Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Celebes Film, Rumah Produksi yang Tembus Layar Lebar

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Sejumlah crew dan pemain film Air Mata Aisyah berfoto bersama di tengah proses syuting film. (Foto: Ist)

Sineas lokal Kota Palu kini patut diperhitungkan. Meski dengan peralatan seadanya, sekumpulan anak muda yang tergabung dalam Celebes Film, mampu membuat film yang kini berhasil tembus di layar lebar. Film dengan judul Air Mata Aisyah ini sendiri, dalam waktu dekat segera diputar di bioskop XXI Palu Grand Mall.

Laporan: Kartika Kumala Sari, Lasoani

JIKA menyebut Studio Film, pasti terlintas di pikiran sebuah gedung besar layaknya perusahaan produksi film Hollywood. Namun tidak demikian dengan studio milik Celebes Film. Sepintas dari luar, bangunan berdinding papan, yang terletak di Jalan Tekukur, Kelurahan Lasoani, Kota Palu ini, mirip sebuah warung atau kios.

“Ini memang dulu kios, kami sulap jadi Studio untuk mengedit dan rapat-rapat kecil di sini,” sebut Nur Afni Eka Muslim, produser yang merangkap sutradara dalam film Air Mata Aisyah.

Dari tempat ini lah, sejumlah ide alur cerita Air Mata Aisyah terlahir. Afni mengaku, film garapannya ini sendiri, sepenuhnya dikerjakan oleh anak-anak Kota Palu yang tergabung dalam Celebes Film. Dahulu, Celebes Film sendiri merupakan komunitas anak-anak muda yang memang tertarik di bidang perfilman maupun broadcasting. “Tadinya kita kumpul beberapa teman untuk sharing ilmu tentang pembuatan film, daripada teman-teman ini tidak ada kegiatan, malah minum-minum atau narkoba, jadi saya ajak, dan ini jadi wadah untuk mereka berkreasi pada akhirnya,” tuturnya.

Air Mata Aisyah sendiri, merupakan film keempat produksi dari Celebes Film. Sebelumnya, rumah produksi yang telah berbadan hukum, menjadi PT Celebes Film ini, memproduksi film berjudul Mendung di Langit Poso, Penghuni Nokilalaki serta Misteri Gadis Uwentira. Namun ketiga film tersebut hanya di putar di tempat-tempat tertentu dan tidak dikomersilkan. Baru lah film Air Mata Aisyah yang berhasil tembus hingga ke bioskop yang ada di Kota Palu.

Produksi Air Mata Aisyah sendiri, kata dia tidak lah mudah. Di tengah keterbatasan peralatan, dia bersama rekan-rekannya terpaksa harus menyewa sejumlah kamera untuk proses shoting selama sebulan. Untuk pendanaan pun, Afni terpaksa harus mengeluarkan kocek sendiri. Dia sempat mencoba meminta bantuan ke sejumlah pihak. Namun bukan hanya penolakan yang diterima, tapi juga cibiran bahwa rumah produksi mereka belum terkenal sehingga tidak berani membantu. “Yah terpaksa kita kumpulkan uang sendiri, beberapa kali barang milik pribadi saya jual. Keluarga juga ikut membantu. Susah kita (Celebes Film) dibantu katanya belum ada nama (terkenal),” ungkapnya.

Bukannya patah semangat, Afni dan rekan-rekannya menjadi termotivasi untuk terus menyelesaikan produksi film, meski tanpa dukungan dari donatur. Akhirnya film ini rampung dan dirinya kepikiran untuk mencoba memasukan film ini ke XXI Palu Grand Mall (PGM).

Gayung bersambut, pihak bioskop memberikan sinyal film mereka bakal diterima. Tapi dengan syarat, film tersebut memiliki izin usaha dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Pusat. Izin ini pun, diurus sendiri oleh Afni di Jakarta. Izin pun dikantongi, mereka juga harus mengeluarkan kocek sendiri mengurus izin agar bisa merambah ke bioskop. “Tapi tidak begitu saja, kami harus dimasukan ke list dahulu dan menunggu selama satu tahun, sampai film ini benar-benar bisa diputar di bioskop di Kota Palu,” tuturnya.

Kini film tersebut tinggal menunggu jadwal tayang pada 22 Februari 2017 di XXI PGM. Jika film ini bisa bertahan selama seminggu dengan peminat yang banyak, bukan tidak mungkin film ini bakal diputar juga di sejumlah bioskop yang ada di luar Sulawesi Tengah. Untuk itu, Afni meminta dukungan seluruh warga Kota Palu, beramai-ramai menonton film, yang juga mengenalkan potensi wisata di Kota Palu, seperti Pantai Talise.

Film yang ber-genre keluarga ini menceritakan kisah seorang anak bernama Aisyah siswa kelas 6 SD yang memiliki ibu dan adik, yang ayahnya telah meninggal dan hidup dalam kekurangan. Karakter Aisyah yang kuat, membuat Aisyah selalu menutupi kesedihan saat berada di depan ibunya, “Di saat Aisyah berangkat ke sekolah, ibunya dikabarkan meninggal sehingga tinggal lah Aisyah sebatang kara bersama adiknya. Hingga dia menemukan sebuah surat, jadi isi surat itu yang mungkin nanti masyarakat nonton, di situ mereka tahu siapa Aisyah sebenarnya,” tutup Nur Afni, sembari menyebut bahwa film mereka ini pun sudah dinayatakan lulus sensor sehingga aman untuk dinonton semua umur. (**)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.