Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Cerita Pedagang saat Pasar Masomba Terbakar

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Kondisi Pasar Masomba pascamusibah kebakaran kemarin (9/8). Tidak ada yang bisa diselamatkan karena dindingnya habis dilahap si jago merah. (Foto: Safrudin)

MUSIBAH kebakaran yang melanda Pasar Masomba Selasa malam (8/8) menghadirkan cerita pilu bagi pedagang yang lapaknya terbakar. Namun ada pula pedagang yang memanjatkan syukur karena lapaknya bisa selamat dari kobaran api malam itu.

Kondisi Pasar Masomba khususnya los yang disediakan untuk berjualan rempah-rempah dan barang campuran, serta sebagian pedagang pakaian dan juga los untuk berjualan ikan, kemarin siang (9/8), menggambarkan dahsyatnya kobaran api yang melahap tempat ratusan pedagang itu untuk mengais rezeki.

Terletak di tengah-tengah pasar, hanya puing-puing bangunan yang tersisa. Tampak juga beling piring kaca yang masih berserakan di sana sini. Membuat warga yang berjalan mesti berhati-hati jika tidak ingin tajamnya beling menembus alas kaki yang digunakan.

Di sisi lain terlihat, masih berbekas rempah-rempah berupa cabai, tomat yang hangus akibat amukan si jago merah.

“Tadi mereka (pihak Disperindag) bilang, semuanya ini mau diratakan ulang karena sama sekali sudah tidak bisa diselamatkan,” kata Heri, salah satu pedagang yang mengaku tinggal di Biromaru, mengungkapkan pernyataan pihak Disperindag Kota Palu saat memantau lokasi kebakaran, Rabu (9/8).

Heri sendiri merupakan pedagang rempah-rempah kebutuhan rumah tangga. Nahas, lapak miliknya tidak ada yang bisa diselamatkan satu pun. Heri yang saat ini istrinya sedang mengandung dan memasuki bulan ke 9, tidak menyangka peristiwa malam itu akan terjadi kejadian yang menghabiskan seluruh dagangannya yang berada di lapak. Padahal kata dia, suasana hari itu sebelum kejadian, sama sekali tidak ada tanda-tanda.

“Tidak ada ditahu mau begini. Saya dari Biromaru, ditelepon teman, pas sampai sini sudah tidak ada yang bisa diselamatkan,” katanya.

Kejadian kebakaran yang menghanguskan pasar Masomba itu, benar-benar membuat kesedihan yang mendalam bagi pedagang yang lapaknya tak dapat diselamatkan. Di sisi lain pedagang yang tak menyangka lapaknya bisa terselamatkan, tak habis-habisnya mengucap syukur.

Salah satunya, Dedi, pedagang ikan yang merupakan warga Jalan Mangga, Kecamatan Palu Barat.

Dia menceritakan, saat mendengar kejadian kebakaran malam itu, dia langsung sesegera mungkin ke Pasar Masomba yang letaknya cukup jauh dari kediamannya di Jalan Mangga. Jarak tak jadi soal, itu yang ada dibenaknya, asalkan ada ikan atau boks-boks tempat ikan yang bisa diselamatkan.

Dia mengatakan, penjual ikan di Pasar Masomba tidak ada yang memulangkan ikan yang dijual. Seluruhnya disimpan dalam boks dan tempat aman lainnya dengan terkunci di dalam pasar.

“Saya cepat-cepat ke pasar pas dengar info pasar terbakar,” kata Dedi.

Sesampai di pasar, Dedi mengaku harapannya pupus, karena tampak dari kejauhan letak lapaknya sudah dikepung si jago merah yang makin membara. Tak ada harapan yang tersisa menurutnya, karena mustahil dengan melihat langsung kondisi malam itu.

“Tapi pas sudah selesai semua dipadamkan apinya, saya tetap mau lihat tempatku. Saya kaget karena tempat yang pas di sampingku, habis semua barangnya terbakar, di belakang tempatku juga habis semua, kayu-kayu di atas tempatku juga sudah terbakar. Tapi cuma ujung gabus tempat ikanku ini yang terbakar leh. Alhamdulillah ikanku tidak ada yang terbakar, tempatku juga tidak apa-apa,” ucapnya bersyukur.

Selain pilu pedagang yang lapaknya terbakar, dan syukur pedagang yang lapaknya selamat, pascakebakaran, pasar tetap ramai dikunjungi warga. Selain yang tetap melaksanakan jual beli, besi-besi dan paku pascakebakaran juga menjadi peluang yang dimanfaatkan beberapa warga dari anak-anak hingga orang dewasa untuk dikumpulkan dan dijual ke pembeli besi tua yang sudah memasang gerobaknya di lokasi pasar. (**)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.