ditempatkan. Hanya saja pernah beredar informasi kemungkinan mereka akan direlokasi di Huntara yang ada di Jalan Dayo Dara. Dari pihak pemerintah Kelurahan Talise juga belum ada penyampaian penempatan pengungsi di gedung bela diri Madani direlokasi ke Huntara mana. “Saya sudah lihat Huntara yang dibangun di Dayo Dara, tapi belum tahu apa kami juga akan ditempatkan disana atau tidak. Soalnya belum ada informasi dari pihak kelurahan,” ujarnya.
Menurutnya, jika bisa memilih sebaiknya pemerintah sekali saja bekerja, langsung membuatkan Hunian Tetap (Huntap) daripada harus memindahkan lagi nanti pengungsi dari tenda ke Huntara. Nanti juga beberapa tahun berikutnya akan dipindahkan ke Huntap. Jadinya berapa kali dipindahkan, itupun kalau lokasinya sama di Huntara itu juga yang akan dijadikan Huntap. “Yah..kalau belum jelas Huntara, kami pengungsi disini memilih bertahan di halaman gedung bela diri Madani, sampai nasib tempat kami jelas mau dipindahkan ke Huntara atau tidak,” ujarnya.

BANTUAN MULAI TAK RUTIN

Dua zak semen terlihat tersusun rapi di depan tenda pengungsian milik I Gusti Moh Rifai (46) koordinator posko pengungsian di halaman Gedung Olahraga Bela Diri Madani, Kelurahan Talise, Kecamatan Mantikulore.
Semen-semen itu akan digunakan jika ada permintaan memperbaiki rumah warga. Berbagai pekerjaan, mulai dari buruh bangunan, memulung sampai mengolah kembali penggaraman yang tersapu tsunami menjadi pekerjaan warga pengungsian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Warga pengungsian di GOR Bela Diri Madani pasca tsunami banyak yang kehilangan pekerjaan, seperti pekerjaan berdagang di pesisir pantai Jalan Komodo, Penggamaran dan Kampung Nelayan. “Kerja apa saja yang penting halal,” katanya.
Menurut Gusti, beberapa bulan terakhir bantuan baik dari pemerintah dan relawan tidak lagi rutin seperti sebulan pasca gempa. Dulu bantuan setiap tiga hari masuk di Posko, misalnya beras 5 kilo gram beras yang bisa untuk bertahan empat sampai lima hari per keluarga. Saat ini bantuan sudah kurang jelas. Sebelumnya memang relawan ramai membantu dan hal itu juga tidak bisa terus berharap dibantu relawan. Apalagi kata Gusti, di Selat Sunda juga terkena tsunami dan beberapa daerah kena angin putting beliung dan longsor. Otomatis perhatian pemerintah, relawan ke wilayah yang baru terkena bencana. “Saya sampaikan ke warga di Posko pengungsian. Untuk bisa berusaha cari pekerjaan, walaupun serabutan. Asal bisa menghasilkan. Ini mengantisipasi kalau bantuan tidak lagi datang ke posko,” ungkapnya.
Masih menurut Gusti, dia dan sesama pengungsi di lokasi GOR Bela Diri Madani berharap masih diperkenankan menggunakan lahan GOR Madani untuk lokasi pengungsian. Kekhawatiran jika sewaktu-waktu mereka dipindahkan tentu ada alasannya, karena hingga saat ini kejelasan kapan dan dimana nanti mereka akan relokasi ke Hunian Sementara (Huntara) belum jelas. “Karena dari pemerintah juga belum ada menyampaikan, kami yang ada disini nanti mau direlokasi ke Huntara mana,” ungkapnya.
Menurut Gusti, dari beberapa informasi yang diterimanya pembagunan Huntara di Dayo Dara akan dihuni warga pengungsi sebagian dari pengungsi dari Petobo dan beberapa tempat lainnya, termasuk yang ada pengungsi yang ada di kelurahan Talise dan Talise Valangguni. “Sekarang kami bingung tenda-tenda sudah mau bocor karena sudah lewat beberapa bulan. Tidak tahu nanti mau minta dimana tenda terpal, karena sekarang massa tanggap darurat sudah selesai. Belum lagi Huntara belum jelas,” katanya.
Sementara pantauan Radar Sulteng di lokasi pembangunan Huntara Jalan Dayo Dara Kelurahan Talise Valangguni, Rabu siang (16/1) masih dalam pembangunan. Sebagian Huntara yang bagian selatan sudah rampung siap huni, sementara huntara di bagian selatan masih terlihat proses pemasangan atap.
Pelaksana proyek pembangunan Huntara Dayo Dara yang ditemui Radar Sulteng di lokasi Huntara, Helmi Umar mengatakan, pembangunan Huntara Dayo Dara merupakan bantuan dari Yayasan Rumah Zakat. Proses pembangunannya dimulai sejak akhir November 2018. “Ada 10 blok Huntara yang dibangun. Per blok ada 10 petak jadi keseluruhan ada 100 petak atau 100 ruangan,” jelasnya.
Untuk per petak Huntara, kata Helmi berukuran 3×5 meter dan disiapkan 10 toilet, instalasi listrik. Semua bahan bangunan Huntara menggunakan bahan ramah gempa, dari bahan baja ringan dan dinding bahan kalsiboard. Direncanakan untuk 50 blok Huntara pada tanggal 22 Desember 2018 mendatang dari pihak Rumah Zakat akan menyerahkan ke Pemerintah Kota Palu. “Kami terus genjot pembangun bisa secepatnya, agar masyarakat yang terdampak bisa cepat menempati Huntara ini,” ujarnya.
Kalau soal penempatan warga di Huntara ini, lanjut Helmi, menjadi kewenangan dari Pemkot Palu. Pihaknya bersama Rumah Zakat hanya membangun saja, kemudian akan menyerahkan ke Pemkot Palu. “Tentu Pemkot sudah punya data-data siapa-siapa saja yang akan menempati Huntara ini. Kami Cuma membuat dan menyerahkan ke pemerintah Kota Palu,” pungkasnya.
Sementara Lurah Talise, Sarlin. SE yang dihubungi via ponselnya mengatakan, untuk di wilayah Kelurahan Talise tidak ada lokasi pembangunan Huntara. Sementara untuk lokasi pengungsian ada empat titik yakni, di lapangan golf, gedung bela diri silat, di hutan kota dan belakang eks STQ. “Jumlah pengungsi di Kelurahan Talise tercatat 207 Kepala Keluarga atau sekitar 694 jiwa. Untuk lokasi Huntara untuk warga pengungsi di Kelurahan Talise belum ada informasi,” jelas Lurah Salin via pesan ponselnya. **

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.