Camat : Saya Tidak Berani Lihat, Memang Mengerikan

Desa Poi Kembali Dilanda Banjir Bandang

- Periklanan -

SIGI – Camat Dolo Selatan, Jalil mengakui, tidak berani bila melihat kondisi gunung di desa Poi yang longsor hingga puluhan hektar dan sudah mengakibatkan banjir bandang membawa material batu besar, lumpur dan pasir. Jika seluruh material itu turun, menurut Jalil seluruh desa Poi bisa terdampak. “Di atas (Gunung, red) sudah mengkhawatirkan sekali, saya sendiri tidak berani lihat, mengerikan. Poi ini sudah ditetapkan zona merah memang,” kata Jalil kepada Radar Sulteng dihubungi Radar Sulteng, Sabtu (16/5) malam.
Banjir bandang pada Jumat (15/5) sekitar pukul 22.00 wita ini berdampak di dua dusun, yakni dusun II dan III, dua rumah hilang, 15 rumah tertimbun material lumpur. Sebanyak 45 KK masing-masing dusun III 27 KK, dusun dua 18 KK secara keseluruhan 84 jiwa mengungsi. Dari 84 jiwa ini terdapat lansia 7, balita 10, dan bayi 1. “Bayi ini baru berusia 7 hari,” terang Jalil.
Desa Poi terakhir dilanda banjir bandang pada 8 Desember 2019 lalu. Diperkirakan saat itu ratusan kubik material menimbun 13 rumah warga, jumlah material yang mengancam desa Poi diperkirahkan 9 juta kubik.
“Sedimen yang di atas itu yang turun masih sedikit, ini belum apa-apa baru sekian persen, lebih besar sedikit ini daripada Desember 2019, karena material yang di bawa menimbun perkebunan warga sekitar 20 hektar, yang ditakuti ini kalau turun lagi satu kampung habis,” jelas Jalil.
Jalil menceritakan, beberapa hari terakhir memang Poi dilanda hujan deras, yang membuat beberapa desa lain tergenang, pada akhirnya puncaknya melanda desa Poi Jumat malam. Awalnya masyarakat mendengar suara gemuruh, sehingga mereka mengantisipasi dengan mempersiapkan diri untuk meninggalkan rumah, sehingga tidak ada korban jiwa. “Dua rumah hilang dusun II ini memang tepat di mulut banjir dan jalurnya air, rumah permanen , saat itu ada penghuninya tetapi cepat-cepat keluar, rumah lain rusak berat,” sebutnya.
Barang milik warga ada yang masih terselamatkan, namun ada juga yang sudah terbawa banjir terutama warga yang rumahnya hilang. Olehnya itu kata Jalil, para pengungsi sekarang jelas sangat membutuhkan pakain, bahan pokok dan juga makana. Apalagi di bulan puasa ini, kemudian ditambah lagi ketakutan adanya virus korona, masyarakat juga berhati-hati. “Dampaknya memang luar biasa bagi masyarakat,” singkatnya.
Jalil menjelaskan, warganya di desa Poi ini memang direncanakan direlokasi ke Hunian Tetap yang berada di dusun I dan dipastikan tidak akan dijangkau material jika banjir bandang datang sewaktu-waktu. Sedangkan pengungsi untuk sementara waktu masih bertahan di Hunian Sementara (Huntara) di dusun tiga. “Lokasinya jauh dari jangkaun material lumpur,” jelasnya.
Kondisi jalan yang sudah tertutup sejak Jumat malam, baru bisa terbuka dan dilalui kendaraan sekitar pukul 17.00 wita, Sabtu (16/5).
Kaur Pemerintahan Desa Poi, Andris menambahkan, info dari BNPB luasan dari longsor di gunung yaitu 64 hektar, sedangkan luas desa Poi sendiri 66 hektar. Sehingga luas longsor di gunung hampir sama dengan luas dari desa Poi. Banjir jumat malam itu kata Andris membuat dua rumah hilang. Salah satu rumah yang hilang terdapat lansia yang sudah tidak mampu berjalan normal.
“Hanya pakai tongkat, untung semalam ada anaknya yang datang jemput cepat-cepat,” ungkap Andris.
(acm)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.